[126] Partai Islam, Riwayatmu Dulu dan Kini PDF Print E-mail
Monday, 19 May 2014 23:32

Pengantar: Partai politik Islam selalu berkiprah dalam pesta demokrasi di Indonesia. Meski sudah 10 kali ikut pemilu, alih-alih menang, parpol Islam sepertinya hanya menjadi penggembira. Mengapa sampai seperti itu dan seharusnya seperti apa parpol Islam, Fokus kali ini membahasnya.

Parpol Islam dan yang berbasis massa Islam, tak lagi terlihat menyuarakan Islam, bahkan seakan menghindar untuk diidentikkan dengan Islam.

Sejak kemerdekaan, ada puluhan partai politik, baik yang bercorak sosialis termasuk komunis, nasionalis, dan juga parpol yang dikatakan parpol Islam dan partai politik berbasis massa Islam.  Tak sedikit di antaranya yang kemudian mati di tengah perjalanan.

Jika dihitung sejak pemilu 1999, banyak parpol Islam dan parpol berbasis massa Islam yang sudah “mati”.  Di antaranya, Partai Kebangkitan Muslim Indonesia, Partai Ummat Islam, Partai Kebangkitan Ummat, Partai Masyumi Baru, Partai Syarikat Islam Indonesia, Partai Abul Yatama, Partai Syarikat Islam Indonesia 1905, Partai Politik Islam Indonesia Masyumi, Partai Nahdlatul Ummat, Partai Ummat Muslimin Indonesia, Partai Bintang Reformasi, Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia, Partai Sarikat Indonesia, Partai Sarikat Indonesia, Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia, Partai Kebangkitan Nasional Ulama, Partai Matahari Bangsa.  Semua partpol ini tidak ikut dalam kontentas pileg 2014.

Sebagian lain tetap ikut dalam kontestasi pemilu hingga kini dengan perolehan suara yang fluktuatif. Data menunjukkan, perolehan suara setiap parpol Islam dan berbasis massa Islam kurang dari sepuluh persen dan hanya beberapa partai bisa meraih belasan persen.  Itu terjadi dalam empat kali pemilu sejak 1999.  Lihat tabel.

Dari waktu ke waktu suaranya terus terpuruk. Total suara lima parpol Islam dan berbasis massa Islam yang tetap ikut kontestasi pada empat pemilu (pileg 1999, 2004, 209 dan 2014) tidak beranjak dari kisaran 30 persen dari suara sah.

Jika dihitung dari jumlah orang yang memiliki hak suara, angkanya lebih kecil lagi, sebab angka itu dari suara sah.  Perlu diingat angka golput pada pemilu 1999 sebesar 10,21 persen. Pada pileg 2004 naik menjadi 23,34 persen dan pada pemilu legislatif 2009 naik lagi menjadi 29,01 persen. Pileg 2014 ini dari rata-rata hasil Quick Count LSI dan Kompas angka golput (tidak memilih ditambah suara tidak sah) naik menjadi 34,18 persen.

Pertanyaannya, mengapa capaian parpol Islam dan parpol berbasis massa Islam terus saja rendah, jika tidak boleh dikatakan terpuruk? Jawaban pastinya memang sulit diperoleh.

Tapi yang jelas, itu mengindikasikan bahwa parpol Islam dan yang berbasis massa Islam belum bisa menarik kepercayaan pemilih. Bisa jadi karena realita parpol, kinerjanya dan kondisi para politisi dan pejabat berlatar belakang parpol tersebut.

Parpol yang ada termasuk parpol Islam dan yang berbasis massa Islam tidak ada lagi yang bisa dikatakan sebagai parpol ideologis. Semuanya telah menjelma menjadi parpol pragmatis.

Kepentingan kursi jabatan dan kekuasaan menjadi satu faktor penentu sikap.  Dari aspek ini, hampir tidak ada lagi bedanya antara parpol Islam dan yang berbasis massa Islam dengan parpol nasionalis sekuler.

Sikap pragmatis parpol Islam dan yang berbasis massa Islam itu terlihat dalam banyak kebijakan parpol, sekadar contoh adalah dalam berkoalisi. Parpol Islam dalam sejumlah pilkada berkoalisi dengan parpol nasionalis bahkan parpol Kristen (PDS).  Sikap pragmatis non ideologis parpol Islam dalam berkoalisi itu bukan belakangan saja terjadi, bahkan sudah terjadi sejak pasca kemerdekaan 1945.

Pada tahun 1945-1946 dalam kabinet Syahrir I, terjadi koalisi Masyumi – Parkrindo (Partai Kristen Indonesia).  Pada 1950-1951 dalam kabinet Natsir terjadi koalisi Masyumi-PSI (Partai Sosialis Indonesia), tahun 1951-1952 (Kabinet Sukiman) dan tahun 1952-1953 (kabinet Wilopo) terjadi koalisi Masyumi-PNI.

Pudarnya sifat idelogis Islam dan yang berbasis massa Islam, tercermin pula pada tidak adanya visi, misi, paltform pemikiran dan kerangka ide dan konsepsi yang jelas yang diperjuangkan oleh parpol dan diserukan kepada rakyat.

Lebih parah lagi, parpol Islam dan yang berbasis massa Islam, tak lagi terlihat menyuarakan Islam, bahkan seakan menghindar untuk diidentikkan dengan Islam. Sebaliknya, semua parpol seolah berlomba menggunakan slogan-slogan demokrasi, nasionalisme, humanisme, HAM dan slogan-slogan yang identik dengan sistem sekuler demokrasi.

Dari sisi sikap dan kebijakan partai, parpol Islam dan yang berbasis massa Islam juga tak ada beda dengan parpol lainnya.  Parpol-parol itu hampir selalu mendukung dan membenarkan kebijakan pemerintah yang menyalahi Islam.

Parpol Islam dan yang berbasis massa Islam juga terlibat dalam pembuatan sejumlah UU yang bercorak liberal, merugikan rakyat, menyerahkan kekayaan rakyat kepada asing dan membuka jalan bagi asing mengontrol negeri ini.  Tengok saja, UU Migas, UU Sumber Daya Air, UU Kelistrikan, UU Minerba, UU Penamanan Modal, UU Pangan, UU Pengadaaan Tanah untuk Pembangunan, UU Sisdiknas, UU BHMN, UU SJSN dan BPJS, dan UU lainnya.

Semua itu makin diperparah oleh perilaku para politisi dan pejabat yang berasal dari parpol Islam yang terlihat kurang peduli dengan nasib rakyat dan hampir tak beda dengan para politisi dari bukan parpol Islam.  Misalnya glamour, korupsi, dsb.

Walhasil, masyarakat tidak melihat ada perbedaan antara parpol Islam dengan yang bukan parpol Islam, baik dalam hal visi, misi; ide, konsep dan gagasan; sikap dan kebijakan; serta perilaku para politisi dan pejabat yang berasal dari parpol tersebut.

Masih minimnya dukungan kepada parpol Islam dan yang berbasis massa Islam itu juga mengindikasikan masih minimnya kesadaran Islam pada kebanyakan dari masyarakat.  Celakanya, parpol Islam dan yang berbasis massa Islam itu tidak terlihat nyata melakukan edukasi dan perjuangan politik untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan Islam dan keberislaman.

Di atas semua itu, parpol Islam dan yang berbasis massa Islam mengalami kegagalan yang lebih mendasar, yaitu telah kehilangan jati diri sebagai parpol Islam.  Jatidiri parpol Islam bisa distandarisari dengan firman Allah SWT: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104). [YA – Lajnah Siyasiyah DPP HTI]

BOKS:

Perolehan Suara Parpol Islam/Basis Massa Islam

Partai

Pileg 1999

Pileg 2004

Pileg 2009

Pileg 2014

Jumlah Suara

%

Jumlah Suara

%

Jumlah Suara

%

Jumlah Suara*

%**

PKB

13.336.982

12,61

11.989.564

10,57

5.146.122

4,94

11227909

9,18

PKS

1.436.565

1,36

8.325.020

7,34

8.206.955

7,88

8268046

6,76

PAN

7.528.956

7,12

7.303.324

6,44

6.254.580

6,01

9197590

7,52

PPP

11.329.905

10,71

9.248.764

8,15

5.533.214

5,32

8157969

6,67

PBB

2.049.708

1,94

2.970.487

2,62

1.864.752

1,79

1846856

1,51

Total

35.682.116

33,74

39.837.159

35,12

27.005.623

25,94

38698370

31,64

Ket:

* Diperoleh dengan mengalikan persentase rata-rata hasil Quick Count dengan jumlah suara sah.  Suara sah diprediksi sebesar 65,82% (rata-rata dari hasil Quick Count LSI 65,98% dan Kompas 65,66% ) yaitu 122308374 suara dari DPT 185.822.507 orang.

** Angka rata-rata hasil Quick Count dari enam lembaga (LSI, Cyrus Network-CSIS, Indikator, Kompas, RRI, Populi Center)

 

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved