[127] Riau: Alam Kaya, Rakyat Miskin PDF Print E-mail
Thursday, 22 May 2014 13:47

“Sudah banyak pejabat, politisi hingga caleg yang datang dan berjanji  untuk membangun desa. Sudah 24 tahun saya di sini, buktinya tidak ada.”

Ternyata kehadiran perusahaan raksasa migas Chevron di Riau tidak membawa kesejahteraan untuk masyarakat sekitar lokasi eksplorasi tambang tersebut. Kayanya alam Indonesia berbanding terbalik dengan tingkat kesejahteraan rakyat.

Ulis, warga Suku Sakai yang tinggal di Desa Petani Jaya Mandau, Kecamatan  Mandau, Kabupaten Bengkalis tinggal di rumah berukuran 4x4 terbuat dari papan dan atap terpal. Tidak ada kamar pembatas, dan tidak ada aliran listrik PLN.

Rumah itu pun dihuni 11 orang dengan 9 orang anak. Ulis tidak punya pekerjaan tetap. Biasanya penghasilan sehari-harinya didapat dari mencari ikan atau mencari kayu untuk diolah menjadi bahan bangunan.

Dari penelusuran Media Umat di Desa Petani Jaya, ada ratusan kepala keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan. Ulis mengatakan sudah banyak pejabat yang datang ke desanya, namun sayangnya realisasi kesejahteraan itu hanya janji kosong saja.

“Sudah banyak pejabat, politisi hingga caleg yang datang dan berjanji  untuk membangun desa. Sudah 24 tahun saya di sini, buktinya tidak ada,” ujarnya kepada Media Umat.

Salah satu anak Ulis, Popo, duduk di bangku sekolah dasar,  kelas 1 SD Negeri 69 Desa Petani. Namun kadang kala dia tidak bersekolah karena ikut membantu orang tuanya mancari kayu ke hutan.

Menurut Ulis, pendidikan yang ada di pemukiman tersebut baru sampai SD. Untuk tingkat SMP maka anak-anak suku Sakai harus bersekolah sekitar 10 km dari tempat tinggal mereka. Jumlah siswa yang bersekolah di sini berjumlah 38 orang dan yang aktif hanya sekitar 20 orang. Sekolah berdiri sejak tahun 1995.

Pipa-pipa tambang minyak milik perusahaan Chevron menjalar di desanya. Namun kekayaan alam itu bukan untuk kesejahteraan warga desa, tapi telah menjadi milik perusahaan asing tersebut.

Richard M Authy (1993) dalam thesisnya yang berjudul Sustaining Development in Mineral Economies: The Resources Curse Thesis menyebut perkara ini sebagai the resources curse (Kutukan Sumber Daya Alam)

Mengacu pada paradoks bahwa negara dan daerah yang kaya akan sumber daya alam, terutama sumber daya non-terbarukan seperti mineral dan bahan bakar, cenderung mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat dan wujud pembangunan yang lebih buruk ketimbang negara-negara yang sumber daya alamnya langka.

Humas DPD 1 HTI Riau Apri Siswanto menjelaskan, kemiskinan di tengah kekayaan alam berlimpah membuktikan bukti ketidakbecusan pemerintah dalam mengurusi urusan rakyatnya. “Tidak ada keseriusan pemerintah untuk mengatasi kemiskinan di daerah tersebut,” ujarnya.

Celakanya, lanjut Apri, pemerintah dan DPR malah berselingkuh mendukung kapitalis neoliberal. Menurut Apri ini merupakan hasil dari diterapkannya sistem demokrasi kapitalis. “Mereka pun membuat UU dan kebijakan untuk mendukung hegemoni asing  di Indonesia mini sungguh ironis,” paparnya.

Karena itu, katanya,  sudah saatnya umat ini dengan berbagai komponennya menyatukan hati, pikiran, dan langkah untuk mengganti sistem tersebut dengan  sistem yang sudah terbukti menjadikan kekayaan alam bisa dinikmati dan mensejahterakan seluruh rakyat baik muslim maupun non-Muslim, yaitu sistem pengelolaan sumberdaya alam yang berbasis syariah yang diterapkan dalam sistem pemerintah Islam yaitu Daulah Khilafah Islamiyah. [] Ardi-Rumi/Fatih

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved