[124] Panggung Politik Mahasiswi: Tinggalkan Sistem Demokrasi PDF Print E-mail
Sunday, 20 April 2014 00:25

Mahasiswi Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) menggelar panggung politik mahasiswi di berbagai kota di Indonesia awal Maret 2014.  Panggung politik mahasiswi ini untuk merespon tahun 2014 sebagai tahun politik bagi Indonesia.

Di Banjarmasin, aktivis Kordinator Akhwat BKLDK Korwil Kalimantan Selatan, Amiratush Sholihah dalam orasinya mengatakan khilafah memiliki visi dan strategi untuk memperdayakan pemuda. Peran politik pemuda dalam khilafah, bukan seperti praktik demokrasi yang hanya menjadikan pemuda sebagai sasaran empuk untuk menjaring suara, khususnya dalam pemilu.

“Dalam khilafah, pemuda berperan di berbagai sektor untuk meninggikan peradaban Islam. Pemuda juga turut mengoreksi kebijakan penguasa yang dinilai salah arah,” ujarnya dalam Panggung Politik Mahasiswi, Jumat (14/3) di Halaman Taman Budaya Kayutangi Banjarmasin.

Saat car free day di Bandung, ratusan mahasiswi Kota Bandung yang berasal dari kampus-kampus besar di Kota Kembang tersebut menggelar aksi di Taman Dago, Ahad (9/3). Nining Yuningsih, aktivis BEM REMA Universitas Pendidikan Indonesia mengatakan saat ini pemuda dimandulkan potensinya untuk terlibat dalam politik.

Hal ini, menurutnya, tampak dalam kesalahan arah pembentukan generasi muda yang terarah menjadi generasi individualis dan pragmatis. “Akibatnya pemuda secara umum tidak lagi peduli dengan peristiwa politik yang terjadi di sekitar mereka,” jelasnya.

Pemuda saat ini, terangnya, lebih fokus pada hal-hal yang berbau kesenangan pribadi dan fokus untuk menjadi pekerja yang siap menjadi mesin ekonomi yang menguntungkan perusahaan-perusahaan besar dan perusahaan asing. Serta untuk memenuhi sifat konsumtif pemuda atau untuk membantu menyelesaikan beban ekonomi keluarga yang diakibatkan oleh ketidakadilan sistem ekonomi kapitalis yang memiskinkan rakyat.

“Pemuda khususnya mahasiswa harus kembali memegang peran politiknya sebagai agent of change untuk berkontribusi mengeluarkan bangsa ini dari kerusakan akibat demokrasi,” terangnya.

Di Kendari, ratusan mahasiswi Sulawesi Tenggara menggelar Panggung Politik, Jumat (7/3) di gerbang utama Kampus Universitas Halu Oleo (UHO). Dosen Fakultas Pertanian UHO, Siti Nur Isnian dalam orasi pembukanya mengatakan, mahasiswi saat ini belum berani menyuarakan kebenaran padahal fakta di masyarakat memperlihatkan kerusakan yang begitu parah terjadi di Indonesia.

Sedangkan, aktivis BKLDK UHO, Juwita mengatakan realitas demokrasi bukanlah pemerintahan dan rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Namun justru yang ada hanya negara korporasi yang terbentuk. “Simbiosis mutualisme elite politik dan pemilik modal yang merugikan rakyat,” paparnya.

Kabut asap pekat akibat pembakaran hutan di Pekanbaru tidak menyurutkan semangat 200 mahasiswi Pekanbaru menggelar panggung politik, Ahad (9/3) di Pelataran Purna MTQ Pekan Baru. Kegiatan bertajuk ‘Tinggalkan Sistem Demokrasi Merusak Ganti dengan Khilafah’ itu diselenggarakan oleh MHTI DPD II Pekanbaru dengan dihadiri mahasiswi dari kampus Universitas Riau, Universitas Lancang Kuning, UIN Syarif Kasim Riau dan Universitas Islam Riau. [] fatih dari kontributor daerah

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved