[125] BNPT Ingin Tetap Eksis? PDF Print E-mail
Monday, 05 May 2014 10:12

Kaitkan Pemilu Dengan Teroris

“Nanti kalau menguatnya rasa curiga dan munculnya ketegangan maka yang paling memberikan andil ya BNPT sendiri karena memancing terjadinya ketegangan!”

Pernyataan Ketua Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai  yang mengaitkan pemilu, tindak teror dan Islam radikal, menurut juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Muhammad Ismail Yusanto hanyalah upaya agar lembaga yang dipimpin Mbai ini tetap eksis.

“Suatu usaha untuk membuat seolah-olah terorisme itu selalu relevan. Sebab kalau sudah tidak relevan, BNPT pun keberadaannya sudah tidak relevan juga,” ungkapnya kepada Media Umat Ahad (23/3) di  Jakarta.

Menurutnya, BNPT semakin kabur dalam menangani isu terorisme. Tidak tahu, siapa dari mana tiba-tiba digrebek, dibunuh, tidak pernah ada pengadilan. Kalau begitu keadaannya jangan disalahkan masyarakat, yang menyatakan jangan-jangan ada pihak-pihak tertentu yang menginginkan terorisme itu tetap ada dengan menghidupkan terorisme  jadi-jadian (sengaja dibuat dan dilestarikan, red). Dan karena sekarang tahun pemilu dikaitkan juga dengan pemilu.

Ismail pun mempertanyakan sebenarnya apa yang dimaui pemerintah melalui pernyataan Ketua BNPT tersebut. Kalau menginginkan rakyat tenang, menurutnya, pemerintah sendiri harus memberikan rasa tenang. Pernyataan bahwa akan ada terorisme  menjelang Pemilu 2014 justru akan menimbulkan keresahan.

“Kalau memang ada sebut saja namanya dan pemerintah langsung bergerak mengantisipasinya, jadi tidak perlu menakut-nakuti masyarakat seperti ini,” tegasnya.

Jadi pernyataan seperti “Islam radikal” atau “Islam moderat” itu tidak membantu terjadinya kohesitas di antara komponen masyarakat yang ada, yang muncul malah saling curiga. “Nanti kalau menguatnya rasa curiga dan munculnya ketegangan maka yang paling memberikan andil ya BNPT sendiri karena memancing terjadinya ketegangan!” lontar Ismail.

Ismail pun mengingatkan kritik kepada demokrasi itu bukan hanya datang dari kelompok-kelompok Islam, tetapi dari berbagai pihak yang memang melihat ada masalah dalam sistem pemerintahan sekuler tersebut. Bahkan mantan staf  Departemen Luar Negeri Amerika dalam buku terbarunya America’s Deadliest Export Democracy menyatakan demokrasi ekspor Amerika yang paling mematikan.

“Belum itu bukan orang Islam dan tidak ada hubungannya dengan kelompok-kelompok Islam!” bebernya.

Kalau pernyataan BNPT itu sebagai upaya mencegah tren golput memuncak pada pemilu 2014, menurut Ismail,  tentu saja itu bukan upaya yang bijaksana dalam menyikapi kritisisme masyarakat.

Ia menyatakan, kalaulah golput itu tinggi, bukan mereka yang golput yang harus disalahkan,  tetapi salahkanlah mereka yang membuat masyarakat antipati pada pemilu. Korupsi legislatif, kepala daerah, birokrat itu lah yang menimbulkan antipati karena mereka yang dipilih itu ternyata tidak amanah.

“Masyarakat itu harusnya dibela malah disalahkan. Sudahlah mereka dikecewakan, dirugikan, malah sekarang dipersalahkan. Jadi ini pemimpin macam apa? “ ujarnya

Hal yang sama dinyatakan Direktur Pamong Institute Wahyudi al Maroky. Ia menyatakan pernyataan Ansyaad Mbai itu ingin umat Islam yang diduga tidak ingin berpartisipasi dalam pemilu. Apalagi saat ini tinggkat golput diperkirakan sangat tinggi.

“Mereka ingin isu-isu seperti ini orang takut dan pergi memilih, ini hanya isu untuk mengaitkan,” terangnya kepada Media Umat.

Wahyudi menerangkan bahwa masyarakat saat ini sadar kalau pemilu tidak menghasilkan apapun, hanya menghabiskan uang dan mengganti orang dengan orang yang baru. Bahkan, menurut Wahyudi, ada anggapan pemilu ini hanya melegitimasi pemain baru yang ingin duduk dan korupsi lagi.

“Tidak ada hubungannya lagi nantinya antara pemilu dan tingkat kesejahteraan rakyat,” ungkapnya.

Yang paling jelas dari pernyataan Ketua BNPT tersebut adalah ingin menekan umat Islam yang mayoritas di Indonesia, misalnya mereka menggandeng MUI untuk masalah golput.

“Padahal kalau mau demokratis murni? Jangan bawa donk atas nama agama, kalau betul orang sekuler pemilu-pemilu aja, tapi karena mereka ini menghalalkan segala cara, maka agama pun dibawa untuk mendongkrak suara,” pungkasnya.[] Joy/Fatih

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved