Media Mengabaikan Dokumen Pemerintah AS Yang Bocor di Suriah PDF Print E-mail
Thursday, 09 February 2017 17:44

Mediaumat.com - Profesor Piers Robinson, Ketua Ilmu Politik, Masyarakat dan Jurnalisme Politik University of Sheffield, sepakat, dengan alasan bahwa "Saat ini, kita harus serius mengatakan kemungkinan bahwa perang di Suriah telah melibatkan suatu tingkat manipulasi dan propaganda yang sama, atau lebih besar, daripada yang terjadi dalam kasus Perang Irak tahun 2003".

Terjadi konflik yang sangat kompleks dan membingungkan dimana terdapat ratusan kelompok oposisi dan beberapa aktor eksternal seringkali dimaksud untuk menyembunyikan banyak tindakan mereka, bagaimana wartawan dan masyarakat bisa mendapatkan pemahaman yang akurat tentang apa yang terjadi di Suriah?

Saat pemerintah secara rutin menggunakan pernyataan untuk menipu publik, dokumen pemerintah yang bocor telah dilihat sebagai standar sumber jurnalistik – yang menjadi sebuah kesempatan unik untuk melihat apa yang benar-benar ada dalam pikiran orang-orang yang berkuasa dan yang mereka melakukan secara rahasia. Berkaitan dengan Suriah, terdapat sejumlah dokumen pemerintah AS yang bocor tentang kebijakan AS di wilayah tersebut.

Misalnya, wartawan liberal dan komentator telah berulang kali menyatakan bahwa AS, seperti yang ditulis Paul Mason di Guardian tahun lalu, hanya "berdiri dari kejauhan melihat konflik Suriah". Namun, rekaman audio yang bocor dari pertemuan antara Menlu Presiden Obama John Kerry, dan tokoh-tokoh oposisi Suriah tahun lalu menunjukkan bahwa yang benar adalah sebaliknya.

Saat tertantang atas tingkat dukungan AS bagi pihak pejuang, Kerry menoleh kepada ajudannya dan berkata: "Saya pikir kita telah memberikan sejumlah besar senjata, betul kan " Ajudannya membenarkannya, dan mencatat "Kelompok-kelompok bersenjata di Suriah mendapatkan banyak dukungan".

Penjelasan dari logika eskalasi ini kemudian diulang dalam pertemuan dengan ajudan Kerry, yang mencatat "Ketika Anda memberikan lebih banyak senjata ke dalam situasi seperti di Suriah, hal ini tidak berakhir dengan baik bagi rakyat Suriah karena selalu ada pihak lain yang bersedia memberikan lebih banyak senjata di sisi lain ".

Dalam dokumen DIA – suatu departemen intelijen dari Departemen Pertahanan AS – mencatat bahwa "Salafi, Ikhwanul Muslimin, dan AQI adalah kekuatan utama dari pendorong perlawanan di Suriah" dan "Barat, negara-negara Teluk dan Turki mendukung pihak oposisi".

Saat membahas krisis, laporan DIA mencatat "Ada kemungkinan untuk membangun suatu kekuasaan Salafi baik yang dideklarasikan ataupun tidak di Timur Suriah dan ini adalah apa yang diinginkan oleh para pendukung pihak oposisi, dengan maksud untuk mengisolasi rezim Suriah."

Sebaliknya, bukti-bukti menunjukkan bahwa AS telah mengirimkan senjata dalam "jumlah yang luar biasa" kepada para pejuang bersenjata di Suriah padahal benar-benar tahu bahwa Salafi, Ikhwanul Muslimin, dan al-Qaeda di Irak adalah "kekuatan utama" yang mengemudikan pemberontakan.

AS telah lama mengetahui bahwa sekutu regionalnya yakni Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya telah mendukung kelompok ekstremis di Suriah.

Lebih luas lagi, dengan menyoroti bagaimana AS menyambut baik pertumbuhan ISIS di Suriah, kebocoran dokumen itu secara fatal telah merusak seluruh pemikiran atas "Perang Melawan Teror" dari Barat yang telah dideklarasikan sejak tahun 2001.[]

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved