[126] Pemilu Afghanistan Kokohkan Boneka Amerika PDF Print E-mail
Monday, 19 May 2014 23:55

Sebanyak 60 persen dari rakyat di provinsi-provinsi selatan dan timur tidak mau berpartisipasi dalam pemilu.

Mantan Menteri Luar Negeri Afghanistan Abdullah Abdullah menang dalam hasil sementara pemilu presiden Afghanistan (5/4).  Tiga kandidat  terdepan dari delapan calon presiden adalah Ashraf Ghani, mantan menteri keuangan dan pejabat Bank Dunia; mantan Menteri Luar Negeri Zalmai Rassoul, dan Abdullah Abdullah, juga mantan menteri luar negeri.

Seperti yang dilansir BBC online (13/4), sekitar 500 ribu suara di 26 provinsi yang telah dihitung, Dr Abdullah mendapatkan 41,9 persen suara. Sementara  Ashraf Ghani mantan pejabat Bank Dunia berada pada urutan ke dua dengan meraiah 37,6 persen suara. Hasil akhir pemilu dijadwalkan akan didapat pada 24 April. Pemilu lanjutan akan dilaksanakan pada Mei jika tidak satu pun calon mendapatkan mayoritas.

Komisi Pemilu Independen memperingatkan calon yang unggul sekarang dapat berubah posisinya karena penghitungan masih berlangsung dalam beberapa hari ini. "Kemungkinan hari ini satu calon terlihat kuat. Besok, kemungkinan yang lainnya akan di peringkat  teratas," kata ketua komisi Ahmad Yousuf Nouristani.

Kandidat memerlukan sedikitnya 50 persen plus satu suara untuk memenangi pemilu presiden. Jika tidak ada seorang pun mencapainya, pemilu babak kedua perlu dilangsungkan. Amerika mengawasi secara seksama hasil pemilu itu dan berharap siapapun yang menang akan menandatangani kesepakatan keamanan bilateral yang dinegosiasikan.

Sebagaimana pemilu-pemilu lain di negeri Islam, semua media massa Afghanistan berusaha membangun citra yang positif dari proses demokrasi ini. Media terus mempromosikan pemilu Afghanistan penting untuk memilih calon terbaik yang memimpin Afghanistan lima tahun ke depan.

Dikatakan pula, presiden baru akan dipilih berdasarkan suara mayoritas melalui proses yang adil dan transparan. Utusan khusus Sekjen PBB untuk Afghanistan sebelumnya mendorong rakyat Afghanistan untuk memilih wakil mereka  untuk menentukan masa depan mereka sendiri dalam pemilihan presiden.

Hamid Karzai mengatakan partisipasi mereka dalam pemilu itu, dalam kata-katanya, “menjadikan negara tercinta kita bangga dan sukses.” Diklaim pula oleh pemerintah, jumlah pemilih yang datang ke TPS-TPS Sabtu sangat tinggi dalam pergantian kekuasaan demokratis pertama di negara itu, bahkan sejumlah TPS kehabisan surat suara.

Namun hal ini dibantah Saifullah Mustanir, aktifis Hizbut Tahrir Afghanistan. Menurutnya pemilu Afghanistan adalah sebuah kebohongan dan diharamkan dalam Islam. Meskipun hukum asalnya adalah mubah, namun tujuan pemilu ini menjadikan pemilu Afghanistan menjadi haram.

Dalam argumentasinya, Mustanir mengatakan pemilu di Afghanistan tidak lain untuk mengokohkan boneka negara-negara imperialis di negara itu. Mereka juga memberikan kedaulatan kepada manusia dalam membuat hukum. Klaim pemilu bebas merupakan kebohongan, mengingat pemilu ini diadakan dibawah pendudukan dan kontrol pasukan NATO yang dipimpin Amerika Serikat.

Menurutnya, seperti di negeri-negeri Islam lain, pemilu digunakan untuk melegitimasi keberadaan penjajah dalam berbagai bentuk. “ Tujuan pemilu sebenarnya adalah menciptakan para penguasa boneka, bukan untuk melindungi rakyat, melainkan untuk melindungi kepentingan tuannya, salah satu contoh yang paling jelas yang membuktikan kebenaran pandangan kami ini adalah referendum yang diadakan baru-baru ini di Krimea, pemilu Afghanistan, dan persaingan internal antara Erdogan dan Ghul di Turki,”  ujar Mustanir.

Partisipasi Rendah

Sama dengan pemilu sebelumnya, partisipasi rakyat Afghanistan sangat rendah. Wajar kalau legitimasi pemilu ini diragukan. Sekitar  tujuh juta suara diberikan di 34 provinsi Afghanistan pada pemilu 5 April. Sementara dalam pemilu sebelumnya, hanya 4 juta saja dari 30 juta orang yang berhak memberikan suaranya. Apalagi sebagian besar suara adalah hasil rekayasa.

Dalam pemilu sebelumnya, Hamid Karzai hanya mendapatkan 2 juta suara dari 4 juta suara. Dan kalau diperiksa lebih jauh, dari dua juta suara itu, mayoritas suaranya adalah hasil rekayasa. Diperkirakan Karzai hanya mendapat satu juta suara. Inilah sebabnya mengapa Barat berupa keras membangun opini untuk mendorong masyarakat terlibat dalam pemilu kali ini.

Badan-badan intelijen Barat, melalui organisasi bonekanya, perusahaan-perusahaan keamanan swasta, melancarkan kampanye pemboman yang membuat kegaduhan.  Dilakukan pula wawancara dan pertemuan dengan mereka yang disebut para ulama, wartawan, pejabat public, dan perwakilan organisasi masyarakat sipil. Tujuannya untuk mendorong mereka berpartisipasi dan mendedikasikan semua upaya mereka untuk membangun opini publik mendukung pemilu.

Dibangun pula opini sesat bahwa pemilu adalah satu-satunya kesempatan bagi rakyat untuk mengubah masa depan mereka. Mereka menuding rakyat tidak akan pernah bisa lepas dari pengaruh “kelompok teroris dan ekstrimis” kecuali melalui pemungutan suara dalam pemilihan.

Meskipun dalam kenyataannya rakyat dengan kampanye negatif ini hanya dijadikan obyek bukan subyek. Rakyat  juga disesatkan dengan ilusi bahwa dengan memberikan suaranya,  mereka akan mengalahkan orang-orang yang membuat kekacauan di Afghanistan. Padahal semua tahu, penjajahan NATO yang mendukung pemilu inilah pangkal dari berbagai teror di Afghanistan.

Propaganda massif mendorong pemilu tampaknya tidak berpengaruh banyak. Sebanyak 60 persen dari rakyat di provinsi-provinsi selatan dan timur tidak mau berpartisipasi dalam pemilu. Semua provinsi itu selain pusat-pusat kota berada di luar kendali pemerintah provinsi. Juga tidak sedikit jumlah rakyat Afghanistan di pusat, utara dan barat laut yang telah mengetahui haramnya pemilu demokratis dalam Islam, sehingga mereka memilih tidak ikut.

Kecurangan pun terjadi di mana-mana, instansi-instansi pemerintah yang rusak dan korup, memasukkan kertas suara yang telah direkayasa dalam kotak suara. Kemudian dibawa ke pusat penghitungan pemilu untuk menunjukkan pemilu berjalan dengan sukses. Meskipun sepi peminat, dipublikasikan oleh media pemilu berlangsung dengan sukses sekaligus merupakan prestasi besar demokrasi di Afghanistan.

Masih menurut Mustanir, sesungguhnya sangat jelas dan terang benderang bahwa rakyat Afghanistan hanya menginginkan Islam. Inilah mendorong mereka  untuk melawan Inggris dan Uni Soviet.  Hal yang sama mendorong mereka berperang melawan Amerika dan NATO. Selain itu, rakyat Afghanistan telah hidup lama dengan asam garamnya sistem demokrasi sekuler yang penuh dengan kelicikan, penipuan dan korupsinya.

Dalam sistem demokrasi yang dipromosikan Barat di Afghanistan, kaum Muslim tak berdosa dibantai setiap hari, kehormatan rumah mereka dilanggar, dan agama mereka lecehkan. Apalagi, rakyat Afghanistan tidak pernah melihat dari anggota parlemen yang terpilih secara demokratis ini selain kemiskinan, perilaku tak bermoral, dan penerapan hukum kufur. [AF]

Box :

Pujian Beracun

Utusan khusus PBB untuk Afghanistan Jan Kubis, memuji besarnya jumlah pemilih Afghanistan “meskipun ada ancaman dan intimidasi” dari apa yang disebut Barat sebagai pemberontak. Presiden Amerika Barack Obama mengeluarkan pernyataan yang mengucapkan selamat kepada jutaan rakyat Afghanistan yang memberikan suara dalam apa yang disebutnya pemilu bersejarah. Ia juga memberikan penghormatan bagi orang-orang Amerika yang “berkorban besar” demi memungkinkan berlangsungnya pemilu tersebut. Obama mengatakan pemilu itu penting untuk menjamin masa depan demokratis Afghanistan serta berlanjutnya dukungan dunia internasional.

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved