[127] Mabuk, Picu Konflik di Sorong PDF Print E-mail
Thursday, 22 May 2014 13:46

MUI meminta pemerintah setempat melarang peredaran miras.

Ibukota Papua Barat memanas. Bukan karena adanya serangan bersenjata orang tak dikenal sebagaimana biasanya,  tapi konflik horizontal. Kelompok Muslim dan Kristen saling berhadapan.

Usut punya usut, ternyata sumber konflik ini akibat ulah seorang yang mabuk. Kapolres Sorong AKBP Hari Golden Hardt menjelaskan, peristiwa itu disebabkan pemukulan terhadap Ustadz Saleh Johar yang dilakukan oleh pelaku dalam kondisi mabuk. Menurutnya, kejadian ini adalah kriminal murni bukan persoalan sara.

Pemukulan itu terjadi Senin (21/4) di Radio Republik Indonesia. Saat itu Saleh baru saja mengisi acara kuliah subuh. Entah karena apa, kejadian ini berbuntut panjang. Sorong mencekam.

Pihak kepolisian mensinyalir telah terjadi misinformasi di tengah masyarakat. Salah informasi itu memicu pergerakan massa dari dua kelompok agama. Mereka berkumpul di beberapa lokasi di kota Sorong. “Kami berharap kondisi keamanan tetap terjaga,” tuturnya.

Ketua FKUB Sorong Pendeta Andi Mofu menyampaikan penyesalan atas pertikaian ini. Ia menerangkan, tokoh agama langsung mengambil langkah pencegahan agar konflik tidak terjadi. “Kami pun sepakat antara tokoh agama kalau peristiwa ini murni kriminal,” ujarnya.

Sedangkan, Ketua MUI Sorong Abdul Manan Fakobun menekankan pada polisi agar menangkap pelaku pemukul Ustadz Saleh. “Kami meminta polisi untuk bertindak terhadap oknum pelaku yang melakukan pemukulan,” ujarnya kepada Media Umat.

Pemicu utama peristiwa ini, menurut Abdul Manan, adalah miras. Ia meminta kepada pemerintah untuk melarang peredaran miras yang nyata sebagai pemicu konflik masyarakat.

“Kami berharap ada aturan untuk melarang miras dan larangan meminum di muka umum agar gangguan terhadap masyarakat bisa dihilangkan,” tuturnya.

Dihubungi Media Umat Ketua DPD Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Papua Barat, Muhammad Jafar Abdullah menyayangkan lambatnya aparat keamanan bertindak hingga terjadi korban.

Jafar menegaskan HTI mendesak aparat pemerintah dalam hal ini DPRD Kota Sorong untuk memberlakukan larangan penjualan miras dan meminta agar masyarakat tidak mudah terprovokasi.

Menurut Jafar, penerapan syariat Islam merupakan solusi menyelesaikan masalah konflik di masyarakat. Dalam perspektif Islam, kerusuhan seperti ini hanya terjadi manakala umat Islam tidak memahami syariat Islam dengan benar, sehingga mudah diprovokasi.

“Solusinya tentu saja dengan memahamkan masyarakat tentang syariat Islam. Sehingga masyarakat tahu bagaimana harus bersikap kepada non Muslim,” ujarnya.

Keberadaan Hizbut Tahrir di Sorong, menurut Jafar, untuk memahamkan masyarakat tentang syariat Islam dan implementasinya dalam kehidupan, sehingga tidak hanya membuat masyarakat semakin yakin akan Islam tapi juga tidak mudah disusupi dan diprovokasi.

“Dalam Islam, baik Muslim dan  non-Muslim dijaga jiwa dan keamanannya,” pungkasnya.[] fatih

 

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved