MediaUmat.com
Pelajaran Qaddafi untuk Pemimpin Negeri Muslim, Termasuk Indonesia PDF Print E-mail
Thursday, 14 July 2011 16:39

Pada  sore  hari  tanggal  15/3/2011 channel TV Jerman “RTL” menyiarkan  wawancara  dengan  Qaddafi, sang kriminal ini. Dalam wawancara itu ia mengklaim  bahwa  “Libya  hanya  sedang mengalami insiden kecil saja, sebagian besar situasi negara dalam keadaan tenang dan normal, serta  tidak  ada  aksi-aksi  demonstrasi.”

Ia  membantah  bahwa  dirinya  telah melakukan  penindasan  terhadap  para demonstran damai. Namun di bagian akhir pembicaraannya ia bersumpah akan menghancurkan kekuatan kaum Muslim di Libya yang  mencoba  untuk  melawannya.  Ia menyebut kaum Muslim yang memberontak  sebagai  “gerombolan"  yang  berafiliasi dengan Alqaidah.

Qaddafi  mengecam  negara-negara Barat  yang  telah  mendukungnya  selama empat dekade. Ia tidak habis pikir, “Apa yang telah saya lakukan yang mengecewakan mereka?!”

Ia juga mengecam Sarkozy (Presiden Prancis) dengan mengatakan Sarkozy sakit jiwa. Pada kesempatan lain Qaddafi berkata kepada surat kabar Italia “Il   Giornale” bahwa  “Ia  sedang  memasuki  sebuah peperangan melawan Alqaidah. Dan ia akan meninggalkan  koalisi  internasional  melawan  terorisme  jika  Barat  memperlakukannya secara negatif, seperti yang terjadi pada mantan Presiden Irak Saddam Hussein. Bahkan sebaliknya, ia akan bersekutu dengan  Alqaidah  menyatakan  jihad,  dan mengecam teman baiknya Perdana Menteri Italia, Berlusconi.”

Perlu  diketahui  bahwa  penasihat khusus  politik  Qaddafi  adalah  mantan Perdana  Menteri  Inggris  Tony  Blair.  Ia membayar  Blair  hingga  satu  juta  dolar dalam setiap bulannya.

Anak  Qaddafi,  Saif  al-Islam (6/6/2010)  menyebutkan  dalam  sebuah wawancara dengan surat kabar Inggris Daily Mail  bahwa  Blair  bertindak  sebagai konsultan untuk pengelolaan dana kekayaan minyak  pemerintah  Libya,  yang  nilainya diperkirakan lebih dari 94 milyar dolar. Blair sering datang ke Libya.

Dengan  demikian  Qaddafi  sesungguhnya sedang melakukan pengakuan bahwa dirinya adalah budak Barat. Pengabdian Qaddafi yang tulus kepada Barat, sekalipun untuk itu ia harus memerangi Islam, mengingkari  Sunah,  dengan  sengaja  menyimpangkan makna Alquran, menghukum mati para aktivis Hizbut Tahrir yang melawan tiraninya  diawal  tahun  1980-an,  dan menghukum  mati  mereka  yang  dengan ikhlas melakukan perubahan.

Ia juga telah menghina kaum Muslim Libya, menjadikan rakyatnya miskin, serta menjadikan negaranya terbelakang. Sebaliknya,  ia  membuka  pintu  selebar-lebarnya untuk  perusahaan-perusahaan  Barat  agar dapat dengan mudah menjarah kekayaan umat ini, serta menyimpan uang rakyat di bank-bank  dan  perusahaan-perusahaan Barat  yang dengannya mendanai aktivitas perekonomian Barat.

Maka, budak tetaplah budak. Tuannya, Barat telah siap untuk menjualnya jika tiba saatnya untuk dijual atau tuannya melihat adanya bahaya bila tetap mempertahankannya. Keberadaannya tidak ada harganya sama sekali.

Tipikal  penguasa  bermental  budak tampak  di  seluruh  negeri-negeri  Islam, termasuk  Indonesia.  Rezim  di  Indonesia pun menuruti keinginan asing dan memberikan keuntungan bagi mereka, walaupun untuk itu rakyatnya harus menderita.

Kekayaan alam Indonesia saat ini 80 persen dikuasai oleh perusahaan asing. Tak lama setelah Obama datang ke Indonesia blok  Natuna  yang  kaya  gas  dan  minyak pengelolaannya diserahkan kembali kepada ExxonMobil.

Terhadap Islam dan kaum Muslimin yang  berdakwah  dengan  ikhlas  dalam rangka  menegakkan  syariat  dan  khilafah, sering mendapatkan intimidasi dan tekanan, termasuk tuduhan teroris. Sementara kepada penghina Islam seperti aliran Ahmadiyah  atau  JIL  pemerintah  cenderung membela dan melindungi.

Pelajaran  pahit  yang  menimpa Qaddafi,  seharusnya  membuka  mata  penguasa negeri ini.

Allah SWT berfirman dalam Alquran :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (orang kafir), (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa  yang  menyusahkan  kamu.  Telah  nyata kebencian  dari  mulut  mereka,  dan  apa  yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu!  Kamu menyukai mereka padahal  mereka  tidak  menyukaimu…..”  (Ali Imron [3] : 118 – 119).[]

 
[122] Keluar Masuk Penjara karena Dakwah PDF Print E-mail
Thursday, 20 March 2014 00:13

Syeikh Ahmad Ad Da’ur

(1907-2001)

Generasi awal Hizbut Tahrir

Poros hidup Syeikh Ahmad Ad Da’ur adalah dakwah. Baik ketika menjadi mahasiswa, bekerja di dunia pendidikan, dunia peradilan, di parlemen maupun ketika dijebloskan ke penjara. Bahkan ia pernah menjadi delegasi Hizbut Tahrir untuk mendakwahi pemimpin revolusi Iran Khomaeni.

Syeikh Ahmad lahir tahun 1907 M di kota Qalqiliyah—kota di Palestina sebelah utara Tepi Barat (West Bank). Ia hidup semasa dengan peristiwa pemberontakan tahun 1936, bahkan ia turut mengangkat senjata melawan Yahudi dan Inggris. Ia juga semasa dengan perang tahun 1947-1948.

Setelah pasukan Arab memasuki Palestina, ia merasa terbakar dengan api pengkhianatan oleh para oknum pejabat, tentara dan penguasa, yang menyerahkan negeri dan rakyat pada manusia jahat, Yahudi seperti sesuap nasi yang lezat.

Ia sadar bahwa melenyapkan para penguasa pengkhianat itulah yang dapat menyelamatkan umat dan negeri, ketika pasukan negeri-negeri Arab melindungi negara Yahudi dari serangan rakyat.

Pada tahun 1930, Syeikh Ahmad melanjutkan studinya ke al-Azhar As Syarif, dan lulus tahun 1934 dengan memperoleh ijazah al-alamiyah (setingkat doktor) di bidang peradilan syariah. Setelah lulus, pekerjaan pertamanya adalah sebagai tenaga pengajar, kemudian diangkat sebagai sekretaris pada Mahkamah Syariah di Janin, lalu di Nablus, Palestina.

Ketika sedang menimba ilmu di Universitas Al Azhar itulah Syeikh Ahmad kenal dengan Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani. Ia pun setuju dengan ajakan Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani untuk mendirikan Hizbut Tahrir. Maka, ia bergabung dengan Hizbut Tahrir sejak awal kemunculannya dan beraktivitas secara aktif untuk mengembalikan khilafah.

Masuk Parlemen

Syeikh Ahmad mencalonkan diri sebagai anggota parlemen Yordania pada pemilu 1954. Program pemilunya untuk menjadi wakil rakyat sangat tegas dan jelas yaitu mengoreksi penguasa karena loyalitasnya terhadap Inggris dan ketiadaan penerapan Islam. Menariknya, ia pun dengan tegas mengharamkan fungsi wakil rakyat untuk membuat hukum.

Kampanye yang blak-blakan tanpa basa basi menyerang kekufuran tersebut ternyata membuatnya terpilih menjadi anggota parlemen mewakili distrik Thulkarim dan Qalqiliyah.

Jabatan itu ia jadikan peluang untuk menjelaskan pemikiran-pemikiran dan pendapat-pendapat Hizbut Tahrir, menjelaskan apa yang telah diadopsinya dan apa yang akan dilakukannya, serta menyingkap bentuk-bentuk pengkhianatan, menyerang sistem-sistem yang rusak, khususnya di Yordania dan di dunia Islam pada umumnya, sebab sistem-sistem itu dibuat oleh orang-orang kafir yang kemudian diterapkan di negeri-negeri kaum Muslimin.

Kritikannya terhadap Undang-Undang Sipil (Qanun Madani) Yordania pun disampaikannya saat mendapatkan kesempatan berpidato pada 24 Januari 1955 di parlemen. Pidatonya itu terekam dalam jurnal resmi parlemen No 55, 15 Februari 1955.

Pada pemilu parlemen tahun 1956, ia mencalonkan lagi dan berhasil juga. Namun untuk yang kedua kalinya ini, berbagai tekanan dan ancaman semakin keras diberikan kepadanya. Tetapi semua itu tidak mampu menghentikan aktivitasnya mendakwahkan kebenaran.

Pada tahun yang sama, ia juga mengkritik Raja Yordania yang mengadakan perjanjian dengan Inggris yang kemudian disebut dengan Perjanjian Inggris-Yordania. Opini yang berkembang di tengah masyarakat atas perjanjian itu adalah berakhirnya cengkraman Inggris di Yordania. Namun berdasarkan analisa yang tajam dan akurat, Hizbut Tahrir menyatakan perjanjian itu tidaklah mengakhiri penjajahan Inggris.

Karena Ahmad Ad Da’ur menjadi satu-satunya anggota parlemen yang menyatakan analisa itu, ia pun mendapatkan kecaman dan cacian baik dari sesama anggota parlemen maupun masyarakat. Mereka mengatakan: “Tidakkah semua paham, kecuali Hizbut Tahrir. Kalian memang aneh.”

Pada tahun 1958, setelah kudeta Amerika di Irak, yang bertujuan menggulingkan keluarga raja dan berhasil mendudukkan Abdul Karim Qasim, maka pasukan Inggris turun di bandara Amman dan Aqabah. Orang-orang pun baru teringat apa yang disampaikan Syeikh Ahmad dan Hizbut Tahrir. Mereka mengatakan: “Tidak ada yang paham, kecuali Hizbut Tahrir.”

Ahmad Ad Da’ur  berikutnya menjadi anggota pimpinan Hizbut Tahrir bersama Syeikh Abdul Qadim Zallum sejak adanya pembentukan kembali kepemimpinan  tahun 1956, dengan pemimpin umum Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani.

Keluar Masuk Penjara

Kritikan Syeikh Ahmad terhadap penguasa zalim dan khianat terus dilancarkan, hubungan mesra penguasa dengan Yahudi perampas Palestina juga dibeberkan. Karena itu semua, penguasa Yordania pun geram, maka dicabutlah imunitas Ahmad Ad Da’ur sebagai anggota parlemen.  Meski tanpa kekebalan, Syeikh Ahmad tetap lantang mengkritik. Sehingga, usai memberikan kritik pada kesempatan berikutnya ia pun ditahan.

Maka, digelarlah sidang parlemen untuk mengambil keputusan untuk mengeluarkan Syeikh Ahmad dari parlemen. Seluruh anggota menyatakan setuju termasuk lima orang anggota parlemen dari Ikhwanul Muslimun. Hanya satu orang anggota yang menyatakan tidak setuju yaitu Faiq al-‘Anbatawi.

Keluar penjara, ia tidak jera menyampaikan kebenaran. Sehingga ia keluar masuk penjara. Serta boleh dikata, ia merasakan kejamnya semua penjara yang ada di Yordania, dari penjara Ariha, al-Kark, dan ath-Thafilah. Ia juga pernah dibuang ke penjara H4, yaitu tempat pembuangan yang ada di padang pasir, kemudian ditahan dipenjara az-Zarqa’, dan penjara pusat di Amman.

Pada 6 Januari 1969, Syeikh Ahmad dan 15 aktivis Hizbut Tahrir lainnya ditangkap atas tuduhan upaya Hizbut Tahrir menegakkan khilafah di Yordania dan negeri-negeri Islam tetangganya.

Selama dalam penahanan, ia mengalami siksaan yang pedih dari para penjaga sistem kufur. Meski mendekam dalam penjara, dakwah tetap jadi poros hidupnya. Sehingga orang-orang satu selnya yang semuanya adalah sosialis bertaubat dan menjadi pengemban dakwah juga.

Syeikh Thalib Awadallah dalam kitab Ahbabullah mengungkapkan kisah tatkala Syeikh Ahmad dijebloskan ke penjara. Pada awalnya sipir memperlakukan Ahmad ad Da’ur dengan sangat kasar karena sipir penjara mendapatkan informasi dari pejabat pemerintah bahwa Syeikh Ahmad adalah seorang komunis.

Sampai pada suatu ketika sipir tersebut merasa heran tatkala mendapatinya menggelar sajadah dan melakukan shalat di tahanan. Ia menghampirinya dengan rasa heran dan bertanya mengapa shalat. Yang ditanya juga heran mengapa dia bertanya demikian? Bukankah seorang Muslim wajib shalat?

Akhirnya terbongkarlah bisikan dari pejabat pemerintah yang menjebloskan Ahmad ad Da’ur. Sikap sipir pun berubah menjadi baik.

Tahun 1971, ia dibebaskan dari penjara, dan tahun 1974 paspornya disita dalam beberapa waktu, selama itu praktis ia tidak dapat bebergian ke luar negeri.

Dakwahi Khomaeni

Pada 1979 terjadi revolusi Iran yang dipimpin Khomaeni, saat itu umat merindukan pemerintahan Islam. Akan tetapi, Khomaeni mengumumkan Republik Islam Iran dengan UUD-nya pun tidak terkait dengan Islam dalam pasal-pasalnya. Maka Hizbut Tahrir mengirimkan utusan yang dipimpin Syeikh Ahmad ad Da’ur kepada Khomaeni di Qum. Kedatangan utusan ini menjelaskan sistem pemerintahan Islam adalah “khilafah” bukan “republik”. Tapi Khomaeni menolaknya.

Ia terus bergerak dan berdakwah. Pada suatu waktu ia sakit dan mengharuskannya berbaring ditempat tidur. Kemudian ia pun berpulang ke rahmatullah pada malam Jumat 22 Rabi’uts Tsani 1422 H atau 13 Juli 2001.

Syeikh Ahmad meninggalkan dunia dengan mewariskan sikap sebagai pengemban dakwah yang sejati. Ia juga meninggalkan beberapa kitab yang ditulisnya, yakni Naqdlu al Qanun al Madaniy (Kritik Perundang-undangan Sipil); Raddun ‘ala Muftaraayatin Haula Hukmi ar-Riba wa Fawa’idi al-Bunuk (Bantahan atas kebohongan-kebohongan seputar hukum riba dan bunga bank); dan Ahkamu al Bayyinaat (hukum pembuktian).[] m ali dodiman/joy

 

 
[123] Perintis Dakwah di Barat Rancaekek PDF Print E-mail
Monday, 07 April 2014 10:53

Yayasan Al Mubarok Al Fath, Tegal Sumedang, Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

Sekilas, ketika Media Umat masuk ke dalam lingkungan Yayasan Al Mubarok Al Fath yang terletak di sebelah Barat Rancaekek ini, ada kesan biasa saja. Namun, menelisik sejarah dan perjuangan keberadaannya, hati dibuat berdecak kagum. Yayasan yang terletak di Desa Tegal Sumedang, Kecamatan Rancaekek tersebut ternyata memiliki andil yang tak sedikit dalam mensyiarkan Islam sejak hampir se-abad yang lalu.

Sebelum menjadi yayasan yang menaungi berbagai kegiatan pendidikan, lembaga ini murni hanya pesantren. Mulanya, didirikan oleh seorang ulama bernama KH Hamdan Suja’i yang tinggal di Bandung. Ia adalah putra dari KH Qosim, seorang pejuang Islam yang pada tahun 1800-an giat berdakwah di daerah Mataram, yang kemudian mengembara mengembangkan dakwah di Bandung karena intimidasi dan pengejaran kaum Nasrani di Mataram saat itu.

Pada tahun 1925, Hamdan Suja’i  pindah ke Tegal Sumedang lantaran diminta warga setempat untuk memimpin dan membimbing warga dengan ajaran Islam. Ia pun mendapatkan wakaf tanah seluas 200 tumbak kemudian mendapatkan lagi 400 tumbak. (satu tumbak = 14,0625 meter persegi). Di atas tanah wakaf tersebut ia membangun pesantren kecil yang diberi nama Bahrul Ulum. Dengan pengajaran metode Salafiyyah, para santri mengkaji kitab kitab karya ulama salaf.

Geliat syiar di Tegal Sumedang semakin kuat tatkala putra Hamdan Suja’i, yang bernama KH Ato Atori pulang menimba ilmu di berbagai pesantren di Jawa Barat pada sekitar tahun 1970an. Didorong tanggung jawab yang tinggi, Ato Atori atau yang akrab dipanggil Mamak Ato memperluas garapan dakwahnya dengan membangun madrasah diniyah yang diperuntukkan untuk siswa kelas 1 hingga kelas 6.

Tak hanya itu, Mamak Ato juga mendirikan sebuah masjid juma’ah (masjid yang biasa dipakai shalat Jumat) pertama di Tegal Sumedang yang dapat digunakan warga setempat untuk melaksanakan shalat Jumat. Bahkan seiring dakwah yang semakin berkembang dan jamaah yang terus bertambah, di daerahnya dibangun masjid-masjid lain yang hingga kini di sekitar daerah tersebut terdapat sekitar 12 masjid juma’ah.

Selain membina santri dan murid di madrasah diniyah, ia juga membina masyarakat dengan membentuk majlis taklim. Selain itu, ia juga concern pada perjuangan Islam. Maka dari itu, ia pernah ikut serta memobilisasi masyarakat untuk mendukung PPP sebagai partai politik satu satunya yang mewadahi kepentingan kaum Muslimin saat itu. Akibatnya, ia juga sempat mengalami masa-masa diintimidasi oleh pemerintah yang dikenal represif pada perjuangan Islam saat itu.

Meluaskan Garapan Dakwah

Seiring waktu, pada 2008, Mamak Ato mulai berpikir untuk membangun sekolah modern. Karena kesungguhan, niat tersebut akhirnya dapat diwujudkan pada tahun 2010. Berkat bantuan putra-putranya, Mamak dapat membentuk yayasan sebagai payung hukum untuk membangun lembaga pendidikan modern.

Hingga pada tahun tersebut, berdirilah PAUD yang tentunya memudahkan warga setempat untuk mendidik anak balitanya di tempat yang dekat. PAUD tersebut diberi nama PAUD As-Shofi.

Tiga tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2013, dibantu anak-anaknya. Ia berhasil mendirikan SMPIT yang diberi nama Hidayatul Falah. Karena baru memasuki tahun pertama, SMPIT ini masih dalam proses untuk terus menambah bangunan untuk ruang belajar. Muridnya masih puluhan, dan sebagiannya ikut mondok di pesantren.

Hingga kini, Mamak bersama putra-putranya tak hanya mengurus pesantren sebagaimana yang dirintis kakeknya. Kini, menginjak generasi ketiga, yayasan yang dipimpin oleh putra Mamak Ato yang bernama Ustadz Jalaludin Suyuthi ini mengelola madrasah diniyah, majelis taklim, PAUD, dan SMPIT.

Walhasil, Yayasan Al Mubarok Al Fath ini hampir sepanjang hari selalu hidup dengan berbagai kegiatan keilmuan.

Di atas 600 tumbak tanah wakaf yang diberikan warga, kini sudah terisi 400 tumbak dengan lima buah gedung untuk menunjang berbagai aktivitas yayasan. Itu diperuntukkan untuk ratusan santri dan masyarakat yang menimba ilmu di dalam lingkungan yayasan.

“Di sini itu, pagi hari ada kegiatan PAUD dan SMP, siangnya kegiatan diniyah dan santri, malamnya kegitan santri lagi dan majelis taklim untuk masyarakat umum,” beber Ustadz Hamdan Al Mahaly, salah satu putra Mamak Ato yang ikut mengurus yayasan.

Hamdan juga menyatakan santri dan siswa yang belajar di tempatnya diarahkan untuk menguasai berbagai hal tentang Islam. Lebih khusus lagi, ilmu alat dan tahfiz.

Dengan penguasaan hal tersebut, santri dan siswa akan lebih mudah memahami khazanah keilmuan Islam. Maka tak heran, tak sedikit prestasi yang diraih oleh yayasan ini.

Terakhir, pada tahun 2013 yang lalu, Ponpes Bahrul Ulum berhasil menjadi juara umum

dalam Musabaqah Qiraatil Kitab tingkat Kabupaten Bandung. Sembilan gelar berhasil di raih dalam berbagai jenjang dan kategori. Di antaranya juara satu dalam Qiraatil Kitab Alfiyah, Tafsir Jalalayn dan Imriti’. Lima tahun sebelumnya, ketika masih belum dinaungi yayasan, Bahrul Ulum juga meraih berbagai gelar lain.

Tak hanya itu, santri yang pernah belajar di tempat tersebut pun sudah banyak yang sukses. “Mereka yang lulus itu ada yang sudah bikin pesantren lagi. Bahkan ada yang pesantrennya lebih sukses dari ini. Tak hanya itu, banyak juga yang jadi pengusaha besar,” beber Hamdan yang baru-baru ini memutuskan untuk mengkaji kitab Nizhamul Islam bersama Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Rancaekek.

Didorong oleh kuatnya semangat untuk memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi umat, Mamak Ato bertekad agar putra-putranya yang kini mengurus yayasan, kelak dapat membangun lembaga pendidikan lain setingkat SMA dan perguruan tinggi untuk mendekatkan umat Islam dengan ajarannya.

“Dalam Alquran disebutkan bahwa kita ini adalah umat yang terbaik, maka dari itu harus memberi yang terbaik juga bagi umat,” ucap Mamak Ato kepada Media Umat.[]farhan akbar/joy

BOKS

KH Ato Atori, Penasehat Yayasan Al Mubarok Al Fath

Tegakkan Khilafah Butuh Dakwah yang Kaffah

Mamak Ato, di usianya yang ke 67 tahun, mengapresiasi perjuangan Hizbut Tahrir dalam

menegakkan khilafah. Menurutnya, untuk menegakkan khilafah dibutuhkan dakwah yang kaffah, dalam artian menyeluruh ke setiap elemen umat. “Dakwah yang dilakukan itu harus menyentuh setiap elemen masyarakat. Menyadarkannya. Kalau sudah pada sadar, akan mudah,” katanya.

Lebih khusus lagi, ia menyoroti peran ulama. “Yang tak kalah penting, sangat diperlukan kesepakatan ulama untuk mengubah sistem negara ini. Dalam sejarah negeri ini, peran ulama sangat menentukan,” katanya.

Tak hanya itu, Mamak yang berhubungan dengan HTI sejak 2005 ini juga berpesan kepada para pejuang khilafah untuk tetap sabar dan istiqamah berjuang tak kenal lelah. “Ingatlah kisahnya Siti Hajar yang saat itu membutuhkan air untuk anaknya. Ia bolak-balik berkali-kali untuk mencari air dari Bukit Shafa dan Marwah. Tapi pertolongan itu baru datang ketika Siti Hajar sudah benar benar kelelahan,” pesannya menyemangati pejuang Khilafah.[]farhan akbar/joy

 
[123] Mencari Predikat Kota Syariah PDF Print E-mail
Monday, 07 April 2014 10:50

Dr. Fahmi Amhar

Sekarang syariah sudah mulai “nge-trend”.  Di mana-mana orang sudah semakin tidak “phobi” atau “risih” dengan label syariah. Sudah semakin banyak bank atau asuransi berlabel syariah.  Bahkan hotel dan restoran syariah pun muncul bak cendawan di musim hujan.

Tentu saja orang masih bisa berdebat sejauh mana syariah benar-benar ada pada lembaga-lembaga itu.  Maka sudah saatnya dirumuskan indikator suatu hal disebut “sesuai syariah”, agar pelabelan itu bisa terukur, sehinga yang sudah bisa dipertahankan, dan yang kurang bisa dilengkapi.

Maka lalu muncul pertanyaan, seperti apa “kota syariah” itu?  Apakah sekadar kota yang tak ada maksiat di dalamnya?  Tak ada lokalisasi pelacuran, tak ada miras, tak ada judi, tak ada diskotik atau “salon aneh-aneh”?  Atau kota syariah adalah sebuah kota yang “menggiring” (tak cuma memfasilitasi) seluruh warganya agar melaksanakan seluruh syariah?

Beberapa walikota di Indonesia mendapat penghargaan internasional atas keberhasilannya membangun kota yang lebih humanis, kota yang tidak dilalap oleh gegap gempita investasi, kota yang juga untuk mereka yang lemah dan kurang beruntung.  Sedang kota syariah adalah sebuah kota yang dirancang sedemikian rupa sehingga membuat mudah semua orang untuk selamat agamanya; sehat fisik, jiwa dan sosialnya; meningkat ilmu dan kecerdasannya; berkah rezekinya; dan mereka dapat meninggalkan dunia dengan khusnul khatimah.

Tentu saja, kota syariah pasti bukan kota yang setiap hari dihantui kesemrawutan atau kemacetan di jalanan, banjir setiap musim hujan, kumuh permukimannya, tidak aman jalanannya dan rawan terhadap bencana apa saja.

Kuncinya adalah usaha tak pernah henti untuk merencanakan kota dengan baik, melaksanakan rencana dan mengawasinya supaya tidak ada pelanggaran.  Ada banyak teknologi yang dapat dilibatkan agar penataan kota itu berjalan optimal.  Dan ini pernah dilakukan di kota-kota besar Khilafah Islam seribu tahun yang lalu!

Seribu tahun yang lalu, tidak banyak kota besar di dunia dengan penduduk di atas 100.000 jiwa.  Menurut para sejarahwan perkotaan Modelski maupun Chandler, Baghdad di Iraq memegang rekor kota terbesar di dunia dari abad-8 M sampai abad-13 M.  Penduduk Baghdad pada tahun 1000 M ditaksir sudah 1.500.000 jiwa.  Peringkat kedua diduduki oleh Cordoba di Spanyol yang saat itu juga wilayah Islam dengan 500.000 jiwa dan baru Konstantinopel yang saat itu masih ibu kota Romawi-Byzantium dengan 300.000 jiwa.

Namun sebagaimana laporan para pengelana Barat, baik Baghdad maupun Cordoba adalah kota-kota yang tertata rapi, dengan saluran sanitasi pembuang najis di bawah tanah serta jalan-jalan luas yang bersih dan diberi penerangan pada malam hari.  Ini kontras dengan kota-kota di Eropa pada masa itu, yang kumuh, kotor dan di malam hari gelap gulita, sehingga rawan kejahatan.

Pada 30 Juli 762 M Khalifah al-Mansur mendirikan kota Baghdad.  Al-Mansur percaya bahwa Baghdad adalah kota yang akan sempurna untuk menjadi ibu kota Khilafah.  Al-Mansur sangat mencintai lokasi itu sehingga konon dia berucap, “Kota yang akan kudirikan ini adalah tempat aku tinggal dan para penerusku akan memerintah”.

Modal dasar kota ini adalah lokasinya yang strategis dan memberikan kontrol atas rute perdagangan sepanjang sungai Tigris ke laut dan dari Timur Tengah ke Asia.  Tersedianya air sepanjang tahun dan iklimnya yang kering juga membuat kota ini lebih beruntung daripada ibukota khilafah sebelumnya yakni Madinah atau Damaskus.

Namun modal dasar tadi tentu tak akan efektif tanpa perencanaan yang luar biasa.  Empat tahun sebelum dibangun, tahun 758 M al-Mansur mengumpulkan para surveyor, insinyur dan arsitek dari seluruh dunia untuk datang dan membuat perencanaan kota.  Lebih dari 100.000 pekerja konstruksi datang untuk mensurvei rencana-rencana. Banyak dari mereka disebar dan diberi gaji untuk langsung memulai pembangunan kota.  Kota dibangun dalam dua semi-lingkaran dengan diameter sekitar 19 kilometer.  Bulan Juli dipilih sebagai waktu mulai karena dua astronom, Naubakht Ahvaz dan Masyallah percaya bahwa itu saat yang tepat, karena air Tigris sedang tinggi, sehingga nantinya kota dijamin aman dari banjir.  Memang ada sedikit astrologi di situ, tetapi itu bukan pertimbangan utama.  Batu bata yang dipakai untuk membangun berukuran sekitar 45 centimeter pada seluruh seginya.  Abu Hanifah adalah penghitung batu bata dan dia mengembangkan sistem kanalisasi untuk membawa air baik untuk pembuatan batu bata maupun untuk kebutuhan manusia.

Setiap bagian kota yang direncanakan untuk jumlah penduduk tertentu dibangunkan masjid, sekolah, perpustakaan, taman, industri gandum, area komersial, tempat singgah bagi musafir, hingga pemandian umum yang terpisah antara laki-laki dan perempuan.  Bahkan pemakaman umum dan tempat pengolahan sampah juga tidak ketinggalan.  Sebagian besar warga tak perlu menempuh perjalanan jauh untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya serta untuk menuntut ilmu atau bekerja, karena semua dalam jangkauan perjalanan kaki yang wajar, dan semua memiliki kualitas yang standar.  Negara dengan tegas mengatur kepemilikan tanah berdasarkan syariat Islam. Tanah pribadi yang ditelantarkan lebih dari tiga tahun akan ditarik kembali oleh negara, sehingga selalu tersedia dengan cukup tanah-tanah yang dapat digunakan untuk membangun fasilitas umum.

Namun perencanaan kota juga memperhatikan aspek pertahanan terhadap ancaman serangan.  Ada empat benteng yang mengelilingi Baghad, masing-masing diberi nama Kufah, Basrah, Khurasan dan Damaskus, sesuai dengan arah gerbang untuk perjalanan menuju kota-kota tersebut.  Setiap gerbang memiliki pintu rangkap yang terbuat dari besi tebal, yang memerlukan beberapa lelaki dewasa untuk membukanya.

Tak heran bahwa kemudian Baghdad dengan cepat menutupi kemegahan Ctesiphon, ibu kota Kekaisaran Persia yang terletak 30 kilometer di tenggara Baghdad, yang telah dikalahkan pada perang al-Qadisiyah pada tahun 637.  Baghdad meraih zaman keemasannya saat era Harun al Rasyid pada awal abad 9 M.

Kejayaan Baghdad baru surut pasca serangan Tartar pada tahun 1258 M, yang terjadi setelah ada pengkhianatan di antara pejabat Khilafah.  Serangan ini berakibat terbantainya sekitar 1,6 juta penduduk Baghdad dan musnahnya khazanah ilmu yang luar biasa setelah buku-buku di perpustakaan Baghdad dibuang ke sungai Tigris, sampai airnya hitam.  Nyaris 8 abad kemudian pemboman Amerika “menyelesaikan” penghancuran bangunan megah yang masih tersisa di kota 1001 malam ini.

 
[126] Menggugat Nasionalisme Partai Nasionalis PDF Print E-mail
Tuesday, 15 April 2014 12:28

Salam Perjuangan!

Bagaimana kabar Anda saat ini? Semoga Anda dalam lindungan Allah SWT dalam mengarungi medan dakwah di tengah-tengah masyarakat yang ter-Barat-kan saat ini.

Pembaca yang dirahmati Allah, pesta demokrasi telah usai.  Nasib rakyat akan ditentukan oleh mereka terpilih.  Semua urusan rakyat akan diwakili mereka. Apakah kesejahteraaan, kesenangan, fasilitas negara, dll.  Jangan coba-coba meminta bagian dari mereka. Mereka sudah duduk di singgasana.

Karena itu, bagi para pejuang Islam, demokrasi bukanlah kancah menuju kebangkitan. Maka perjuangan tidak mengenal lima tahunan, setahunan, dan sebagainya. Para pejuang Islam akan senantiasa berjuang sampai syariah Islam tegak di muka bumi di bawah naungan khilafah.

Para pejuang Islam tak usah peduli dengan cemoohan para pemuja demokrasi, yang menganggap mereka yang tidak mau berjuang dalam demokrasi berarti tak memberi kontribusi bagi umat. Biarkan saja.  Ingat perjuangan yang sebenarnya bukan di bilik suara. Perjuangan yang sebenarnya adalah berada di tengah-tengah umat, menyadarkan mereka akan kewajiban Allah SWT, amar ma’ruf nahi munkar, menyebarkan opini syariah dan khilafah, membongkar pengkhianatan para penguasa dan tipu daya kafir penjajah, serta membangun negara khilafah.

Sungguh ini bukan tugas yang ringan. Ini membutuhkan pengorbanan, keikhlasan, dan keistiqamahan. Tidak ada iming-iming harta dan jabatan. Yang dijanjikan hanyalah keridhaan Allah SWT berupa balasan pahala dan jannatul  firdaus.

Pembaca yang dirahmati Allah,  manusia memang tempatnya lupa. Hal ini dialami banyak saudara-saudara kita. Pemilu yang sudah 10 kali dilaksanakan dengan janji akan adanya perubahan, ternyata tak pernah terwujud. Tapi kok ya mau-maunya masyarakat kembali menyibukkan pada apa yang pernah dilakukan lima tahun sebelumnya. Kadang kita bertanya, ini benar-benar karena lupa atau bodoh?

Maka pada edisi ini kami mengangkat tema menggugat nasionalisme partai nasionalis. Sekadar mengingatkan saja apa yang pernah terjadi sebelumnya. Supaya jangan lupa lagi…. Jangan mau dibohongi lagi.

Pembaca yang dirahmati Allah, jangan lupa, membaca rubrik-rubrik lainnya. Penting Anda membuka rubrik Fokus yang mengupas khusus soal partai Islam.  Tak lupa rubrik Muslimah yang mengangkat tema emansipasi, jelang Hari Kartini. Tema serupa ada di rubrik Kristologi.

Akhirnya, kami sampaikan selamat menikmati sajian kami! Jangan lupa, pinjamkan atau berikan tabloid ini kepada saudara/teman/keluarga agar mereka pun ikut tercerahkan dan terbuka wawasan berpikirnya. Lebih baik lagi jika Anda pun  mengajak mereka berlangganan media ini. Selamat membaca!

 

 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 493

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved