[126] Neoliberal Lanjut PDF Print E-mail
Monday, 19 May 2014 21:05

Ichsanuddin Noorsy, Pengamat Kebijakan Publik

Arah ekonomi parpol pemenang pemilu ya tidak ke mana-mana, tetap melanjutkan neoliberal dan ikut arus globalisasi. (Iklan nasi tumpeng serba impor-nya PDI P) itu kan hanya kemasan. Bisa saja kemasan itu berbaju nasionalis tetapi isi tetap terbawa arus globalisasi.

Penyebabnya, sistem yang diberlakukan di Indonesia adalah sistem yang berpacu dengan globalisasi. Maksudnya, Indonesia sudah 99 persen terbuka penuh. Ibarat berpakaian, semua sektor sudah sangat telanjang hanya beberapa saja yang masih berbikini.

Parpol pemenang dan para capres yang muncul, walau pun menjanjikan perubahan, saya tidak melihat potensi perubahan itu karena ada catatan lagi buat saya. Yaitu, ada beberapa perjanjian utang luar negeri yang dibuat oleh pemerintah rentang waktu 2009-2014 itu berisi tentang kewajiban Indonesia melanjutkan program globalisasi.

Pertanyaanya, bisa tidak capres yang muncul mengubah itu? Saya bilang calon presiden ya, karena pada parpol yang ada saya melihat tidak bisa melakukan itu. Jadi kalau capres yang ada pun tidak bisa mengubah itu, ya berarti sekadar menyinambungkan globalisasi.

Berani tidak Jokowi, ARB atau Prabowo bernegosiasi dengan tiga pihak yang mencengkeram Indonesia? Pihak pertama adalah lembaga multilateral seperti Bank Dunia, IMF, ADB, UEDB dan WTO. Pihak kedua adalah negara-negara bilateral yang selama ini mendikte Indonesia seperti Amerika, Cina dan lainnya. Pihak ketiga adalah kelompok-kelompok negara regional sebagai kepanjangan tangan negara adidaya seperti Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akan berlaku 2016.[]

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved