MediaUmat.com
Pelajaran Qaddafi untuk Pemimpin Negeri Muslim, Termasuk Indonesia PDF Print E-mail
Thursday, 14 July 2011 16:39

Pada  sore  hari  tanggal  15/3/2011 channel TV Jerman “RTL” menyiarkan  wawancara  dengan  Qaddafi, sang kriminal ini. Dalam wawancara itu ia mengklaim  bahwa  “Libya  hanya  sedang mengalami insiden kecil saja, sebagian besar situasi negara dalam keadaan tenang dan normal, serta  tidak  ada  aksi-aksi  demonstrasi.”

Ia  membantah  bahwa  dirinya  telah melakukan  penindasan  terhadap  para demonstran damai. Namun di bagian akhir pembicaraannya ia bersumpah akan menghancurkan kekuatan kaum Muslim di Libya yang  mencoba  untuk  melawannya.  Ia menyebut kaum Muslim yang memberontak  sebagai  “gerombolan"  yang  berafiliasi dengan Alqaidah.

Qaddafi  mengecam  negara-negara Barat  yang  telah  mendukungnya  selama empat dekade. Ia tidak habis pikir, “Apa yang telah saya lakukan yang mengecewakan mereka?!”

Ia juga mengecam Sarkozy (Presiden Prancis) dengan mengatakan Sarkozy sakit jiwa. Pada kesempatan lain Qaddafi berkata kepada surat kabar Italia “Il   Giornale” bahwa  “Ia  sedang  memasuki  sebuah peperangan melawan Alqaidah. Dan ia akan meninggalkan  koalisi  internasional  melawan  terorisme  jika  Barat  memperlakukannya secara negatif, seperti yang terjadi pada mantan Presiden Irak Saddam Hussein. Bahkan sebaliknya, ia akan bersekutu dengan  Alqaidah  menyatakan  jihad,  dan mengecam teman baiknya Perdana Menteri Italia, Berlusconi.”

Perlu  diketahui  bahwa  penasihat khusus  politik  Qaddafi  adalah  mantan Perdana  Menteri  Inggris  Tony  Blair.  Ia membayar  Blair  hingga  satu  juta  dolar dalam setiap bulannya.

Anak  Qaddafi,  Saif  al-Islam (6/6/2010)  menyebutkan  dalam  sebuah wawancara dengan surat kabar Inggris Daily Mail  bahwa  Blair  bertindak  sebagai konsultan untuk pengelolaan dana kekayaan minyak  pemerintah  Libya,  yang  nilainya diperkirakan lebih dari 94 milyar dolar. Blair sering datang ke Libya.

Dengan  demikian  Qaddafi  sesungguhnya sedang melakukan pengakuan bahwa dirinya adalah budak Barat. Pengabdian Qaddafi yang tulus kepada Barat, sekalipun untuk itu ia harus memerangi Islam, mengingkari  Sunah,  dengan  sengaja  menyimpangkan makna Alquran, menghukum mati para aktivis Hizbut Tahrir yang melawan tiraninya  diawal  tahun  1980-an,  dan menghukum  mati  mereka  yang  dengan ikhlas melakukan perubahan.

Ia juga telah menghina kaum Muslim Libya, menjadikan rakyatnya miskin, serta menjadikan negaranya terbelakang. Sebaliknya,  ia  membuka  pintu  selebar-lebarnya untuk  perusahaan-perusahaan  Barat  agar dapat dengan mudah menjarah kekayaan umat ini, serta menyimpan uang rakyat di bank-bank  dan  perusahaan-perusahaan Barat  yang dengannya mendanai aktivitas perekonomian Barat.

Maka, budak tetaplah budak. Tuannya, Barat telah siap untuk menjualnya jika tiba saatnya untuk dijual atau tuannya melihat adanya bahaya bila tetap mempertahankannya. Keberadaannya tidak ada harganya sama sekali.

Tipikal  penguasa  bermental  budak tampak  di  seluruh  negeri-negeri  Islam, termasuk  Indonesia.  Rezim  di  Indonesia pun menuruti keinginan asing dan memberikan keuntungan bagi mereka, walaupun untuk itu rakyatnya harus menderita.

Kekayaan alam Indonesia saat ini 80 persen dikuasai oleh perusahaan asing. Tak lama setelah Obama datang ke Indonesia blok  Natuna  yang  kaya  gas  dan  minyak pengelolaannya diserahkan kembali kepada ExxonMobil.

Terhadap Islam dan kaum Muslimin yang  berdakwah  dengan  ikhlas  dalam rangka  menegakkan  syariat  dan  khilafah, sering mendapatkan intimidasi dan tekanan, termasuk tuduhan teroris. Sementara kepada penghina Islam seperti aliran Ahmadiyah  atau  JIL  pemerintah  cenderung membela dan melindungi.

Pelajaran  pahit  yang  menimpa Qaddafi,  seharusnya  membuka  mata  penguasa negeri ini.

Allah SWT berfirman dalam Alquran :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (orang kafir), (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa  yang  menyusahkan  kamu.  Telah  nyata kebencian  dari  mulut  mereka,  dan  apa  yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu!  Kamu menyukai mereka padahal  mereka  tidak  menyukaimu…..”  (Ali Imron [3] : 118 – 119).[]

 
[120] Paradigma Klise PDF Print E-mail
Wednesday, 26 February 2014 01:50

Abdul Mu’ti, Sekretaris PP Muhammadiyah

Polisi tidak boleh membesar-besarkan dan mengaitkan terorisme itu dengan Islam dengan menggunakan Alquran sebagai barang bukti. Paradigma terorisme saat ini harus diubah, bahwa mereka melakukan itu harus tetap dikatakan sebagai tindakan kriminal biasa. Tidak bisa disebut misi suci seperti orang melakukan upaya mendirikan negara Islam dan melakukan Jihad.

Paradigma yang klise saat polisi menggerebek mereka terduga terorisme lalu menjadikan bukti buku-buku tentang jihad, Alquran dan tafsir ini menurut saya perlu dicermati secara kritis. Yang perlu dikritisi sekarang adalah kenapa polisi sekarang sangat represif dan tindakan brutal kepada para terduga terorisme.

Masih adanya pelaku terorisme itu menunjukkan kalau Densus 88 dan BNPT itu gagal  menyelesaikan kasus ini sampai sekarang. Sedangkan pandangan menggeneralisasi umat Islam sebagai pelaku teror merupakan opini yang sangat menyesatkan.

Selain itu menurut saya yang harus dievaluasi apakah tindakan dan cara-cara Densus 88 itu sudah benar, dan tindakan melampaui batas. Dan cara-cara yang dilakukan Densus tidak menarik simpati masyarakat dan masyarakat melihat itu tidak seperti tindak heroisme.

 
[122] Liberalis di Balik UU Perdagangan PDF Print E-mail
Wednesday, 19 March 2014 23:53

RUU Perdagangan tersebut tidak akan mampu mengubah komitmen tinggi Indonesia dalam agenda liberalisasi perdagangan internasional.

 

Setelah sempat terjadi tarik ulur, anggota dewan akhirnya mengetok palu Rancangan Undang-undang (RUU) Perdagangan menjadi UU. Meski pemerintah dan anggota dewan telah sepakat, namun UU Perdagangan terdapat 19 Bab dan 122 Pasal masih banyak yang kontroversial dan terkesan semangat liberalis.

 

Seperti diketahui, selama ini produk hukum yang setara undang-undang di bidang perdagangan adalah hukum kolonial Belanda Bedrijfsreglementerings Ordonnantie 1934 yang lebih banyak mengatur perizinan usaha. RUU Perdagangan ini  mulai dibahas dan dilakukan pendalaman sejak tahun 2010.

Namun, inisiasinya sudah dilakukan pemerintah pada 1972, dan sempat ditolak pada 1979. Pada Oktober 2013 lalu, pembahasan dilakukan secara intensif dengan DPR. Bahkan masuk dalam daftar Prolegnas 2014, RUU Perdagangan dibahas di Komisi VI DPR bersama mitra kerjanya Kementerian Perdagangan.

Dalam perjalanan pembahasan RUU Perdagangan tersebut, banyak kalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang menentang. Sebut saja, LSM Indonesia for Global Justice(IGJ) dan Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) yang menyuarakan penolakan itu.

 

Tetap Liberalis

Monitoring dan Riset Manager IGJ, Rachmi Hartanti mengatakan, pengesahan RUU Perdagangan tersebut tidak akan mampu mengubah komitmen tinggi Indonesia dalam agenda liberalisasi perdagangan internasional. Semangat ketundukan Indonesia pada rezim perdagangan bebas (free trade area/FTA) menjadi salah satu isu krusial yang dikritik.

Bahkan Rachmi menyesalkan, materi RUU lebih mengakomodasi klausul-klausul World Trade Organization (WTO) daripada kepentingan nasional. “RUU Perdagangan yang dibahas DPR dan Kemendag tidak berani keluar dari ketentuan WTO dan perjanjian FTA sehingga kepentingan nasional tidak benar-benar terlindungi," katanya.

Selama ini, menurut dia, perjanjian perdagangan internasional yang telah diratifikasi, baik di level multilateral dan regional maupun bilateral telah menimbulkan dampak buruk terhadap perekonomian nasional. Terutama, kehidupan petani, nelayan, buruh dan UMKM.

RUU Perdagangan makin menjerumuskan Indonesia ke dalam pasar yang sangat terbuka. “Akibatnya sangat jelas, pedagang pasar tradisional akan semakin tergusur,” tegasnya.

Meski banyak yang menolak, DPR punya pikiran sendiri. Fraksi-fraksi setuju dengan draft RUU itu.

Mereka adalah Fraksi PKS, Fraksi Hanura, Fraksi PAN, Fraksi Golkar, Fraksi Demokrat, Fraksi PKB, Fraksi PPP, dan Fraksi Gerindra. Meski sebagian mereka setuju dengan catatan.

Ketua Panja RUU Perdagangan Aria Bima mengatakan, pembahasan RUU Perdagangan berlangsung sangat alot. Tapi setelah berlangsung tarik ulur akhirnya RUU Pedagangan disepakati untuk disahkan menjadi UU. RUU ini mengamanatkan semua peraturan turunannya seperti peraturan pemerintah, peraturan presiden, dan peraturan menteri, harus sinkron dengan semangat RUU tersebut.

Aria mengatakan, RUU Perdagangan yang semula dinilai liberal ini, kini sangat pro pada perlindungan perdagangan nasional. Pasar rakyat, promosi dagang di luar negeri, pemberdayaan koperasi dan UKM sangat diberdayakan dan dilindungi RUU ini. “Nasionalisme dan semangat menyejahterakan rakyat sangat menonjol dalam setiap pembahasan RUU ini dengan pihak pemerintah,” ujarnya.

Sementara itu Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin yang mewakili pemerintah mengatakan, RUU Perdagangan ini penting untuk mengatur sistem perdagangan di Indonesia.“Kita berharap RUU perdagangan mampu menjawab masalah perdagangan baik masa kini maupun era mendatang,” katanya. Ala siapa? Joe Lian

 

 
[122] Muslim Cleansing di Afrika Tengah PDF Print E-mail
Monday, 10 March 2014 01:28

“Saya tidak ingin meninggalkan negeri ini.  Saya ingin menjadi Muslim di Negara Afrika Tengah terakhir yang meninggalkan negeri ini atau setidaknya Muslim terakhir yang dimakamkan di sini,” ujar seorang Imam masjid di Bangui,  ibukota  Republik Afrika Tengah (CAR).

Pernyataan sang Imam menggambarkan kondisi nestapa  yang terjadi di sana. Tanpa ada pencegahan yang nyata, umat Islam di  Republika Afrika Tengah akan musnah, akibat  pembantaian massal yang menimpa mereka.

Dalam laporannya pada Rabu (12/2), Amnesty Internasional menyatakan telah mendokumentasi lebih dari 200 kasus pembunuhan terhadap umat Islam yang dilakukan milisi Kristen sejak Desember lalu. Lebih dari 1000 orang Muslim terbunuh.

Pasukan perdamaian internasional, menurut organisasi HAM itu, telah gagal menghentikan pembantaian ini. Pasukan tersebut dianggap tidak melakukan tindakan  yang nyata untuk mencegah Muslim cleansing ini.

Kehadiran pasukan Prancis pun ditolak oleh umat Islam karena dianggap memihak pada milisi Kristen. Ribuan umat Islam melakukan unjuk rasa di ibukota Bangui setelah terjadinya pembunuhan tiga orang Muslim yang dilakuka oleh tentara Prancis.

Hal yang senada dinyatakan Human Right Watch pada hari yang sama. Dalam pernyatakannya lembaga HAM ini mengatakan populasi minoritas Muslim di negara itu telah menjadi sasaran gelombang kekerasan tanpa henti yang terkoordinasi. Umat Islam dipaksa untuk meninggalkan negara itu.

Antonio Guterres, kepala Badan Pengungsi PBB, mengatakan, dia telah melihat bencana kemanusiaan dengan proporsi tak terkatakan di Afrika Tengah. "Pembersihan masif etno-religius," sebut dia.

Guterres menyebutkan pembunuhan tanpa pandang bulu dan pembantaian telah terjadi, dengan kebiadaban dan kebrutalan yang mengejutkan. Total sejak konflik terjadi ada 2,5 juta orang yang telantar, sebagian besar adalah Muslim. Puluhan ribu orang mengungsi dari kampungnya tetapi kemudian terjebak tanpa tujuan. Di Bangui saja ribuan orang berada di dalam ghetto dengan kondisi memprihatinkan.

Pembantaian ini dilakukan secara sadis yang tidak bisa dibayangkan dilakukan oleh manusia normal.  Secara terbuka, milisi Kristen memakan daging seorang Muslim yang mereka bunuh. Wanita-wanita Muslimah juga diperkosa. Rumah-rumah dan masjid dibakar dan dihancurkan. Penyiksaan terhadap Muslim dilakukan di jalan-jalan secara terbuka. Raut wajah militan  Kristen ini pun tampak gembira dan penuh kesombongan saat melakukan kejahatan tersebut.

“Muslim! Muslim! Muslim. Saya menusuknya di kepala. Saya menuangkan bensin padanya. Saya membakarnya. Lalu saya memakan kakinya, semuanya hingga ke tulang-tulangnya dengan roti. Itu sebabnya orang-orang memanggilku dengan sebutan Mad Dog (anjing gila), “ ujar Magloire, anggota milisi Kristen, dengan sombongnya.

Meski telah menjadi korban, umat Islam pun disalahkan dalam pembataian ini. Menyalahkan korban (blame the victim) menjadi pola yang berulang.  Umat Islam dianggap bersekongkol dengan Michel Djaotodia  (seorang yang kebetulan Muslim)  yang  didukung koalisi Seleka menggulingkan Presiden Francois Bozize pada bulan Maret 2013 yang telah berkuasa selama 10 tahun. Kekacauan pun terjadi, terjadi saling serang antara pendukung Michel Djaotodia dan Bozize.

Setelah Djaotodia mengundurkan diri, terjadi aksi yang diklaim sebagai aksi balas dendam. Seluruh umat Islam pun dianggap bersalah dan dibantai.  Padahal selama ini umat Islam (15 persen dari penduduk CAR) dan warga Kristen bersama penganut agama-agama lokal lainnya  hidup berdampingan dengan damai.

Seperti biasa, Barat pun tidak begitu peduli dengan apa yang menimpa umat Islam. Sistem internasional ala kapitalis dengan organ PBB-nya gagal. Termasuk penguasa-penguasa negeri Islam pun diam seribu bahasa.

Semua ini menunjukkan bagaimana nasionalisme telah menjadi racun  yang mematikan umat Islam. Dengan alasan, tidak berhubungan dengan kepentingan nasional,  penguasa-penguasa negeri Islam tidak ambil pusing. Tidak peduli dengan nasib Muslim di Negara Afrika Tengah, tidak ambil pusing dengan penderitaan Muslim rohingya, Palestina, Irak dan negeri-negeri Islam lainnya.

Padahal Rasulullah SAW telah mengecam ikatan ashabiyah yang bukan bersumber dari akidah Islam. “Bukan termasuk umatku orang yang mengajak pada ‘ashabiyah; bukan termasuk umatku orang yang berperang atas dasar ‘ashabiyah; bukan termasuk umatku orang yang mati atas dasar ‘ashabiyah.” (HR Abu Dawud).

Belenggu nasionalisme terbukti mengikis ukhuwah islamiyah dan kepedulian umat sehingga umat menjadi lemah. Negeri-negeri Islam menjadi santapan empuk bangsa-bangsa imperialis, meskipun jumlah kita lebih dari 1,5 milyar di seluruh dunia.

Karena itu, racun nasionalisme sudah selayaknya dibuang jauh-jauh dari pemikiran umat. Dan kita harus bersungguh-sungguh untuk memperjuangkan kembalinya Khilafah Islam yang akan melindungi setiap tetes darah umat Islam dan melindungi setiap jengkal negeri Islam dari perampokan negara-negara yang memusuhi Islam.

Terlebih lagi, umat Islam juga diwajibkan hidup dalam satu kepemimpinan seorang khalifah dalam institusi Negara Khilafah, bukan justru mengadopsi konsepsi nation state yang dipimpin oleh puluhan presiden atau raja seperti saat ini. “Jika dibaiat dua orang khalifah(kepala negara) maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.” (HR Muslim). [] Farid Wadjdi

 

 
[122] Gerakan Mahasiswa Inginkan Khilafah PDF Print E-mail
Thursday, 20 March 2014 00:04

Bila masih ingin dijajah dan terpuruk, silakan pertahankan demokrasi. Tapi bila inginkan kebaikan dan kesejahteraan, maka perjuangkanlah khilafah.

Bandung kembali menjadi lautan api.  Yah, api itu adalah semangat perjuangan dari mahasiswa Muslim yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa (GEMA) Pembebasan. Dengan membawa bendera oranges troops mereka menggelar Kongres Mahasiswa Indonesia 2014, Ahad (2/3) di depan Gedung Sate Bandung, Jawa Barat.

Syair lagu perjuangan halo-halo Bandung pun dinyanyikan dengan penuh semangat perjuangan;

Halo Bandung, ibukota perjuangan..

Halo halo Bandung, kotanya pergerakan..

Sudah lama kita, ditindas demokrasi..

Sekarang, sudah waktunya kita melawan, mari bung rebut kembali.

Kongres yang mengambil tema besar ‘Khilafah sebagai Mainstream Perjuangan’ ini dihadiri ribuan mahasiswa dari berbagai wilayah di Indonesia. Mereka menyatukan tekad untuk bergerak bersama berjuang mengganti demokrasi dengan tegaknya Islam dalam naungan daulah khilafah

Pengurus GEMA Pembebasan Jawab barat, Ipank Fatin menerangkan, mahasiswa harus meninggalkan paham ideologi kufur, baik kapitalis demokrasi maupun sosialisme komunisme. “Kedua ideologi tersebut secara nyata telah menjerumuskan negeri ini dalam jurang kehancuran,” orasinya.

Tokoh deklarator KMII 2009, Erwin Permana mengapresiasi perjuangan GEMA Pembebasan. Menurutnya, mahasiswa saat ini membutuhkan kejelasan arah pergerakan. “Secara bergantian, mahasiswa dari berbagai daerah menyampaikan orasi politiknya sebagai cerminan sikap perjuangannya. “Dalam rentang sejarahnya, mahasiswa memang berkali kali berhasil menjadi inisiator perubahan. Namun perubahan yang dilakukannya tak memberikan perbaikan. Hal demikian karena hanya mengubah rezim, tapi sistem demokrasinya masih dipertahankan” katanya.

Berkaca pada sejarah mahasiswa yang identik sebagai inisiator perubahan, Erwin juga punya harapan bahwa Khilafah Islam yang telah Allah janjikan akan terwujud di tangan mahasiswa.

Sementara, Agung Wisnuwardhana, tokoh pergerakan yang merupakan mantan aktivis ‘98, menegaskan bahwa pada dasarnya mahasiswa memang hanya punya dua buah pilihan dalam memerankan perannya sebagai agen perubahan. “Bila masih ingin dijajah dan terpuruk, silakan pertahankan demokrasi. Tapi bila inginkan kebaikan dan kesejahteraan, maka perjuangkanlah khilafah,” tandasnya.

Ia juga mengutarakan harapannya, bahwa kongres yang digelar tersebut mampu membawa bekas pada seluruh mahasiswa yang hadir. “Saya berharap, sepulang kongres ini, semuanya bisa berjuang melakukan tiga hal kepada masyarakat. Yakni edukasi, artikulasi dan agregasi. Hingga kemudian muncul kesadaran untuk menegakkan khilafah di tengah tengah umat” pungkasnya.[] Farhan-Fatih

 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 486

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved