[126] Partai Politik Islam Sejati PDF Print E-mail
Monday, 19 May 2014 23:27

“Karenanya parpol Islam bukanlah parpol terbuka dan menganut paham pluralisme.”

Mantan Wakil Presiden RI beberapa waktu lalu mengatakan bahwa saat ini tidak ada bedanya antara partai politik nasionalis sekuler dan Islam. Semua partai sama saja. Mengapa bisa begitu? Benarkah masyarakat tidak bisa lagi membedakan?

Ini bisa jadi partai politik Islam telah kehilangan jatidirinya. Seperti apa sebenarnya partai politik Islam yang sejati?

Menyimak pendapat Profesor Miriam Budiardjo, “partai politik adalah suatu kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita yang sama dengan tujuan memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik (biasanya), dengan cara konstitusional guna melaksanakan kebijakan-kebijakan mereka.”

Sedangkan seorang ilmuwan politik dan sosiologis asal Jerman Sigmund Neumann mengatakan: Partai politik adalah organisasi dari aktivitas-aktivitas politik yang berusaha menguasai kekuasaan pemerintah serta merebut dukungan rakyat atas dasar persaingan dengan suatu golongan atau golongan-golongan lain yang mempunyai pandangan berbeda.”

Ketua Lajnah Siyasiyah DPP HTI Yahya Abdurrahman menjelaskan, menilik pengertian partai politik tersebut ada dua hal yang penting; adanya kesamaan nilai, cita-cita dan orientasi serta persaingan dengan golongan lain yang mempunyai pandangan yang berbeda.

Dalam khazanah siyasah syar’iyyah, menurutnya, keberadaan partai politik telah lama dibahas urgensi keberadaannya. Fungsi dan tugas partai politik dalam Islam pun dengan detil telah dibahas dalam Alquran. Hal ini mengacu kepada firman Allah SWT.:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).

Lebih lanjut ia menjelaskan, Imam Abu Ja’far ath-Thabariy dalam tafsirnya menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan lafadz “ummat” pada ayat tersebut adalah “jamaah” yang berdakwah kepada masyarakat menuju al-khayr, yakni Islam dan syariatnya (Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, juz 7 hal 90, Maktabah asy-Syamilah).

Syaikh Ziyad Ghazal dalam buku Peran dan Fungsi Parpol Dalam Islam (Masyru al-Qanûn al-Ahzâb fi Dawlah al-Khilafah) menyebutkan pengertian partai politik dalam Islam adalah: “Partai Politik pengorganisasian secara kontinyu dari kaum muslimin yang memiliki tujuan aktivitas politik dengan izin dari Asy-Syari’.Yang dimaksud izin dari asy-Syâri adalah telah mendapatkan legitimasi dari Allah SWT. Artinya sifat, tugas dan fungsi parpol Islam harus memenuhi standar syariat Islam. Bukan namanya parpol Islam bila berkoalisi dengan parpol yang mengusung ide batil seperti nasionalisme, sekulerisme, atau sosialisme. Parpol seharusnya menjadikan mereka sebagai obyek dakwah, bukan sebagai mitra koalisi dalam pemerintahan.

Karena itu, Yahya menjelaskan rincian karakter partai politik Islam, yakni:

Pertama, berlandaskan akidah Islam. Syarat ini berarti menafikan segala hal yang bertentangan dengannya semisal paham sekulerisme, pluralisme. Ketentuan ini juga mengharuskan semua anggota parpol Islam hanyalah kaum muslimin, tidak boleh nonmuslim. Karena di dalam QS Ali Imran: 104 yang menjadi obyek seruan firman Allah SWT. – yakni dengan lafadz “minkum” – adalah kaum muslimin, bukan seluruh umat manusia. “Karenanya parpol Islam bukanlah parpol terbuka dan menganut paham pluralisme,” jelasnya.

Kedua, terikat dengan metode Alquran dalam menghadapi pemikiran kufur yang dihadapinya. Parpol Islam harus senantiasa menggunakan manhaj dakwah Alquran dalam setiap perjuangan politik yang dihadapinya. Alquran mengharuskan setiap parpol Islam untuk mendakwahkan Islam dengan jernih, terbuka, tidak berkamuflase dan toleran pada ide kufur yang dihadapinya. Firman Allah:

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui.” (TQS. al-Baqarah: 42)

 

Ia menjelaskan contoh. Misalnya tidak boleh seorang anggota parpol Islam ketika disudutkan oleh lawan bicaranya dengan pertanyaan, “Apakah Anda akan memaksakan penerapan syariat Islam di negeri ini?” lalu ia menghindari jawaban sebenarnya dengan mengatakan bahwa parpolnya mengusung gagasan Islam moderat, Islam yang menghargai kearifan lokal, keindonesiaan, yang tidak akan merusak tatanan budaya yang telah ada. Jawaban seperti ini menunjukkan ia telah berlepas dari manhaj Alquran dalam dakwahnya, bahkan menunjukkan hipokrisi dalam perjuangan. Bandingkan dengan perkataan Nabi Ibrahim as  saat mengetahui kaumnya tidak mau melepaskan ide paganisme, maka ia berkata tegas, "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata."(QS. al-Anbiya: 54). “Tidak ada kamuflase dan berminyak air dalam berdakwah,” tandasnya.

Ketiga, parpol Islam harus merinci tujuan yang akan diraihnya sehingga menghindarkan kelompoknya dan anggotanya dari tujuan-tujuan lain yang dapat mengacaukan perjuangan dakwah. Ia menegaskan, parpol Islam harus merumuskan terlebih dahulu apa persoalan terbesar yang dihadapi umat pada zaman sekarang (al-qodhiyyah al-mashiriyyah), nantinya tujuan inilah yang akan dijadikan target perjuangan. Menilik dari keadaan saat ini maka persoalan utama yang dihadapi umat adalah tidak adanya kehidupan Islam dalam sistem syariat Islam dan bingkai Khilafah. Berbagai produk undang-undang yang dilegislasi justru banyak yang menjauhkan bahkan merugikan umat. “Jadi tak ada nilainya bila parpol Islam bekerja untuk memenangkan pilkada ataupun merebut kursi di parlemen tapi setelah itu seperti orang kebingungan bahkan hanyut dalam permainan politik sistem demokrasi,” katanya menjelaskan.

Keempat, parpol Islam harus menentukan pemikiran Islam yang akan diberlakukan dan diperjuangkannya bersama umat. Karena tujuannya adalah membangun masyarakat Islam, maka sudah seharusnya parpol Islam memahami apa saja yang dibutuhkan untuk mewujudkannya. Parpol Islam harus mengetahui pengertian masyarakat, hukum-hukum apa yang harus dipersiapkan, pola interaksi anggota masyarakat termasuk dengan negara kafir harbi, dsb. “Ibarat membangun rumah, seseorang harus memiliki rancangan bentuk rumah yang akan ia bangun kelak,” jelasnya.

Selain itu dengan adanya pemikiran dan hukum Islam yang diadopsi oleh parpol Islam, lanjut Yahya, akan menjaga anggotanya dari berbagai pemikiran yang merusak atmosfir keislaman anggotanya.

Parpol Islam juga berdakwah setiap saat mengedukasi umat untuk memahami syariat Islam dan sistem kehidupan Islam yang paripurna. Aktivitas ini untuk menciptakan opini umum dan perasaan umum sehingga umat akan bergerak untuk memperjuangkan Islam dan menuntut penerapannya kepada mereka.

“Ironis bila parpol Islam baru kelihatan bekerja di tengah umat lima tahun sekali, jelang pemilu atau pilkada.  Itupun menjadikan umat hanya sebagai komoditas untuk diraih suaranya untuk kemudian ditinggal dan didekati lima tahun lagi,” kritiknya.

Yang tak kalah penting, tandasnya, parpol Islam harus berada di garda terdepan membela kepentingan umat dan menyuarakan syariat Islam. “Bukan untuk mendulang suara atau agar mereka duduk di kursi nyaman parlemen, tapi memang sebagai kewajiban dari Allah bagi para pengemban dakwah. Inilah sifat dan karakter parpol Islam sejati yang dinanti umat,” katanya. [IJ – LS DPP HTI]

 

 

 

 

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved