[127] Utang Luar Negeri Memasung Ekonomi PDF Print E-mail
Thursday, 22 May 2014 13:45

Meski utang luar negeri terus membengkak, Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati mengatakan, untuk utang pemerintah, kondisinya masih cukup terjaga.

 

Pemerintah kerap menggadang-gadang pertumbuhan ekonomi positif, bahkan tahun ini diperkirakan sebesar 5 persen. Ternyata pertumbuhan ekonomi tersebut, bukan hanya semu tapi lebih banyak dihidupkan dari utang.

Jika melihat data Bank Indonesia, ternyata pertumbuhan utang Indonesia terus bergerak naik. Bayangkan saja, dalam setahun ini (Februari 2013-Februari 2014) tumbuh 7,4 persen.

Angka itu  lebih tinggi dari pertumbuan year on year periode Januari 2013-204 yang mencapai 7,2 persen.  Bahkan utang pada posisi Januari juga jauh lebih tinggi dibandingkan perumbuhan Desember 2013 yang hanya 4,6 persen.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Tirta Segara mengatakan, utang luar negeri Indonesia pada Februari 2014 mencapai US$ 272,1 milyar (Rp 3.106,9 trilyun). Kenaikan nilai utang luar negeri disebabkan kenaikan pinjaman untuk sektor publik. Sebaliknya, pertumbuhan utang luar negeri sektor swasta melambat.

Data Bank Indonesia menyebutkan utang luar negeri sektor publik tumbuh 3,2 persen year-on-year, lebih tinggi dari pertumbuhan Januari sebesar 1,9 persen. Sedangkan utang luar negeri sektor swasta tumbuh 11,6 persen, melambat dibandingkan dengan pertumbuhan Januari yang mencapai 12,5 persen.

“Pertumbuhan utang luar negeri utamanya terjadi pada utang luar negeri jangka panjang. Pada Februari 2014, utang luar negeri jangka panjang tumbuh 9,2 persen,” kata Tirta.

Pertumbuhan utang jangka panjang Februari ini lebih tinggi dibandingkan Januari yang mencapai 7,6 persen. Sedangkan utang jangka pendek mencapai 0,5 persen pada Februari, melambat jika dibandingkan dengan Januari yang tumbuh 5,5 persen.

Utang luar negeri jangka panjang tercatat sebesar US$ 227 milyar atau mencapai 83,4 persen dari total utang luar negeri Februari 2014. Angka ini terbagi atas utang jangka panjang sektor publik sebesar US$ 124,2 milyar dan utang jangka panjang sektor swasta sebesar Rp 102,9 milyar.

Beberapa sektor yang mengalami kenaikan nilai utang adalah keuangan, transportasi, dan komunikasi. Utang untuk sektor keuangan tumbuh 13, 7 persen pada Februari dan 11,4 persen pada Januari 2014. Sedangkan sektor pengangkutan dan komunikasi naik 6,4 persen pada Februari dan 5,5 persen pada Januari 2014.

Meski pertumbuhan utang swasta melambat, Tirta mengatakan Bank Indonesia tetap memantau perkembangan utang luar negeri Indonesia sektor tersebut. Dengan demikian, utang-utang itu dapat optimal mendukung ketahanan dan kesinambungan perekonomian Indonesia.

Meski utang luar negeri terus membengkak, Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati mengatakan, untuk utang pemerintah, kondisinya masih cukup terjaga. Hal ini  karena adanya mekanisme pengawasan yang cukup jelas meliputi reprofiling, buy back, dan mekanisme penjadwalan penerbitan utang.

Justru, kata Anny,  utang sektor luar negeri sektor swasta yang perlu pengawasan. Pemerintah, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) harus mengawasi pinjaman luar negeri perusahaan swasta. Terutama yang diinvestasikan pada bisnis dan kondisi keuangan perusahaan.

“OJK harus ikut memonitor, karena ternyata banyak perusahaan go public dan perusahaan asuransi, serta pembiayaan yang melaporkan pinjaman luar negeri. OJK lah yang memiliki data mengenai perusahaan-perusahaan yang mengambil utang,” tuturnya.

Besarnya jumlah utang luar negeri tersebut menjadi beban APBN. Diperkirakan tiap tahun pemerintah harus membayar utang yang jatuh tempo sebanyak Rp 100 trilyun untuk cicilan pokok dan bunga. Belum lagi utang  domestik.

Terlihat bagaimana, utang luar negeri tersebut telah menjadi beban berat dan telah melampaui batas kemampuan suatu negara. Ujung-ujungnya rakyatlah yang harus menanggung beban utang tersebut. Caranya tak lain, pemerintah terus mengoleksi anggaran dari berbagai bentuk pajak yang membebani rakyat. APBN dibiayai dari pajak. Dari APBN itu, pemerintah lalu membayar utang luar negeri. [] Joe Lian

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved