MediaUmat.com
Pelajaran Qaddafi untuk Pemimpin Negeri Muslim, Termasuk Indonesia PDF Print E-mail
Thursday, 14 July 2011 16:39

Pada  sore  hari  tanggal  15/3/2011 channel TV Jerman “RTL” menyiarkan  wawancara  dengan  Qaddafi, sang kriminal ini. Dalam wawancara itu ia mengklaim  bahwa  “Libya  hanya  sedang mengalami insiden kecil saja, sebagian besar situasi negara dalam keadaan tenang dan normal, serta  tidak  ada  aksi-aksi  demonstrasi.”

Ia  membantah  bahwa  dirinya  telah melakukan  penindasan  terhadap  para demonstran damai. Namun di bagian akhir pembicaraannya ia bersumpah akan menghancurkan kekuatan kaum Muslim di Libya yang  mencoba  untuk  melawannya.  Ia menyebut kaum Muslim yang memberontak  sebagai  “gerombolan"  yang  berafiliasi dengan Alqaidah.

Qaddafi  mengecam  negara-negara Barat  yang  telah  mendukungnya  selama empat dekade. Ia tidak habis pikir, “Apa yang telah saya lakukan yang mengecewakan mereka?!”

Ia juga mengecam Sarkozy (Presiden Prancis) dengan mengatakan Sarkozy sakit jiwa. Pada kesempatan lain Qaddafi berkata kepada surat kabar Italia “Il   Giornale” bahwa  “Ia  sedang  memasuki  sebuah peperangan melawan Alqaidah. Dan ia akan meninggalkan  koalisi  internasional  melawan  terorisme  jika  Barat  memperlakukannya secara negatif, seperti yang terjadi pada mantan Presiden Irak Saddam Hussein. Bahkan sebaliknya, ia akan bersekutu dengan  Alqaidah  menyatakan  jihad,  dan mengecam teman baiknya Perdana Menteri Italia, Berlusconi.”

Perlu  diketahui  bahwa  penasihat khusus  politik  Qaddafi  adalah  mantan Perdana  Menteri  Inggris  Tony  Blair.  Ia membayar  Blair  hingga  satu  juta  dolar dalam setiap bulannya.

Anak  Qaddafi,  Saif  al-Islam (6/6/2010)  menyebutkan  dalam  sebuah wawancara dengan surat kabar Inggris Daily Mail  bahwa  Blair  bertindak  sebagai konsultan untuk pengelolaan dana kekayaan minyak  pemerintah  Libya,  yang  nilainya diperkirakan lebih dari 94 milyar dolar. Blair sering datang ke Libya.

Dengan  demikian  Qaddafi  sesungguhnya sedang melakukan pengakuan bahwa dirinya adalah budak Barat. Pengabdian Qaddafi yang tulus kepada Barat, sekalipun untuk itu ia harus memerangi Islam, mengingkari  Sunah,  dengan  sengaja  menyimpangkan makna Alquran, menghukum mati para aktivis Hizbut Tahrir yang melawan tiraninya  diawal  tahun  1980-an,  dan menghukum  mati  mereka  yang  dengan ikhlas melakukan perubahan.

Ia juga telah menghina kaum Muslim Libya, menjadikan rakyatnya miskin, serta menjadikan negaranya terbelakang. Sebaliknya,  ia  membuka  pintu  selebar-lebarnya untuk  perusahaan-perusahaan  Barat  agar dapat dengan mudah menjarah kekayaan umat ini, serta menyimpan uang rakyat di bank-bank  dan  perusahaan-perusahaan Barat  yang dengannya mendanai aktivitas perekonomian Barat.

Maka, budak tetaplah budak. Tuannya, Barat telah siap untuk menjualnya jika tiba saatnya untuk dijual atau tuannya melihat adanya bahaya bila tetap mempertahankannya. Keberadaannya tidak ada harganya sama sekali.

Tipikal  penguasa  bermental  budak tampak  di  seluruh  negeri-negeri  Islam, termasuk  Indonesia.  Rezim  di  Indonesia pun menuruti keinginan asing dan memberikan keuntungan bagi mereka, walaupun untuk itu rakyatnya harus menderita.

Kekayaan alam Indonesia saat ini 80 persen dikuasai oleh perusahaan asing. Tak lama setelah Obama datang ke Indonesia blok  Natuna  yang  kaya  gas  dan  minyak pengelolaannya diserahkan kembali kepada ExxonMobil.

Terhadap Islam dan kaum Muslimin yang  berdakwah  dengan  ikhlas  dalam rangka  menegakkan  syariat  dan  khilafah, sering mendapatkan intimidasi dan tekanan, termasuk tuduhan teroris. Sementara kepada penghina Islam seperti aliran Ahmadiyah  atau  JIL  pemerintah  cenderung membela dan melindungi.

Pelajaran  pahit  yang  menimpa Qaddafi,  seharusnya  membuka  mata  penguasa negeri ini.

Allah SWT berfirman dalam Alquran :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (orang kafir), (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa  yang  menyusahkan  kamu.  Telah  nyata kebencian  dari  mulut  mereka,  dan  apa  yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu!  Kamu menyukai mereka padahal  mereka  tidak  menyukaimu…..”  (Ali Imron [3] : 118 – 119).[]

 
[127] Bicaralah, Jangan Diam PDF Print E-mail
Thursday, 22 May 2014 13:16

Oleh: Farhan Akbar Muttaqi [Jurnalis, Aktivis Kajian Islam Mahasiswa UPI Bandung]

“Talk Less, Do More.” Pernah melihat slogan tersebut? Bila dimaknai, slogan tersebut memberi kesan bagi pembacanya untuk tak banyak berbicara, dan sebaliknya memperbanyak bertindak. Seolah ada pertentangan antara 'berbicara' dan 'bertindak'. Berbicara dipojokkan sebagai sesuatu yang buruk, dan bertindak digaungkan sebagai sesuatu yang baik. Itulah maksud yang didapat dari slogan tersebut.

Padahal sebenarnya, bila dikaji dalam sudut pandang linguistik, berbicara dan bertindak bukanlah hal yang berlawanan. Bahkan justru keduanya merupakan hal yang saling terkait dan berkelindan. Dalam salah satu cabang kajian linguistik yang bernama Pragmatik, terdapat sebuah bahasan mengenai spech act (tindak tutur). Dalam kajian tersebut dikatakan bahwa sebenarnya tuturan—termasuk dalam pembicaraan--, hakikatnya adalah tindakan. Intinya, ketika seseorang berbicara, maka hakikatnya ia sedang bertindak.

Secara lebih sederhana, bila diltengok dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata bicara yang telah diberi imbuhan ‘ber-‘, yakni berbicara, merupakan kata yang terkategori verba. Verba sendiri lazim dikenal dengan kata kerja. Sementara kata kerja identik dengan berbagai kata yang menunjukan bahwa maknanya adalah hal-hal yang berupa tindakan.

Sayangnya, karena tak banyak orang yang memahami ini, akhirnya mereka mengalami kesalahan berpikir. Mereka akhirnya merespon kampanye talk less, do more dengan memperbanyak diam, kendati memiliki banyak hal baik untuk dibicarakan. Bahkan lebih fatal lagi, mereka bahkan menghujat orang yang banyak bicara. Tak peduli baik atau buruk yang dibicarakannya. Karena dalam pikirannya, berbicara dianggap tak berguna.

Pembodohan dan Penjajahan

Sebagaimana diketahui, saat ini kaum Muslimin tengah mengalami keterpurukan dan membutuhkan perubahan. Dan bila ditinjau secara konseptual maupun historis, sebuah gerakan yang mendorong terciptanya perubahan selalu berawal dari pembicaraan. Dengan kata lain, di dalamnya terdapat peran besar orang orang yang banyak berbicara.

Dalam Islam sendiri, dikenal istilah dakwah. Dakwah adalah aktivitas menyeru yang ditujukan untuk mengarahkan manusia kepada jalan Islam. Dakwah adalah perkara penting yang diulang-ulang perintahnya berkali kali dalam Alquran.

Dahulu, dalam dakwahnya Rasul SAW pada faktanya kerap, bahkan sering berbicara. Para sahabat yang semula jahiliyah dan kemudian berubah akidahnya menjadi Islam adalah karena mereka mendapati orang yang berbicara tentang Islam kepadanya.  Demikian halnya yang menyebabkan mereka bersemangat dan istiqamah. Itu karena Rasul SAW sering memberikan mereka nasihat yang lagi-lagi merupakan buah dari aktivitas berbicara.

Tentunya, ini belum lagi bila kita berbicara sejarah. Dalam sejarahnya, ‘kebangkitan’ golongan atau bangsa tertentu juga tak lepas dari peran mereka yang berbicara. Cendekiawan Eropa di dalam dark age, kebangkitan Jerman di masa Hittler, atau perlawanan rakyat Indonesia terhadap Belanda, dan sebagainya. Semuanya dilecutkan oleh kehadiran mereka yang berbicara. Maka tak heran bila sejarah hampir selalu mencatat bahwa “tokoh perubahan adalah tokoh yang pandai bicara."

Dalam ranah yang paling dekat dengan kita, dapat disaksikan bahwa manusia itu bisa berubah menjadi pintar dan cerdas karena diberi ilmu oleh orang yang berbicara kepadanya. Guru guru dan para ustadz yang berniat memperbaiki umat, menjadikan berbicara sebagai sarana untuk mewujudkan niat baiknya.

Demikian seseorang yang pada mulanya tak memiliki keinginan berjuang, kemudian tiba-tiba ingin. Itupun hampir dipastikan karena peran mereka yang berbicara. Ya, kini pertanyakanlah, bisakah Anda temukan manusia atau segolongan manusia yang dapat berubah tanpa ada wasilah orang yang berbicara?

Tapi tentu, dalam Islam, bicara tak boleh sembarang bicara. Kalau memang tak punya pembicaraan yang baik, diam lebih diutamakan. Tapi selama kita masih memiliki hal-hal yang baik, maka bicara adalah keharusan. Terlebih, dengan kenyataan bahwa umat Islam saat ini terpuruk dan memerlukan kebangkitan dengan tegaknya Khilafah Islamiyah.

Tentunya, musykil Khilafah Islamiyah dapat tegak tanpa sebelumnya dilatari kesadaran umum [wa’yul amm’] mengenai rusaknya sistem demokrasi-kapitalis, dan pentingnya keberadaan Khilafah Islamiyah di tengah-tengah kaum Muslimin.

Dan alangkah musykil pula kesadaran umum itu dapat terwujud tanpa kehadiran orang orang yang berbicara tentang hal tersebut ke tengah umat. Ya, musykil! Maka kesimpulannya, apa maksud dari kampanye talkless, do more itu? Jelas, jawabannya hanyalah pembodohan berbalut penjajahan![]

 

 
[127] Alquran Bukan Dongengan Orang Dahulu PDF Print E-mail
Thursday, 22 May 2014 13:36

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

Dan mereka berkata: "Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang." Katakanlah: "Alquran itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (TQS al-Furqan [25]: 5-6).

Kaum kafir selalu membuat berbagai tuduhan palsu terhadap Alquran. Di antaranya adalah dengan mengatakan Alquran hanyalah dongeng orang-orang terhadulu. Rasulullah SAW dituduh hanya mengulang kembali apa yang diceritakan oleh orang-ornag terdahulu. Tujuannya utuk mengecilkan dan meremehkan Alquran. Tuduhan tersebut jelas ngawur dan menyesatkan. Alquran pun memberitakan tuduhan palsu itu beserta bantahan terhadapnya. Di antaranya adalah ayat ini.

Dongeng Orang Dahulu

Allah SWT berfirman:  Wa qâlû asâthîr al-awwalîn [i]ktatabahâ (dan mereka berkata: "Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan). Ayat ini melanjutkan ayat sebelumnya yang memberitakan tentang tuduhan palsu kaum kafir tehadap Alquran. Mereka mengatakan bahwa Alquran adalah kebohongan yang diada-adakan Rasulullah SAW. Untuk itu, beliau dibantu oleh orang lain. Ditegaskan ayat tersebut, tuduhan itu justru menunjukkan kezaliman dan kebohongan mereka.

Ayat ini kembali memberitakan tuduhan palsu mereka. Menurut banyak mufasir, orang yang melakukannya adalah al-Nadhar bin al-Harits. Meskipun tidak  menutup kemungkinan ada orang lain yang melemparkan tuduhan serupa. Mereka mengatakan bahwa Alquran adalah asâtîr al-awwalîn.

Dikatakan al-Zajjaj, sebagaimana dikutip al-Qurthubi, kata asâthîr merupakan bentuk jamak dari kata usthûrah (dongeng, kisah). Menurut Dr Ahmad Mukhtar dalam Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyah al-Mu’âshirah, kata usthûrah berarti dongeng yang didominasi oleh khayalan, melebihi kekuatan normal berupa dewa-dewa atau makhluk-makhluk halus yang biasa digunakan dalam cerita rakyat dari berbagai bangsa.

Dengan demikian, mereka menuduh Alquran hanyalah dongeng yang dipenuhi khayalan dan khurafat dari orang-orang yang dahulu. Tuduhan itu jelas palsu sekaligus pelecehan terhadap Alquran. Betapa tidak, Alquran dituduh sebagai dongengan yang dipenuhi dengan khayalan dan khurafat.

Selain dalam ayat ini, tuduhan tersebut juga diberitakan dalam banyak ayat lainnya. Di antaranya adalah firman Allah SWT: Orang-orang kafir itu berkata, "Alquran ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu" (TQS al-An’am [6]: 26). Ayat lainnya adalah QS al-Anfal [8]: 31, aal-Mukminun [23]: 83, al-Naml [27]: 68, dan al-Ahqaf [46]: 17, al-Qalam [68]: 15, dan al-Muthaffifin [83]: 13

Kemudian disebutkan: [i]ktatabahâ. Menurut al-Alusi, kata tersebut berarti amara bi al-kitâbah (perintah untuk menuliskannya). Tak jauh berbeda, al-Khazin juga menafsirkan [i]ktatabahâ sebagai intansakhahâ (disalin, dinukil) oleh Rasulullah SAW. Beliau meminta agar ayat Alquran ditulis orang lain karena beliau tidak menulis. Itu artinya, kaum kafir itu menuduh Rasulullah SAW memerintahkan sahabatnya untuk menuliskan kembali berbagai dongeng orang dahulu.

Juga dinyatakan: Fahiya tumlâ ‘alayhi bukrat[an] wa ashîl[an] (maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang"). Selain diperintahkan kepada sahabatnya, Alquran juga di-imlâ`-kan oleh Rasulullah SAW.

Kata al-imlâ` di sini, menurut al-Alusi, berarti al-ilqâ` li al-hizhf (disampaikan untuk dihafal). Penjelasan senada juga dikemukakan oleh para mufasir lain, seperti al-Khazin, al-Baghawi, dan lain-lain. Mereka menafsirkan tumlâ ‘alayhi adalah tuqra`u alayhi (dibacakan kepadanya). Tujuannya adalah untuk dihafal, bukan ditulis.

Perbuatan itu dikatakan dilakukan pada bukrah wa ashîl. Kata bukrah berarti awal siang hari, sedangkan ashîl berarti awal malam hari. Menurut al-Alusi, dalam konteks ayat ini kedua kata tersebut memberikan makna dâim[an] (selalu, terus menerus).

Inilah tuduhan kafir terhadap Alquran. Beliau dituduh memerintahkan sahabat menuliskan dan menghafal dongengan yang dipenuh khayalan. Tidak ada yang bermanfaat dari dongeng yang dipenuhi dengan khayalan itu kecuali sebagai pelipur lara. Tuduhan tersebut bukan hanya bertentangan dengan fakta, namun juga sangat keji.

Diturunkan oleh Allah

Terhadap tuduhan kaum kaum kafir itu, Allah SWT berfirman: Qul anzalahu al-ladzî ya’lamu al-sirra fî al-samâwâti wa al-ardhi (katakanlah: "Alquran itu diturunkan oleh [Allah] yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi). Perintah qul (katakanlah) ditujukan kepada Rasulullah SAW. Beliau diperintahkan untuk menyampaikan bantahan terhadap tuduhan palsu kaum kafir itu.

Kepada mereka dikatakan bahwa Alquran merupakan kitab yang diturunkan oleh Allah SWT. Dalam ayat ini disebutkan bahwa Dia adalah Dzat yang mengetahui al-sirr fî al-samâwâti wa al-ardhi. Menurut al-Khazin, al-sirr di sini bermakna al-ghayb (yang tidak terlihat).

Jawaban ini jelas membungkam tuduhan mereka. Dalam Alquran memang terdapat banyak berita tentang fakta dan kejadian ghaib yang tidak terindera. Namun bukan seperti dongengan yang dipenuhi dengan khayalan dan khurafat. Sebab, dongengan yang diterima dari mulut ke mulut itu tidak jelas asal-usulnya dan siapa pembuatnya. Alquran bukan dongengan. Sebab, semua beritaya adalah haq lantaran berasal dari Allah SWT, Dzat yang mengetahui seluruh perkara yang tersembunyi di langit dan bumi.

Di samping itu, seandainya Alquran adalah dongeng yang diambil dari orang dahulu, semestinya kaum musyrik itu juga akan mendapatkan cerita yang sama dari nenek moyang mereka. Namun, mereka tidak mendapatkannya dari nenek moyang mereka.

Dalam ayat memang hanya disebutkan ‘Dzat mengetahui al-sirr (yang tersembunyi)’. Meskipun demikian, kalimat tersebut memberikan pengertian bahwa Dia juga mengetaui al-jahr (yang terang). Dikatakan al-Qurthubi, jika Dia mengetahui yang tersembunyi, maka terhadap perkara yang terang tentu lebih mengetahui.

Kandungan lain dari ayat ini, sebagimana dikemukakan al-Samarqandi, adalah “Seandainya perkataan itu dari Nabi Muhammad SAW sendiri, sungguh Allah SWT mengetahuinya. Dan jika Dia mengetahuinya, maka akan menghukumnya, sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya: Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami (TQS al-Haqqah [69]: 44).”

Selain itu, ayat ini juga memberikan dorongan kepada mereka untuk melakukan tadabbur terhadap Alquran. Sesungguhnya mereka, seandainya melakukan tadabbur terhadap Alquran, maka akan melihat ilmu dan hukum-hukum di dalamnya menunjukkan secara pasti bahwa Kitab itu tidak mungkin kecuali berasal dari Dzat yang Maha Mengetahui yang ghaib maupun yang tampak. Demikian dipaparkan Abdurrahman al-Sa’di dalam tafsirnya.

Kemudian ayat ini diakhiri dengan firman-Nya: Innahu kâna Ghafûr[an] Rahîm[an] (Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."). Menurut al-Samarqandi, firman Allah SWT ini mengandung pengertian: Kembali dan bertaubatlah, karena sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat; dan Maha Penyanyang bagi kaum Mukmin.

Di samping itu, penyebutan dua sifat itu merupakan al-tanbîh (peringatan halus). Bahwa mereka sesungguhnya telah layak mendapatkan azab atas kejahatan yang mereka lakukan. Namun Allah SWT menundanya lantaran Dia memiliki sifat al-maghfirah dan al-rahmah. Seolah dikatakan, Dia memiliki ampunan dan kasih sayang sehingga Dia tidak menyegerakan azab bagi kamu padahal sesungguhnya sudah amat pantas mendapatkannya. Seandainya tidak demikian, sungguh Dia telah menimpakan azab-Nya kepada kalian.

Demikianlah. Alquran merupakan kitab dari Allah SWT yang berisi petunjuk hidup bagi manusia. Di dalamnya terdapat berbagai berita ghaib yang tidak diketahui oleh manusia. Semuanya adalah haq. Siapa pun yang mengingkarinya, apalagi melemparkan tuduhan palsu terhadapnya, pasti akan menerima akibatnya. Yakni azab yang amat dahsyat dari pemilik kerajaan langit dan bumi, Allah SWT. Mungkin tidak di dunia, namun di akhirat pasti akan merasakan azab pedih tersebut. Semoga kita tidak termasuk di dalamnya. Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.

Ikhtisar:

  1. Alquran bukan dongeng yang dipenuhi khayalan sebagaimana tuduhan kaum kafir
  2. Alquran merupakan kitab dari Allah SWT, Dzat yang mengetahui seluruh rahasia langit dan bumi.

 
[127] Menghadapi Siswa Yang Bersifat “Keras” PDF Print E-mail
Thursday, 22 May 2014 13:18

Assalaamu’alaikum Wr. Wb.

Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga yang saya hormati. Saya seorang guru, ada salah satu siswa saya laki-laki, usia SMP yang memiliki sifat keras, suka berontak, mudah marah, berani protes dan menolak. Seringkali jika ada yang tidak sesuai dengan keinginannya,  melampiaskannya dengan  memukul-mukul benda, atau berperilaku tidak sopan. Padahal menurut saya, semestinya anak seusiannya sudah mampu mengendalikan emosinya. Apa yang semestinya saya lakukan agar bisa memberikan perlakuan dengan tepat. Terima kasih atas sarannya.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

AS

0857145XXXXX

Wa’alaikumsalam Wr.Wb.

AS yang baik,

Anak yang memiliki sifat keras, suka berontak, pemarah atau emosional  memang sering menimbulkan masalah. Ada kalanya  kemarahannya dilampiaskan dengan cara memukul, membanting benda, melempar sesuatu, menendang meja, mengacaukan segala hal, berteriak-teriak penuh kemarahan atau berperilaku tidak sopan. Anak seperti ini biasanya terlihat sangat keras kepala, susah diatur, kukuh pada kemauannya, selalu merasa benar dan cenderung mengabaikan perkataan orang lain.

AS yang baik,

Sebelum Anda mencoba mememberikan perlakuan pada siswa Anda, cobalah cari tahu dulu sebabnya.  Sebaiknya Anda berkomunikasi intensif dengan orang tuanya.  Ada sejumlah faktor yang dapat memengaruhi timbulnya kebiasaan buruk seperti yang tampak pada siswa Anda. Di antaranya,  karena pola asuh orang tua, perilaku orang tua dan ketidakkompakan antara ayah dan ibu. Orang tua yang terlalu membebaskan anak tanpa kontrol membuat anak merasa benar sendiri dan tidak mau mendengarkan orang lain.

Hal yang juga penting dalam pendidikan anak adalah kekompakan dalam menerapkan pola asuh. Ketika ada penerapan aturan yang berbeda antara ayah dan ibu misalnya, maka anak akan mengalami kebingungan. Dan biasanya anak akan cenderung memilih aturan-aturan yang lebih menyenangkan untuknya.

AS yang baik,

Setelah Anda berkomunikasi dengan orang tuanya, jalin kedekatan dengan siswa Anda. Menjalin kedekatan adalah cara terbaik menangani anak yang memiliki sifat keras. Komunikasi dua arah harus terjalin dengan baik. Ajak siswa Anda berbicara dan tanyakan alasannya, mengapa dia membantah atau bersikeras dengan pendapatnya. Bila alasannya tidak tepat, beri larangan tegas namun tetap disertai kesabaran. Cara ini akan memberikan pemahaman tentang batasan pada anak, tanpa membuatnya merasa ditolak. Seringlah ajak siswa Anda berbicara dari hati ke hati. Tanyakan apa yang menjadi keinginannya. Kemukakan dengan bijak alasan Anda melarangnya, tentang aturan-aturan yang diterapkan di sekolah. Anda harus yakin,  bahwa secara pasti siswa Anda paham, jika teguran atau larangan yang Anda sampaikan, bukan karena benci, melainkan karena rasa sayang Anda padanya. Jangan lupa berikan pujian ketika siswa Anda mulai memperlihatkan perubahan. Anak yang “keras” bisa jadi karena kurang mendapatkan atau merasakan penghargaan dari orang tuanya.

AS yang baik,

Meski sudah usia SMP, terkadang ada juga anak yang masih sulit mengendalikan emosinya. Bahkan terkadang, di usia ini anak menjadi lebih keras sikapnya, susah diatur dan selalu ingin memberontak. Bersikap  tidak sopan kepada orang tua, guru, malas ke sekolah, dan sebagainya. Padahal, bagi setiap orang tua dan guru tentu ingin mempunyai anak yang berakhlak baik, taat, rajin, pandai, dan penurut. Anak yang memiliki kemauan keras, membutuhkan pembimbing yang  kuat. Berkomunikasi dengan anak yang sudah mulai memasuki usia remaja tentu tidak sama seperti ketika mereka masih kecil. Kenali dan pahami perasaan siswa Anda, pilih kata dan kalimat yang tepat saat berkomunikasi. Adakalanya Anda harus bersikap tegas, lembut, atau menjadi seorang sahabat.  Bersahabatlah dengan siswa Anda, namun tetap menjaga kewibawaan sebagai guru. Dengan menjadi sahabatnya diharapkan mampu menciptakan suasana yang nyaman,  saling percaya dan rasa saling menghargai. Menghadapi anak yang keras memang terkadang melelahkan, tapi jika tepat memperlakukannya, insya Allah akan menjadi anak yang sukses, termotivasi, dan terarah dengan baik. Dibutuhkan kesabaran, kebijaksanaan dan perhatian. Semoga Anda diberikan kesabaran dalam membimbingnya.

 

 

 
[127] Strategi Ampuh Kristenisasi Lewat Pacarisasi PDF Print E-mail
Thursday, 22 May 2014 13:39

Abu Deedat Syihab, MH

Wakil Ketua KDK-MUI Pusat

Kaum misionaris dan zending Kristen tidak pernah lelah dalam misi memurtadkan umat Islam dengan alasan melaksanakan amanat agung Yesus di dalam Matius  pasal 28 ayat 19: “ Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.”

Dengan alasan ayat tersebut,  ke mana  saja pergi  misionaris harus membaptis orang.  Dan ini pula yang dipakai untuk menjerat seorang Muslimah dengan memacarinya lalu dihamilinya sebagaimana pengakuan seorang Muslimah yang tertipu oleh kelicikan seorang misionaris Katolik yang mengacu kepada perintah ilahi di dalam Injil Matius 10: 16  sebagai berikut :

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”

Kasus keluarga  pacaran dan kawin beda agama yang berakhir murtadnya Muslimah saat ini cukup banyak. Padahal perkawinan  listas agama menurut Katolik sbb: “Perkawinan Antara  seorang Katolik dengan penganut agama lain tidak syah “ (Kanon 1086).

Tetapi demi kepentingan misi,  pejabat gereja yang berwenang yakni Uskup dapat memberikan dispensasi dengan jalan mengawinkan pemeluk agama Katolik dengan pemeluk agama lain, asal saja kedua-keduanya memenuhi syarat yang ditetapkan  Hukum Gereja dalam Kanon 1125 yaitu  sbb:

Yang beragama Katolik berjanji sbb:

1.     Akan tetap setia pada iman Katolik

2.     Berusaha  mempermandikan dan mendidik semua anak-anak mereka secara Katolik

Yang beragama non Katolik berjanji sbb:

Menerima perkawinan secara Katolik

Tidak akan menceraikan pihak yang Bergama Katolik

Tidak akan menghalang-halangi pihak yang beragama Katolik melaksanakan imannya.

Bersedia mendidik  anak-anaknya secara Katolik

Dari pihak gereja ada program penggembalaan khusus, yaitu mengunjungi keluarga yang kawin berbeda agama. Mereka dorong suami istri itu masuk Katolik agar hidupnya diberkati Tuhan, termasuk anak-anak mereka. Akhirnya, jadilah mereka Katolik.

Pengakuan Korban

Seorang Muslimah korban menyampaikan pengakuannya kepada penulis. Mel begitu namanya, perempuan asal Bekasi. Ia dinikahi oleh Jhon, seorang Katolik. Karena orang tua Mel tidak setuju, mereka menikan secara ‘dispensasi’ yakni Mel tetap Islam. Pernikahan itu di gereja Katolik di Kranji, Bekasi.

Sebelum nikah, Mel sudah dihamili sehingga ketika nikah Mel hamil empat bulan. Seminggu sebelum menikah, Mel diminta datang ke kantor gereja. Di sana ia diminta  menandatangi surat perjanjian. Isinya, anaknya nanti harus dibaptis dan dididik secara Katolik. Meski hatinya menolak, ia tak bisa berbuat apa-apa.

Benar saja, ketika anaknya lahir dan baru berumur dua hari—Mel masih di rumah sakit--, anaknya diminta keluarga suaminya untuk dibaptis. Ia sempat menolak, tapi suaminya mengingatkan janji sebelumnya di gereja. Dan anak itu dibaptis di kapel rumah sakit tersebut.

“Itulah saya merasa ditipu oleh suami saya.  Sejak saat itu saya tidak punya hak apa-apa atas anak saya,” katanya.

Pembelajaran

Apa disampaikan Mel (korban), itulah  strategi gereja Katolik dalam menjerat kaum Muslim khususnya para muslimah lewat ‘kawin dispensasi’ untuk menjerat mangsanya (menurut mereka yaitu domba-domba tersesat ), yaitu sesuai  Hukum Gereja Katolik dalam Kanon 1125.

Maha Benar firman Allah dalam Alquran surat Al-Mumtahanah [60]: 10. Allah SWT berfirman: “Jika kalian mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kalian mengembalikan mereka kepada orang-orang kafir (suami-suami mereka). Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir dan orang-orang kafir itu tidak halal bagi mereka (QS al-Mumtahanah [60]: 10).

Ayat di atas secara tegas menyatakan bahwa orang-orang kafir tidak halal bagi perempuan Mukmin. Kata al-kuffâr adalah kata umum yang mencakup seluruh orang-orang kafir, baik ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) maupun orang musyrik.

 

 

 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 542

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved