[126] Bertahan dengan Model Salafiah PDF Print E-mail
Monday, 19 May 2014 23:10

Pondok Pesantren Ashhabul Yamin, Nagari Lasi, Kabupaten Agam, Sumatera Barat

Sejuk dan tenang. Itulah suasana yang terasa di saat memasuki kawasan Pondok Pesantren Ashhabul Yamin yang berada sebelah utara lereng Gunung Marapi, tepatnya di Nagari Lasi, Kecamatan Candung, Kabupaten Agam.

Ashhabul Yamin berdiri pada 1992 atas dasar swadaya masyarakat, dipelopori oleh Buya H Zamzami Yunus yang sekaligus merupakan pimpinan ponpes sejak awal berdirinya hingga saat ini.

Berdirinya pesantren ini beranjak dari keprihatinan salah seorang tokoh masyarakat Lasi Tuo Malin Daro melihat putra-putri masyarakat Lasi hanya mampu menamatkan pendidikan dasar.

Dengan keberadaan sarana pendidikan yng serba minim, menyebabkan mereka sulit untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi lagi. Jika mempunyai dana cukup dan kemauan keras, mereka harus sekolah ke luar daerah yang membutuhkan biaya cukup besar.

Malin Daro menyampaikan pemikirannya kepada Buya H Zamzami Yunus, seorang ulama yang juga salah seorang tokoh pendidikan dan pernah mengajar di beberapa pondok pesantren di Sumbar.

Usulan tersebut berupa kesediaan Malin Daro mewakafkan tanahnya yang terletak di jantung Dusun Lasi Tuo, untuk dijadikan sebuah lembaga pendidikan agama bagi masyarakat Lasi. Atas dukungan penuh dari masyarakat, maka berdirilah pesantren ini di atas tanah wakaf seluas setengah hektar.

Penerimaan perdana santri baru dilaksanakan pada 2 Agustus 1992. Murid pertamanya sekitar 19 orang. Sedangkan yang membantu Buya Zamzami mengajar saat itu adalah Ustadz Marzuk Malin Kayo; Ustadz Syafrizal Khatib Mangkuto; Ustadz Ahmad Dardir Pakiah Bandaro dan seorang tenaga tata usaha asal Palembayan, Ernawati (Almh).

Awalnya proses belajar mengajar dilakukan di gedung rumah dinas guru yang sudah tidak terpakai, yang terdiri atas ruangan kecil dengan penyekat semi permanen. Kondisi pembelajaran yang demikian menjadi momentum bersejarah bagi perkembangan pesantren ke depannya. Saat ini jumlah santri mencapai 278 orang dengan ruangan kelas sebanyak 10 lokal.

Model Salafiah

Satu ciri khas yang sekaligus menjadi ikon dari ponpes Ashhabul Yamin adalah sistem pendidikan yang masih mempertahankan sistem pendidikan salafiah atau halaqah.

Artinya, kurikulum yang dipakai hanya terbatas pada kurikulum pondok dengan mempelajari beberapa ilmu seperti nahwu, sharaf, fiqih, tafsir, hadist, tauhid, tasawuf dan lain-lain. Tak  aneh jika Ashhabul Yamin tetap mempertahankan gaya pendidikan tersebut karena ponpes ini mempunyai visi terciptanya ulama yang mampu menghadapi tantangan zaman. Sebuah visi yang akan melahirkan kader-kader waratsatul anbiya (pewaris para nabi).

Dengan keterbatasan yang ada, santri Ashhabul Yamin mampu menorehkan prestasi baik di tingkat daerah maupun di tingkat nasional. Salah satu prestasi yang pernah diraih adalah juara umum lomba MQK (Musabaqah Qiraatil Kutub) tahun 2008 tingkat provinsi dan Juara I pencipta puisi terbaik tingkat nasional tahun 2007 yang dilaksanakan di Samarinda.

Sesuai niat untuk mendidik warga, Ashabul Yamin pun menyelenggarakan pendidikan formal madrasah tsanawiyah dan madrasah aliyah yang mengombinasikan kurikulum pesantren dengan kementerian agama.

Pesantren ini tidak memosisikan diri sebagai lembaga pendidikan yang ekslusif, tetapi mengarahkan agar warga ponpes berbaur dengan masyarakat sekitar dan memberikan kontribusinya di tengah-tengah masyarakat. Sehingga masyarakat sekitar merasakan manfaat dari keberadaan ponpes ini.

Beberapa aktivitas sosial yang dilakukan oleh para santri adalah dakwah kepada masyarakat, penyelenggaraan jenazah, pengutusan para santri satu kali sebulan sebagai khatib Jumat dan roadshow tiap Ramadhan ke luar daerah.

Tugas Mulia

Di tengah arus sekulerisme yang menghantam seluruh sendi kehidupan, Ashabul Yamin menegaskan, menuntut ilmu di pesantren bukanlah tiket untuk mencari nafkah. Karena pesantren bertugas mencetak dai—penyeru manusia agar tunduk dan taat pada aturan Allah SWT. “Dai adalah tugas yang sangat mulia dan merupakan pekerjaan pokok para nabi dan rasul,” tegas Buya Zamzami.

Maka harus tersemat di dalam hati sanubari setiap santri rasa kepercayaan diri untuk menjadi generasi tonggak estafet perjuangan Rasulullah dan para salafus salih.

Sebagai bekal bagi para santri ketika akan terjun ke masyarakat, Ashhabul Yamin memberikan training mengajar kepada para santri dan juga berbagai ketrampilan lainnya sehingga para santri tidak merasa canggung ketika berada di tengah-tengah masyarakat.

Para alumni Ashhabul Yamin menggeluti berbagai macam bidang yang sebagian besar terjun sebagai seorang mubaligh. Setelah menyelesaikan pendidikan di ponpes banyak dari para santri yang melanjutkan kuliah di dalam negeri bahkan ada yang melanjutkan kuliah ke luar negeri seperti di Mesir dan Yaman.

Di samping itu, Ashhabul Yamin memberikan kesempatan kepada para alumni yang ingin mengabdi di ponpes sebagai guru. Jadi, bukan suatu hal yang aneh jika mayoritas guru adalah alumni ponpes ini.[]abu hamzah-abu fatih/joy

BOKS

Buya H Zamzami Yunus, Pimpinan Ponpes Ashabul Yamin

Islam Harus Jadi Asas Bernegara

Kerusakan yang terjadi pada saat ini, disebabkan tidak adanya kehidupan Islam di tengah-tengah masyarakat. Makanya Buya Zamzami menginginkan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang islami.

“Kita menginginkan masyarakat kita menjadi masyarakat islami yang bertindak sesuai syariah Islam,” ungkap alumnus Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung dan kuliah syariah Malalo Solok.

Menurut lelaki kelahiran Lasi, 8 Agustus 1947, Ashhabul Yamin menginginkan Islam menjadi budaya bagi masyarakat dalam setiap sendi kehidupan. “(Oleh karena itu) kita menginginkan Islam menjadi asas dalam bernegara, itu tidak bisa ditawar-tawar,” pungkasnya menutup pembicaraan dengan Media Umat.[] abu hamzah-abu fatih/joy

 

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved