[128] Satu-satunya Pesantren di Palangkaraya PDF Print E-mail
Tuesday, 29 July 2014 14:14

Pondok Pesantren Salafiah Iqra, Palangkaraya, Kalteng

Suasana sejuk dan tenang jauh dari keramaian, sederhana dan asri itulah suasana Pondok Pesantren Salafiah Iqro, yang berada di Jalan Karanggan, sekitar 15 Km dari pusat Kota Palangkaraya.

Salah satu pondok pesantren yang ada di ibukota provinsi Kalimantan Tengah ini mengedepankan pendidikan Alquran sebagai ciri khasnya. Pondok pesantren ini berdiri 10 tahun yang lalu tepatnya 11 Januari 2004, dimulai dengan meminjam rumah seorang warga. Baru setelah tujuh bulan pondok pindah ke tanah wakaf yang saat ini ditempati dengan luas tanah 58 hektar.

Awal berdirinya hanya dimulai dengan dua orang santri dan beberapa santri kalong, sekarang pondok pesantren ini sudah menampung 40 orang santri dari berbagai daerah yang ada di Kalimantan bahkan ada yang dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Sejak 2009 terbentuk jenjang pendidikan Tingkat Ula setara dengan SD, Wustho setara dengan SMP, dan ‘Ulya setara dengan SMA. “Dan ijazahnya bisa digunakan jika ingin melanjutkan pendidikan di luar pondok,” ujar Pimpinan Ponpes Iqra Ustadz H Umar Hasan.

Pelajaran agama yang banyak diajarkan di beberapa pesantren pada umumnya juga diberikan di kelas, sementara pada saat yang sama para santri diharuskan tinggal di asrama dengan mempertahankan suasana dan jiwa kehidupan ponpes.

Sarana yang dimiliki pondok saat ini, asrama putra dan putri, kantin kejujuran, perpustakaan, lapangan dan rumah buat staf pengajar dan ruang belajarnya menggunakan ruang di samping mushala.

Walaupun sangat sederhana, ini masih bisa digunakan proses belajar mengajar santri. “Ya... memang kalau hujan, pada saat belajar mengajar terganggu karena ruangnya masih terbuka, bangunannya tanpa plafon dan atapnya seng jadi kalau hujan akan sangat berisik,” akunya.

Dalam kebersahajaannya, pengasuh ponpes tetap merasa senang. “Meskipun berjalan dengan penuh kekurangan, kami senang melihat santri bisa mengaji, memiliki ilmu agama, dan kami juga senang pesantren ini telah melahirkan alumnus yang mampu membina pesantren sendiri di daerahnya, bahkan alumunusnya juga mendapatkan beasiswa ke Jakarta dan Turki,” ungkapnya.

Menurutnya, pendidikan memang bersifat long life education yakni usaha yang panjang tapi sangat strategis untuk menentukan arah kemajuan generasi yang akan datang, sehingga segala yang dilihat, didengar, dan diperhatikan oleh santri adalah untuk pendidikan.

“Sungguh menjadi hal yang langka adanya lembaga pendidikan yang bermutu namun murah yang menghasilkan anak didik berilmu atas dasar iman yang kuat dan akhlak yang mulia dengan biaya yang ringan,” ungkapnya.

Ekstrakurikuler utama di pondok ini adalah menghafal Alquran. Dan dalam rentang waktu 10 tahun ini sudah menghasilkan 40 penghafal lengkap 30 juz. Ekstrakurikuler lainnya juga ada seperti berwirausaha, bertani, dan berternak.

Dari awal berdirinya, ponpes ini berusaha secara mandiri. Pada beberapa tahun yang lalu pondok ini dibiayai dari  perkebunan tanaman unik, namanya jerpaya (jeruk pepaya). Pohon, daun dan buahnya seperti jeruk biasa, walaupun buahnya agak lonjong seperti pepaya.

Uniknya, kulit buahnya tidak seperti kulit buah jeruk biasanya, tapi seperti buah pepaya, dan bisa dimakan seperti buah pepaya serta berbagai rasa bisa dirasakan dari kulitnya. Banyak keunikan dari buah ini salah satunya sebagai obat herbal. “Sudah ada yang meneliti walaupun belum secara totalitas,” ungkapnya.

Dulu pengasuh Iqro menanam ribuan pohon di sekitar areal pondok, dan buah ini sempat menjadi daya tarik orang luar berkunjung untuk sekadar melihat dan merasakan buah ini. “Tapi untuk sementara, buah ini kita simpan dulu, karena terkait hak realis dari buah belum dikeluarkan dari dinas terkait,” ujarnya.

Pengasuh ponpes mengakui, masih banyak pekerjaan yang belum terselesaikan dalam membangun pesantren ini menjadi pesantren yang unggul di Palangkaraya.

Sebagai satu-satunya pondok pesantren di Palangkaraya, Ponpes yang bervisi mengutamakan tarbiyatul Qur’an untuk melahirkan ulama rabbani sehingga menjadi ummatan wasathon, memang dipersembahkan untuk umat, dan kemajuannya di tangan umat, dan hasilnya diperuntukan bagi umat. Oleh karena itu, sumbangsih dan sinergi dari umat sangat diperlukan. []ibnu abdullah/joy

Ustadz H Umar Hasan, Pimpinan Ponpes Salafiah Iqro

Senang dengan Kegiatan HTI Palangkaraya

Semenjak berinteraksi dengan HTI Palangkaraya, kami senang betul dengan kegiatan yang diadakan. Saya juga sering mengajak santri untuk menghadiri acaranya.

Kami sangat mendukung apa yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir dengan perjuangan syariah dan khilafah karena kami juga berharap tegaknya hukum- hukum Allah secara sempurna.

Kami berharap semoga Allah senantiasa meridhai perjuangan HTI, dan umat Islam mau bergandengan tangan memperjuangkan syariah dan khilafah bersama Hizbut Tahrir. Kami mengenal Hizbut Tahrir pada 1997. Namun berinteraksi lebih sering lagi mulai 2009, ketika saya masih berafiliasi dengan pondok pesantren Hidayatul Insan, dan ternyata guru – guru di sana ada beberapa anggota HTI, kenal dengan Muhamad Bakrie, dan Muji dan mereka juga sempat mengajar dan tinggal di Pondok Pesantren Iqra.

Sebelum membangun pondok pesantren ini, saya aktif di Jamaah Tabligh, dan sudah mengunjungi lebih  dari sembilan negara. Menikah tahun 1990 dengan wanita yang menyelesaikan semua pendidikan di Saudi Arabia, istri jualah yang menjadi motivasi untuk membangun pondok.

Tahun 2003, hijrah ke Palangkaraya dan tahun 2004 membangun Pondok Pesantren Iqra ini. Anak saya 12 dan 5 di antaranya hafal 30 juz, serta 3 orang anak saya saat ini sedang melangsungkan pendidikannya di Turki.[]ibnu abdullah/joy

 

 

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved