[127] Pesantren Dhuafa yang Bersahaja PDF Print E-mail
Thursday, 22 May 2014 13:50

Pondok Pesantren Subul el Salam, Jayanti, Kabupaten Tangerang, Banten

Beberapa anak  tampak penuh semangat bergotong royong membantu tukang mengangkat batako untuk membangun mushala, Kamis (17/4) di Ponpes Subul el Salam, Kampung Parung Cieuri, Desa Cikande, Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tangerang, Banten.

Anak-anak itu merupakan santri Subul el Salam, asuhan KH Ahmad Djauhari. Mereka sengaja diperbantukan dalam membangun mushala tersebut untuk menumbuhkan rasa kepedulian dan memiliki pesantren tersebut.

Ponpes ini didirikan pada 2007 oleh KH Ahmad Djauhari beserta dewan pengurus Yayasan Subulus Salam. Lembaga ini, awalnya bukan pesantren tetapi pendidikan biasa. Lembaga ini didirikan karena keprihatinan melihat ada anak-anak yang tidak bersekolah karena faktor ekonomi.

Saat itu, ada delapan anak yang mau meneruskan sekolah ke SMP tetapi tidak punya biaya. Bermula  di depan rumah dekat majelis taklim, mereka kemudian memulai proses sekolah tersebut. Ustadz Zalman adalah salah seorang yang diajak Kyai Djauhari  untuk merintis lembaga ini. Ia memberikan dukungan  dengan menyediakan buku-buku pelajaran yang dibutuhkan sekolah.

Sebagaimana lembaga pendidikan lainnya, pada awal pelaksanaannya tidak bisa melaksanakan ujian nasional sendiri. Karenanya, UN menginduk ke sekolah lain yang terdekat. Akhirnya, pada tahun 1995 didirikanlah Yayasan Subul el Salam dengan dewan pengurusnya adalah KH Jauhari, Ustadz Zalman dan Ustadz Lathif.

Dalam prosesnya, ada kendala status yang kemudian atas bantuan dari Departemen Pendidikan terjadi perubahan status dari SMP menjadi MTs. Sejak 2007, siswa siswi MTs pun mondok dan menjadi santri Ponpes Subul el Salam.

Dukungan warga terhadap keberadaan Subul el Salam salah satunya diwujudkan dengan kerelaan mereka mewakafkan tanahnya untuk lembaga ini. Pada tahun 1995 mendapatkan tanah wakaf seluas 1.110 meter persegi. Pada tahun 2011, H Rahmat mewakafkan tanahnya seluas 1.175 meter persegi.

Tahun 2013, mendapatkan tanah wakaf kembali seluas 800 meter persegi. Sekarang, di atas tanah wakaf tersebut telah berdiri bangunan tiga ruang kelas, dua ruang asrama santri yang masing-masing mampu menampung 30 orang dan 20 orang santri dan kantor.

Direncanakan pula untuk membangun asrama guru (asatidz), penambahan ruang kelas dan laboratorium. Saat ini yang sedang berjalan adalah pembanguan musholla santri berukuran 7 x 7 meter.

Karena keterbatasan daya tampung asrama yang ada, jumlah santri yang diterima saat ini baru 42 orang. Mayoritas santri adalah anak yatim dan anak dari keluarga tidak mampu (dhuafa). Mereka belajar dan tidak dipungut biaya kecuali biaya per semester dan UAN. Sementara untuk kebutuha sehari-hari para santri berasal dari para donatur tidak tetap.

Para santri ditangani oleh para guru (asatidz) dan bersifat relawan. Secara operasional, sangat tergantung dari BOS yang keluar tiap 3 bulan sekali. Honor tertinggi di PP Subul el Salam adalah Rp 400.000/bulan.

Sebagaimana lembaga pendidikan atau pesantren lain, ponpes ini juga memiliki program unggulan meski dalam keterbatasan, yaitu penggunaan bahasa Inggris dan bahasa Arab. Selain itu, ada program tahfidzul Qur’an. Para santri dilatih juga untuk mengisi pengajian-pengajian yang sepadan sesuai dengan kemampuan santri.

Meski dalam keterbatasan, beberapa prestasi pun telah diraih seperti juara 1 Tahfidzul Qur’an tingkat kecamatan. Kiprah di tengah-tengah masyarakat pun juga tidak tertinggal khususnya dalam kegiatan-kegiatan keagamaan.[]mawan/joy

BOKS

KH Ahmad Djauhari, Pimpinan Ponpes Subul el Salam

Khilafah Pasti Tegak karena Janji Alah

KH Ahmad Djauhari dengan tegas menyatakan demokrasi adalah sistem pemerintahan yang kufur, haram diterapkan karena merupakan produk orang-orang kafir dan bertentangan dengan aturan dalam Alquran.

“Karenanya kita tidak boleh tinggal diam. Kita harus berjuang untuk tegaknya syariah dan khilafah. Insya Allah, syariah dan khilafah pasti tegak karena merupakan janji Allah,” ungkap alumnus KMI Gontor Ponorogo (1964) dan IAIN Syarif Hidayatullah (1967) tersebut.

Lelaki kelahiran Gintung, Tangerang, 3 April 1944 tersebut berpengalaman berkiprah dalam berbagai organisasi seperti HMI, IMM, HSBI. Ia pun pernah aktif di Parpol PPP pada 1980-an. Di organisasi sosial pun ia membantu merintis pendidikan Dar el Qolam Tangerang, Al Irsyad Cikande; Al Muawanah (1974) di Jakarta, merintis Ponpes Daar el Maghfiroh (1980) di Ciputat.

Bertemu dengan Hizbut Tahrir pada 2011. “Meski saya paling tua di podium ini tapi di Hizbut Tahrir saya paling muda, kurang lebih baru satu tahun saya mengenal Hizbut Tahrir, tapi baru empat bulan saya ‘sekolah’ di HT. Kelasnya baru kelas satu, kitabnya juga kitab satu tapi belum tamat,” ungkapnya di hadapan sekitar 7.000 ulama, Selasa (25/9) malam di lapangan selatan Monas, Jakarta.

Setelah mengikuti pembinaan HTI Tangerang hingga kini, kyai yang dikarunia tujuh anak dari pernikahannya dengan Hj Yeti Hayati tersebut, menyatakan kepada Media Umat tentang pengalamannya mengikuti berbagai pergerakan (harakah).

“Saya telah banyak masuk harakah tapi tidak ada yang sungguh-sungguh dalam perjuangannya untuk syariat Islam kecuali Hizbut Tahrir. Karenanya, aktif di Hizbut Tahrir akibat penilaian yang sesuai dengan hati sanubari,” tegasnya.

Ia pun berpesan kepada para pejuang khilafah. “Maka jangan sampai putus asa walaupun banyak penentang di antara para ustadz. (Tetaplah berjuang bersama Hizbut Tahrir karena) Hizbut Tahrir memang sebuah harakah yang betul-betul istiqamah dalam memperjuangkan tegaknya Islam di muka bumi,” pungkasnya.[] mawan/joy

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved