[126] Umat Islam Alami Diskriminasi PDF Print E-mail
Monday, 19 May 2014 22:11

Mereka pun dipaksa mengikuti tata cara Nyepi.

Setelah kasus pelarangan pemakaian kerudung di SMA 2 Denpasar terhadap Anita Whardani, selesai, bukan berarti kasus serupa beres. Muncul kekhawatiran orang tua dan siswi Muslimah Bali terhadap nasib mereka yang berkerudung. Pasalnya kejelasan sekolah mana saja yang melarang siswi pakai kerudung belum jelas, ditambah lagi tidak adanya ketegasan bolehnya pakaian kerudung di sekolah.

Menurut Kepala SD Muhammadiyah 3 Denpasar Mastulin, banyak orang tua yang anaknya kini kelas enam, meminta saran kepadanya ke SMP mana mereka menyekolah anaknya. Mereka berharap agar kebebasan beragama anaknya tetap terjamin.

“Para wali murid itu menginginkan agar anak-anak mereka bisa tetap mengenakan jilbab, seperti saat bersekolah di SD Muhammadiyah,” kata Mastulin, Ahad (6/4). Ia hanya bisa menyarankan agar siswi-siswi SD Muhammadiyah melanjutkan ke sekolah yang mengizinkan jilbab.

Asmudi, ayah Manik Madini siswi SMAN 4 Denpasar masih khawatir, sebab hingga sekarang belum ada kejelasan dari sekolah itu mengenai jilbab. “Sampai saat ini keinginan berjilbab belum kesampaian,” katanya.

Koordinator Lapangan Tim Advokasi Pembelaan Hak Pelajar Muslim PB PII, Mohammad David Yusanto menyatakan pihaknya menemukan sebanyak 21 kasus pelarangan jilbab di sekolah di Provinsi Bali termasuk kasus Anita.

David menambahkan kasus-kasus tersebut dilakukan oleh institusi sekolah SMPN dan SMAN. Sekolah-sekolah tersebut umumnya berkedudukan di Denpasar, ada juga di Badung, Kuta Selatan, Kuta Utara, Singaraja, Buleleng, Tabanan, dan Jembrana.

“Kebanyakan pihak sekolah beralasan sekolah umum, jadi tidak boleh memakai jilbab. Kalau ingin (tetap) pakai jilbab, murid dipersilakan untuk pindah ke sekolah lain seperti ke Muhammadiyah atau MA,” ujar David kepada Media Umat.

Intoleransi di Bali

Selain pelarangan kerudung yang dialami siswi, sikap intoleransi lainnya yang dialami Muslim Bali yakni saat perayaan umat Hindu, Nyepi. Salah seorang warga Muslim Kuta Bali, Rusnah mengatakan saat Nyepi umat Islam dipaksa untuk toleransi.

“Saat Nyepi, kita harus dipaksa ditakut-takuti untuk mengikuti aturan Nyepi,” terangnya kepada Media Umat.

Ia menerangkan jika tidak ikut aturan saat Nyepi umat Islam akan ditangkap. “Jika tidak ikut aturan misalnya ada lampu atau api menyala di rumah saya maka saya akan ditangkap dan dibawa ke balai desa, dan kalau keluar rumah akan didenda,” terangnya.

Rusnah menerangkan, saat Nyepi umat Islam dilarang untuk mengumandangkan adzan. Menurutnya, pihak mereka menekankan umat Islam harus toleransi, namun umat Hindu tidak menghargai keyakinan umat Islam.

“Saat Nyepi adzan tidak diperbolehkan, bagaimana itu bisa dilakukan? Adzan kan harus diperdengarkan untuk mengajak orang beribadah dan itu juga dilarang, umat Islam dipaksa ikut toleransi mereka,” ungkapnya.

Rusnah yang bekerja sebagai pelayan restoran ini pun pernah mengalami diskriminasi dengan tidak diperbolehkan untuk melaksanakan shalat Jumat. “Saya juga pernah dilarang shalat Jumat oleh atasan, karena dianggap waktu itu masih jam kerja,” bebernya.

Alhamdulillah, setelah menerangkan dengan tegas kewajiban shalat Jumat, Rusnah pun diberikan izin. ”Walau akhirnya memberikan izin, saya di setiap hari Jumat diliburkan ditempat kerja atau masuk malam. Untuk shalat wajib lain pun saya melakukan sembunyi-sembunyi karena jika minta izin saya pasti dilarang karena jam kerja,” tuturnya.

Humas DPD Hizbut Tahrir Indonesia Bali, Syawaldin Ridha menerangkan diskriminasi yang dialami umat Islam akan terus ditentang oleh ormas Islam Bali termasuk Hizbut Tahrir.

“Ya semua ormas Islam menentang, MUI juga siap untuk mediasi segala permasalahan yang dialami umat muslim di Bali, seperti kasus hijab Anita,” jelasnya kepada Media Umat.

Ia menilai akar masalah diskriminasi yang dialami umat Islam di Bali karena tidak adanya khilafah sebagai sebuah sistem yang adil. “Mengayomi umat secara adil yang datang dari Yang Maha adil baik Muslim maupun non Muslim,” pungkasnya.[] fatih dari berbagai sumber

 

 

 

 

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved