MediaUmat.com
Pelajaran Qaddafi untuk Pemimpin Negeri Muslim, Termasuk Indonesia PDF Print E-mail
Thursday, 14 July 2011 16:39

Pada  sore  hari  tanggal  15/3/2011 channel TV Jerman “RTL” menyiarkan  wawancara  dengan  Qaddafi, sang kriminal ini. Dalam wawancara itu ia mengklaim  bahwa  “Libya  hanya  sedang mengalami insiden kecil saja, sebagian besar situasi negara dalam keadaan tenang dan normal, serta  tidak  ada  aksi-aksi  demonstrasi.”

Ia  membantah  bahwa  dirinya  telah melakukan  penindasan  terhadap  para demonstran damai. Namun di bagian akhir pembicaraannya ia bersumpah akan menghancurkan kekuatan kaum Muslim di Libya yang  mencoba  untuk  melawannya.  Ia menyebut kaum Muslim yang memberontak  sebagai  “gerombolan"  yang  berafiliasi dengan Alqaidah.

Qaddafi  mengecam  negara-negara Barat  yang  telah  mendukungnya  selama empat dekade. Ia tidak habis pikir, “Apa yang telah saya lakukan yang mengecewakan mereka?!”

Ia juga mengecam Sarkozy (Presiden Prancis) dengan mengatakan Sarkozy sakit jiwa. Pada kesempatan lain Qaddafi berkata kepada surat kabar Italia “Il   Giornale” bahwa  “Ia  sedang  memasuki  sebuah peperangan melawan Alqaidah. Dan ia akan meninggalkan  koalisi  internasional  melawan  terorisme  jika  Barat  memperlakukannya secara negatif, seperti yang terjadi pada mantan Presiden Irak Saddam Hussein. Bahkan sebaliknya, ia akan bersekutu dengan  Alqaidah  menyatakan  jihad,  dan mengecam teman baiknya Perdana Menteri Italia, Berlusconi.”

Perlu  diketahui  bahwa  penasihat khusus  politik  Qaddafi  adalah  mantan Perdana  Menteri  Inggris  Tony  Blair.  Ia membayar  Blair  hingga  satu  juta  dolar dalam setiap bulannya.

Anak  Qaddafi,  Saif  al-Islam (6/6/2010)  menyebutkan  dalam  sebuah wawancara dengan surat kabar Inggris Daily Mail  bahwa  Blair  bertindak  sebagai konsultan untuk pengelolaan dana kekayaan minyak  pemerintah  Libya,  yang  nilainya diperkirakan lebih dari 94 milyar dolar. Blair sering datang ke Libya.

Dengan  demikian  Qaddafi  sesungguhnya sedang melakukan pengakuan bahwa dirinya adalah budak Barat. Pengabdian Qaddafi yang tulus kepada Barat, sekalipun untuk itu ia harus memerangi Islam, mengingkari  Sunah,  dengan  sengaja  menyimpangkan makna Alquran, menghukum mati para aktivis Hizbut Tahrir yang melawan tiraninya  diawal  tahun  1980-an,  dan menghukum  mati  mereka  yang  dengan ikhlas melakukan perubahan.

Ia juga telah menghina kaum Muslim Libya, menjadikan rakyatnya miskin, serta menjadikan negaranya terbelakang. Sebaliknya,  ia  membuka  pintu  selebar-lebarnya untuk  perusahaan-perusahaan  Barat  agar dapat dengan mudah menjarah kekayaan umat ini, serta menyimpan uang rakyat di bank-bank  dan  perusahaan-perusahaan Barat  yang dengannya mendanai aktivitas perekonomian Barat.

Maka, budak tetaplah budak. Tuannya, Barat telah siap untuk menjualnya jika tiba saatnya untuk dijual atau tuannya melihat adanya bahaya bila tetap mempertahankannya. Keberadaannya tidak ada harganya sama sekali.

Tipikal  penguasa  bermental  budak tampak  di  seluruh  negeri-negeri  Islam, termasuk  Indonesia.  Rezim  di  Indonesia pun menuruti keinginan asing dan memberikan keuntungan bagi mereka, walaupun untuk itu rakyatnya harus menderita.

Kekayaan alam Indonesia saat ini 80 persen dikuasai oleh perusahaan asing. Tak lama setelah Obama datang ke Indonesia blok  Natuna  yang  kaya  gas  dan  minyak pengelolaannya diserahkan kembali kepada ExxonMobil.

Terhadap Islam dan kaum Muslimin yang  berdakwah  dengan  ikhlas  dalam rangka  menegakkan  syariat  dan  khilafah, sering mendapatkan intimidasi dan tekanan, termasuk tuduhan teroris. Sementara kepada penghina Islam seperti aliran Ahmadiyah  atau  JIL  pemerintah  cenderung membela dan melindungi.

Pelajaran  pahit  yang  menimpa Qaddafi,  seharusnya  membuka  mata  penguasa negeri ini.

Allah SWT berfirman dalam Alquran :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (orang kafir), (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa  yang  menyusahkan  kamu.  Telah  nyata kebencian  dari  mulut  mereka,  dan  apa  yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu!  Kamu menyukai mereka padahal  mereka  tidak  menyukaimu…..”  (Ali Imron [3] : 118 – 119).[]

 
[127] Bicaralah, Jangan Diam PDF Print E-mail
Thursday, 22 May 2014 13:16

Oleh: Farhan Akbar Muttaqi [Jurnalis, Aktivis Kajian Islam Mahasiswa UPI Bandung]

“Talk Less, Do More.” Pernah melihat slogan tersebut? Bila dimaknai, slogan tersebut memberi kesan bagi pembacanya untuk tak banyak berbicara, dan sebaliknya memperbanyak bertindak. Seolah ada pertentangan antara 'berbicara' dan 'bertindak'. Berbicara dipojokkan sebagai sesuatu yang buruk, dan bertindak digaungkan sebagai sesuatu yang baik. Itulah maksud yang didapat dari slogan tersebut.

Padahal sebenarnya, bila dikaji dalam sudut pandang linguistik, berbicara dan bertindak bukanlah hal yang berlawanan. Bahkan justru keduanya merupakan hal yang saling terkait dan berkelindan. Dalam salah satu cabang kajian linguistik yang bernama Pragmatik, terdapat sebuah bahasan mengenai spech act (tindak tutur). Dalam kajian tersebut dikatakan bahwa sebenarnya tuturan—termasuk dalam pembicaraan--, hakikatnya adalah tindakan. Intinya, ketika seseorang berbicara, maka hakikatnya ia sedang bertindak.

Secara lebih sederhana, bila diltengok dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata bicara yang telah diberi imbuhan ‘ber-‘, yakni berbicara, merupakan kata yang terkategori verba. Verba sendiri lazim dikenal dengan kata kerja. Sementara kata kerja identik dengan berbagai kata yang menunjukan bahwa maknanya adalah hal-hal yang berupa tindakan.

Sayangnya, karena tak banyak orang yang memahami ini, akhirnya mereka mengalami kesalahan berpikir. Mereka akhirnya merespon kampanye talk less, do more dengan memperbanyak diam, kendati memiliki banyak hal baik untuk dibicarakan. Bahkan lebih fatal lagi, mereka bahkan menghujat orang yang banyak bicara. Tak peduli baik atau buruk yang dibicarakannya. Karena dalam pikirannya, berbicara dianggap tak berguna.

Pembodohan dan Penjajahan

Sebagaimana diketahui, saat ini kaum Muslimin tengah mengalami keterpurukan dan membutuhkan perubahan. Dan bila ditinjau secara konseptual maupun historis, sebuah gerakan yang mendorong terciptanya perubahan selalu berawal dari pembicaraan. Dengan kata lain, di dalamnya terdapat peran besar orang orang yang banyak berbicara.

Dalam Islam sendiri, dikenal istilah dakwah. Dakwah adalah aktivitas menyeru yang ditujukan untuk mengarahkan manusia kepada jalan Islam. Dakwah adalah perkara penting yang diulang-ulang perintahnya berkali kali dalam Alquran.

Dahulu, dalam dakwahnya Rasul SAW pada faktanya kerap, bahkan sering berbicara. Para sahabat yang semula jahiliyah dan kemudian berubah akidahnya menjadi Islam adalah karena mereka mendapati orang yang berbicara tentang Islam kepadanya.  Demikian halnya yang menyebabkan mereka bersemangat dan istiqamah. Itu karena Rasul SAW sering memberikan mereka nasihat yang lagi-lagi merupakan buah dari aktivitas berbicara.

Tentunya, ini belum lagi bila kita berbicara sejarah. Dalam sejarahnya, ‘kebangkitan’ golongan atau bangsa tertentu juga tak lepas dari peran mereka yang berbicara. Cendekiawan Eropa di dalam dark age, kebangkitan Jerman di masa Hittler, atau perlawanan rakyat Indonesia terhadap Belanda, dan sebagainya. Semuanya dilecutkan oleh kehadiran mereka yang berbicara. Maka tak heran bila sejarah hampir selalu mencatat bahwa “tokoh perubahan adalah tokoh yang pandai bicara."

Dalam ranah yang paling dekat dengan kita, dapat disaksikan bahwa manusia itu bisa berubah menjadi pintar dan cerdas karena diberi ilmu oleh orang yang berbicara kepadanya. Guru guru dan para ustadz yang berniat memperbaiki umat, menjadikan berbicara sebagai sarana untuk mewujudkan niat baiknya.

Demikian seseorang yang pada mulanya tak memiliki keinginan berjuang, kemudian tiba-tiba ingin. Itupun hampir dipastikan karena peran mereka yang berbicara. Ya, kini pertanyakanlah, bisakah Anda temukan manusia atau segolongan manusia yang dapat berubah tanpa ada wasilah orang yang berbicara?

Tapi tentu, dalam Islam, bicara tak boleh sembarang bicara. Kalau memang tak punya pembicaraan yang baik, diam lebih diutamakan. Tapi selama kita masih memiliki hal-hal yang baik, maka bicara adalah keharusan. Terlebih, dengan kenyataan bahwa umat Islam saat ini terpuruk dan memerlukan kebangkitan dengan tegaknya Khilafah Islamiyah.

Tentunya, musykil Khilafah Islamiyah dapat tegak tanpa sebelumnya dilatari kesadaran umum [wa’yul amm’] mengenai rusaknya sistem demokrasi-kapitalis, dan pentingnya keberadaan Khilafah Islamiyah di tengah-tengah kaum Muslimin.

Dan alangkah musykil pula kesadaran umum itu dapat terwujud tanpa kehadiran orang orang yang berbicara tentang hal tersebut ke tengah umat. Ya, musykil! Maka kesimpulannya, apa maksud dari kampanye talkless, do more itu? Jelas, jawabannya hanyalah pembodohan berbalut penjajahan![]

 

 
[127] Sejarah Kelam Koalisi Parpol Islam PDF Print E-mail
Thursday, 22 May 2014 14:06

Poros Tengah dibuat untuk menjegal Megawati, tapi kemudian mereka sendiri yang mendudukkan anak Soekarno ini sebagai presiden.

Koalisi parpol Islam baik dengan sesama parpol Islam maupun dengan yang bukan parpol Islam sudah berlangsung sama, bahkan sejak paca kemerdekaan.  Bahkan koalisi parpol Islam dan parpol sekuler sejak tahun 1945 sudah pernah terjadi.

Masyumi yang sering dipersepsikan sebagai parpol Islam ideologis bahkan dianggap paling ideologis telah menjalin koalisi dengan berbagai parpol sekuler. Pada tahun 1945-1946 dalam Kabinet Syahrir I, Masyumi berkoalisi dengan Parkindo (Parpol Kristen Indonesia). Lalu, pada tahun 1950-1951 dalam Kabinet Natsir, Masyumi berkoalisi dengan PSI (Partai Sosialis Indonesia).  Dan pada tahun 1951-1952 dalam Kabinet Sukiman dan tahun 1952-1953 dalam Kabinet Wilopo Masyumi berkoalisi dengan PNI. (Alfian, 1981; Ricklefs, 2005; Mashad, 2008; Kiswanto, 2008).

Hanya saja koalisi yang terjadi selama Orde Lama itu hanya pada kabinet tanpa menentukan kepala negara. Selama Orde Lama sendiri Pemilu hanya digelar sekali pada tahun 1955.  Sementara pada masa Orde Baru meski Pemilu digelar enam kali (1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997), namun tidak pernah ada koalisi parpol.  Perlu diingat bahwa tiga parpol dalam masa Orde Baru adalah hasil penyederhanaan. Masing-masing adalah gabungan dari beberapa parpol yang dianggap sehaluan.

Barulah era reformasi bisa dikatakan era koalisi, sebab sejak 1999 hingga sekarang tidak pernah kosong dari koalisi.  Sekaligus era Reformasi menunjukkan parpol-parpol,  termasuk parpol Islam, benar-benar pragmatis. Baik level pusat maupun di daerah. Dengan pola pragmatisme, koalisi parpol dilakukan hanya demi mengejar kekuasaan, mendudukkan orang di kursi jabatan dan kekuasaan.

Faktor idealise, gagasan, konsep apalagi ideologi tidak lagi digubris sama sekali.  Bahkan boleh jadi semua faktor itu sudah hilang atau hampir hilang dari parpol-parpol yang ada.  Tolok ukur koalisi hanya satu yaitu tolok ukur kekuasaan.  Parpol termasuk parpol Islam berkoalisi dengan tolok ukur mana yang secara hitung-hitungan lebih besar kemungkinan untuk menang dan apa yang akan didapat.

Catatan koalisi era reformasi diawali pada tahun 1999 dengan terbentuknya Poros Tengah yang dipelopori oleh PAN dan PPP yang akhirnya berhasil mendudukkan Gus Dur di kursi presiden.  Koalisi Poros Tengah itu dianggap untuk menjegal Megawati menjadi presiden dan berhasil meski PDIP meraih suara 33 persen pada Pemilu 1999 itu.  Namun mereka yang ikut dalam gerbong koalisi Poros Tengah jugalah yang lantas menurunkan Gus Dur dan kemudian memilih Megawati menjadi presiden.

Jika sebelumnya larangan mengangkat perempuan menjadi penguasa dijadikan alasan, berikutnya ketika mendukung Megawati pun alasan itu ditinggalkan atau ditafsirkan ulang.

Berikutnya pada Pemilu 2004, parpol juga menyuguhkan koalisi pragmatis yang cenderung haus kekuasaan dan jabatan.  Bagaimana tidak, ketika itu dalam semalam saja bisa terjadi perubahan sikap dan dukungan parpol kepada calon presiden.  Pada pemilu 2009 koalisi terbentuk lebih awal dan dipermanenkan setelah pilpres dalam bentuk Setgab.

Koalisi yang terbentuk era Reformasi semua bersifat pragmatis, nir ideologi, gagasan dan konsep.  Parpol Islam pun berkoalisi dengan yang bukan parpol Islam, dengan parpol sekuler dan nasionalis.

Hasil dari koalisi degan parpol sekuler itu, sejatinya parpol Islam tidak pernah menang.  Benar bahwa parpol Islam dengan berkoalisi dengan parol sekuler itu bisa mendudukkan para politisinya di kursi jabatan di pusat dan kursi kekuasaan di sejumlah daerah.  Tapi itu bukan kemenangan.  Sebab jabatan dan kekuasaan yang didapat bukanlah kekuasan yang utuh, tetapi hanya sebagian saja atau bahkan sebagian kecil.

Lebih dari itu, yang harus diwujudkan bukan hanya mendudukkan orang Islam di kursi kekuasaan dan pemerintahan, tetapi adalah mendudukkan Islam di pemerintahan.  Selama hanya orang Islam yang duduk di pemerintahan untuk menjalankan hukum dan sistem yang tidak islami, maka itu justru merupakan kegagalan bagi Islam dan melanggengkan sistem tidak Islami agar tetap eksis.

Koalisi parpol Islam dengan parpol sekuler juga membawa bahaya yang mendasar bagi parpol Islam sendiri.  Koalisi mengharuskan kompromi kepentingan, seruan.  Dengan berkoalisi dengan partai sekuler nasionalis yang mengusung sekulerisme dan sistem yang tidak islami, sistem buatan manusia, parpol Islam harus mengkompromikan Islam yang diusung, itupun jika benar mengusung Islam, dengan sekulerisme dan sistem positif buatan manusia sebagai produk dari sistem demokrasi.

Padahal Allah SWT tegas elarang mencampuradukkan antara yang haq dan yang batil.  Dengan berkoalisi itu, para politisi parpol Islam juga harus berkawan erat dan cenderung kepada orang-orang sekuler dan setidaknya diam terhadap sekulerisme dan sistem/aturan yang bertentangan dengan Islam yang mereka serukan, mereka jaga dan pertahankan.

Di samping itu, dengan keterlibatan parpol Islam di dalam koalisi dan pemerintahan yang sekuler itu, parpol Islam akan dijadikan ornamen untuk memperindah sekulerisme. Dengan enteng rezim sekuler akan mengatakan, pemerintahan mereka islami atau tidak bertentangan dengan Islam dan tidak merugikan Islam, sebab pemerintahan mereka didukung oleh parpol Islam dengan menempatkan politisi Islam di dalamnya.

Akhirnya koalisi itu membuat parpol Islam tidak ada bedanya dengan parpol sekuler. Dengan itu, umat sulit untuk tertarik dengan parpol Islam, sebab toh sama saja dengan yang bukan parpol Islam.  Dan bahaya yang lebih besar, dengan perilaku parpol Islam seperti itu, kepercayaan umat terhadap kelompok Islam bisa terkikis. Semua itu akan sangat merugikan Islam sendiri. [] LS HTI

BOKS:

Berkaca ke Mancanegara

Koalisi pragmatis seperti yang dipertontonkan di negeri oleh parpol termasuk parpol Islam mengingatkan orang pada koalisi Ikhwanul Muslimin dengan beberapa parpol sekuler di Mesir. Ikhwanul Muslimin di Mesir pernah berkoalisi dengan Parpol Wafd, yang merupakan gabungan parpol komunis dan parpol sekuler di Mesir. Ikhwan juga pernah berkoalisi dengan Parpol Asy-Sya’ab, yaitu parpol buruh dalam pemilu anggota legislatif.

Gerakan Islam Syiria juga pernah berkoalisi dengan unsur kekuatan nasionalis Syiria untuk beroposisi dengan penguasa dan dalam rangka berupaya menggantikannya. Gerakan dakwah Yaman juga pernah berkoalisi dengan parpol berkuasa dan kemudian membentuk lembaga kepresidenan untuk menjalankan pemerintahan. Gerakan dakwah Islam di Sudan juga pernah berkoalisi dengan tentara untuk menjalankan urusan kenegaraan.

Namun apa yang diperoleh? Maksimal yang diperoleh hanyalah mendudukkan orang Islam di sebagian kursi pemerintahan.  Sementara Islam sendiri belum sampai ke pemerintahan.

Lebih umum lagi, keterlibatan partai Islam atau gerakan Islam dalam pemerintahan dan sistem sekuler buatan manusia juga bukan hal baru.  Meski semua itu dibenarkan, nyatanya ketika kelompok Islam menang dari Pemilu, bahkan dapat suara mayoritas, akhirnya dijegal.  Kejadian yang menimpa FIS di Aljazair, HAMAS di Palestina, Mursi dengan IM di Mesir cukup menjadi pelajaran.

Pepatah mengatakan orang yang cerdas adalah orang yang mengambil pelajaran dari apa yang dialami orang lain.  Di samping itu, Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa orang Mukmin tidak layak dipatok oleh ular dari lubang yang sama dua kali.  [] LS HTI

 
[127] Menghadapi Siswa Yang Bersifat “Keras” PDF Print E-mail
Thursday, 22 May 2014 13:18

Assalaamu’alaikum Wr. Wb.

Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga yang saya hormati. Saya seorang guru, ada salah satu siswa saya laki-laki, usia SMP yang memiliki sifat keras, suka berontak, mudah marah, berani protes dan menolak. Seringkali jika ada yang tidak sesuai dengan keinginannya,  melampiaskannya dengan  memukul-mukul benda, atau berperilaku tidak sopan. Padahal menurut saya, semestinya anak seusiannya sudah mampu mengendalikan emosinya. Apa yang semestinya saya lakukan agar bisa memberikan perlakuan dengan tepat. Terima kasih atas sarannya.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

AS

0857145XXXXX

Wa’alaikumsalam Wr.Wb.

AS yang baik,

Anak yang memiliki sifat keras, suka berontak, pemarah atau emosional  memang sering menimbulkan masalah. Ada kalanya  kemarahannya dilampiaskan dengan cara memukul, membanting benda, melempar sesuatu, menendang meja, mengacaukan segala hal, berteriak-teriak penuh kemarahan atau berperilaku tidak sopan. Anak seperti ini biasanya terlihat sangat keras kepala, susah diatur, kukuh pada kemauannya, selalu merasa benar dan cenderung mengabaikan perkataan orang lain.

AS yang baik,

Sebelum Anda mencoba mememberikan perlakuan pada siswa Anda, cobalah cari tahu dulu sebabnya.  Sebaiknya Anda berkomunikasi intensif dengan orang tuanya.  Ada sejumlah faktor yang dapat memengaruhi timbulnya kebiasaan buruk seperti yang tampak pada siswa Anda. Di antaranya,  karena pola asuh orang tua, perilaku orang tua dan ketidakkompakan antara ayah dan ibu. Orang tua yang terlalu membebaskan anak tanpa kontrol membuat anak merasa benar sendiri dan tidak mau mendengarkan orang lain.

Hal yang juga penting dalam pendidikan anak adalah kekompakan dalam menerapkan pola asuh. Ketika ada penerapan aturan yang berbeda antara ayah dan ibu misalnya, maka anak akan mengalami kebingungan. Dan biasanya anak akan cenderung memilih aturan-aturan yang lebih menyenangkan untuknya.

AS yang baik,

Setelah Anda berkomunikasi dengan orang tuanya, jalin kedekatan dengan siswa Anda. Menjalin kedekatan adalah cara terbaik menangani anak yang memiliki sifat keras. Komunikasi dua arah harus terjalin dengan baik. Ajak siswa Anda berbicara dan tanyakan alasannya, mengapa dia membantah atau bersikeras dengan pendapatnya. Bila alasannya tidak tepat, beri larangan tegas namun tetap disertai kesabaran. Cara ini akan memberikan pemahaman tentang batasan pada anak, tanpa membuatnya merasa ditolak. Seringlah ajak siswa Anda berbicara dari hati ke hati. Tanyakan apa yang menjadi keinginannya. Kemukakan dengan bijak alasan Anda melarangnya, tentang aturan-aturan yang diterapkan di sekolah. Anda harus yakin,  bahwa secara pasti siswa Anda paham, jika teguran atau larangan yang Anda sampaikan, bukan karena benci, melainkan karena rasa sayang Anda padanya. Jangan lupa berikan pujian ketika siswa Anda mulai memperlihatkan perubahan. Anak yang “keras” bisa jadi karena kurang mendapatkan atau merasakan penghargaan dari orang tuanya.

AS yang baik,

Meski sudah usia SMP, terkadang ada juga anak yang masih sulit mengendalikan emosinya. Bahkan terkadang, di usia ini anak menjadi lebih keras sikapnya, susah diatur dan selalu ingin memberontak. Bersikap  tidak sopan kepada orang tua, guru, malas ke sekolah, dan sebagainya. Padahal, bagi setiap orang tua dan guru tentu ingin mempunyai anak yang berakhlak baik, taat, rajin, pandai, dan penurut. Anak yang memiliki kemauan keras, membutuhkan pembimbing yang  kuat. Berkomunikasi dengan anak yang sudah mulai memasuki usia remaja tentu tidak sama seperti ketika mereka masih kecil. Kenali dan pahami perasaan siswa Anda, pilih kata dan kalimat yang tepat saat berkomunikasi. Adakalanya Anda harus bersikap tegas, lembut, atau menjadi seorang sahabat.  Bersahabatlah dengan siswa Anda, namun tetap menjaga kewibawaan sebagai guru. Dengan menjadi sahabatnya diharapkan mampu menciptakan suasana yang nyaman,  saling percaya dan rasa saling menghargai. Menghadapi anak yang keras memang terkadang melelahkan, tapi jika tepat memperlakukannya, insya Allah akan menjadi anak yang sukses, termotivasi, dan terarah dengan baik. Dibutuhkan kesabaran, kebijaksanaan dan perhatian. Semoga Anda diberikan kesabaran dalam membimbingnya.

 

 

 
[127] Bisnis di Era Khilafah PDF Print E-mail
Friday, 23 May 2014 22:04

Muslimpreneur,

Paling tidak sejak Januari 2014 ini,  tulisan di kolom ini memberi pesan kuat, khususnya pada pengusaha Muslim tentang betapa nestapanya negeri ini (dan juga dunia) berada dalam cengkraman sistem demokrasi.  Tentu kita masih ingat peringatan Rutherford, Presiden AS di tahun 1876, yang membongkar karakter asli demokrasi itu sebagai ‘from Company, by Company and for Company’.  Sungguh  demokrasi itu democrazy antara penguasa hitam dengan pengusaha hitam! Negeri ini terus terjerembab dalam praktek ganas negara korporasi yang paripurna!

Ini semua pemandangan yang amat kontras dengan sistem Islam, yakni khilafah. Lalu, kita pun bertanya, seperti apa praktek bisnis dalam sistem Islam yang terbentang sepanjang 14 abad lalu itu.

Dua penggalan sejarah berikut rasanya sudah lebih dari cukup menggambarkan betapa luar biasanya negara beserta sistem Islamnya dalam menjaga keberlangsungan dunia bisnis yang memberi maslahat dunia akhirat...

  • Khilafah Mengamankan Jalur Perdagangan

Kisah bermula dari Surat Sultan Ala Al-Din Riayat Syah dari Aceh kepada Khalifah yang dibawa Huseyn Effendi.  Berisi laporan tentang aktivitas militer Portugis yang menimbulkan masalah besar bagi para pedagang Muslim dan jamaah haji dalam perjalanan ke Makkah. Bantuan Utsmani sangat mendesak untuk menyelamatkan kaum Muslim yang terus dibantai Farangi (Portugis) kafir.

Khalifah Sultan Selim II (974-982 H/1566-1574 M), merespon dengan memerintahkan ekspedisi besar militer ke Aceh. September 975 H/1567 M, Laksamana Utsmani di Suez, Kurtoglu Hizir Reis berlayar ke  Aceh. Pasukan ini diperintahkan berada di Aceh selama masih dibutuhkan oleh Sultan.  Pasukan tiba di Aceh tahun 1566-1577 M sebanyak 500 orang, termasuk ahli-ahli senjata api, penembak, dan ahli-ahli teknik. Dengan bantuan ini, Aceh menyerang Portugis di Malaka pada tahun 1568 M.

Dampak keberhasilan Khilafah Utsmaniyah menghadang Portugis di Lautan Hindia ini sangatlah besar. Di antaranya mampu mempertahankan jalan-jalan menuju haji; kesinambungan pertukaran barang-barang India dengan pedagang Eropa di pasar Aleppo, Kairo, dan Istambul; serta kesinambungan jalur-jalur bisnis antara India dan Indonesia dengan Timur Jauh melalui Teluk Arab dan Laut Merah (www.swaramuslim.com). Masya Allah.

  • Kesejahteraan Ahlu Dzimmah Terjaga di Bawah Negara Islam. Mereka Berhak Menggarap Berbagai Bisnis.

Cecil Roth menyatakan bahwa perlakuan Khalifah Ottoman pada kaum Yahudi telah menarik perhatian kaum Yahudi dari berbagai negeri Eropa Barat. Wilayah Islam pun menjadi lahan emas. Dokter-dokter Yahudi dari Akademi Salanca dipekerjakan untuk mengurusi Sultan dan para Wazir. Di berbagai tempat, industri pembuatan gelas dan penempaan logam menjadi bidang-bidang yang dimonopoli kaum Yahudi, dengan pengetahuan mereka dalam penguasaan bahasa asing, mereka merupakan kompetitor utama bagi para pedagang Venesia.

Khalifah Sultan Bayazid II menyikapi pengusiran kaum Yahudi yang dilakukan oleh Ferdinand, Raja Katolik Spanyol, dengan menyatakan, “Bagaimana mungkin Ferdinand dapat disebut ‘bijak’, dia telah memiskinkan wilayah kekuasaannya guna memperkaya dirinya.” Sultan kemudian menerima pengungsi Yahudi dengan tangan terbuka. Sama halnya dengan diterimanya kaum Yahudi di Turki setelah Konstantinopel dibebaskan oleh Islam di bawah Muhammad al-Fatih (www.hizbut-tahrir.or.id). Masya Allah.

Muslimpreneur,

Demikianlah, meski hanya dua penggalan sejarah, namun mampu memberi gambaran betapa dahsyatnya peran negara dalam menjamin keberlangsungan dunia bisnis, bukan hanya bagi kaum Muslimin, namun kafir dzimmi yang berlindung di dalamnya. Semua mendapatkan maslahat hakiki, karena negara kuat menjalankan syariah. Pebisnis Muslim pun menjelma bukan hanya menjadi world class company tetapi juga world and after world class company!

Itulah yang akan kembali berulang dalam era khilafah yang akan datang tak lama lagi. Bahkan... kemakmuran dunia lahir batin akan terjadi jauh lebih dahsyat lagi! Sungguh!

Akan ada pada akhir umatku seorang khalifah yang memberikan harta secara berlimpah dan tidak terhitung banyaknya (HR. Muslim)

Penduduk langit dan bumi akan puas dengan pemerintahannya dan semacam tanaman akan ditumbuhkan oleh bumi, sehingga yang hidup akan menginginkan agar yang mati dapat kembali dihidupkan (HR. At Tabrani dan Abu Nu'aym)

Tanah ini akan kembali seperti nampan emas yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan... (HR. Ibn Majah)

 

Muslimpreneur,

Bunga bangkai bunga berbasi,

elok rupawan bau tak sedap

Demokrasi membuat rakyat dieksploitasi,

kemakmuran tak kunjung hinggap

Bunga mawar bunga melati,

indah berseri di taman hati

Khilafah penawar dahaga sejati,

Kemakmuran berseri di penjuru negeri

Pengusaha Muslim bersatulah songsong khilafah!

Muhammad Karebet Widjajakusuma

Ketua Lajnah Khusus Pengusaha HTI

Praktisi bisnis syariah bidang konsultasi dan training manajemen dan motivaksi

 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 596

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved