[122] Gerakan Mahasiswa Inginkan Khilafah PDF Print E-mail
Thursday, 20 March 2014 00:04

Bila masih ingin dijajah dan terpuruk, silakan pertahankan demokrasi. Tapi bila inginkan kebaikan dan kesejahteraan, maka perjuangkanlah khilafah.

Bandung kembali menjadi lautan api.  Yah, api itu adalah semangat perjuangan dari mahasiswa Muslim yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa (GEMA) Pembebasan. Dengan membawa bendera oranges troops mereka menggelar Kongres Mahasiswa Indonesia 2014, Ahad (2/3) di depan Gedung Sate Bandung, Jawa Barat.

Syair lagu perjuangan halo-halo Bandung pun dinyanyikan dengan penuh semangat perjuangan;

Halo Bandung, ibukota perjuangan..

Halo halo Bandung, kotanya pergerakan..

Sudah lama kita, ditindas demokrasi..

Sekarang, sudah waktunya kita melawan, mari bung rebut kembali.

Kongres yang mengambil tema besar ‘Khilafah sebagai Mainstream Perjuangan’ ini dihadiri ribuan mahasiswa dari berbagai wilayah di Indonesia. Mereka menyatukan tekad untuk bergerak bersama berjuang mengganti demokrasi dengan tegaknya Islam dalam naungan daulah khilafah

Pengurus GEMA Pembebasan Jawab barat, Ipank Fatin menerangkan, mahasiswa harus meninggalkan paham ideologi kufur, baik kapitalis demokrasi maupun sosialisme komunisme. “Kedua ideologi tersebut secara nyata telah menjerumuskan negeri ini dalam jurang kehancuran,” orasinya.

Tokoh deklarator KMII 2009, Erwin Permana mengapresiasi perjuangan GEMA Pembebasan. Menurutnya, mahasiswa saat ini membutuhkan kejelasan arah pergerakan. “Secara bergantian, mahasiswa dari berbagai daerah menyampaikan orasi politiknya sebagai cerminan sikap perjuangannya. “Dalam rentang sejarahnya, mahasiswa memang berkali kali berhasil menjadi inisiator perubahan. Namun perubahan yang dilakukannya tak memberikan perbaikan. Hal demikian karena hanya mengubah rezim, tapi sistem demokrasinya masih dipertahankan” katanya.

Berkaca pada sejarah mahasiswa yang identik sebagai inisiator perubahan, Erwin juga punya harapan bahwa Khilafah Islam yang telah Allah janjikan akan terwujud di tangan mahasiswa.

Sementara, Agung Wisnuwardhana, tokoh pergerakan yang merupakan mantan aktivis ‘98, menegaskan bahwa pada dasarnya mahasiswa memang hanya punya dua buah pilihan dalam memerankan perannya sebagai agen perubahan. “Bila masih ingin dijajah dan terpuruk, silakan pertahankan demokrasi. Tapi bila inginkan kebaikan dan kesejahteraan, maka perjuangkanlah khilafah,” tandasnya.

Ia juga mengutarakan harapannya, bahwa kongres yang digelar tersebut mampu membawa bekas pada seluruh mahasiswa yang hadir. “Saya berharap, sepulang kongres ini, semuanya bisa berjuang melakukan tiga hal kepada masyarakat. Yakni edukasi, artikulasi dan agregasi. Hingga kemudian muncul kesadaran untuk menegakkan khilafah di tengah tengah umat” pungkasnya.[] Farhan-Fatih

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved