[126] Parpol Nasionalis Jawara (Lagi) PDF Print E-mail
Monday, 19 May 2014 14:23

Pemilu kali ini, lagi-lagi mereka gagal meraih suara rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim.

Pemilihan umum legislatif telah berakhir. Meski Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum mengumumkan hasil resmi, masyarakat bisa mengetahui komposisi wakil rakyat yang akan duduk di DPR, DPRD, dan DPD dari hasil hitung cepat yang dilakukan oleh beberapa lembaga survei.

Berdasarkan hasil hitung cepat itu, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tampil sebagai jawara dengan mengumpulkan suara sebesar 19-20 persen. Disusul berikutnya oleh Partai Golongan Karya (Golkar) 14-15 persen, Gerindra 11-12 persen, dan Demokrat 9-10 persen. Partai-partai lainnya perolehannya di bawah itu. Lihat tabel.

Dari hasil pemilu legislatif ini, komposisi anggota DPR Pusat pun sudah bisa diprediksi. Berdasarkan perkiraan Indo Barometer, PDIP akan memperoleh 109 kursi, Golkar 83 kursi, Gerindra 67 kursi, Demokrat 57 kursi, PKB 51 kursi, PAN 44 kursi, PKS 40 kursi, Nasdem 39 kursi, PPP 39 kursi, dan Hanura 31 kursi. Sedangkan dua partai yakni Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) tidak lolos ke Senayan karena tidak memenuhi ambang batas parlemen yaitu suara 3,5 persen.

Komposisi itu mengindikasikan bahwa parlemen akan kembali dikuasai oleh partai-partai nasionalis. Kalau dulu didominasi oleh Partai Demokrat, sekarang yang akan mengendalikan DPR adalah PDIP. Kalau pun ada partai-partai Islam, mereka pun tak akan bisa berbuat banyak karena pada dasarnya mereka adalah partai nasionalis juga meski berbaju Islam.

Munculnya partai-partai nasionalis sebagai pemenang ini sebenarnya sudah banyak diprediksikan sebelumnya. Hanya saja, hasil yang muncul sangat berbeda dengan survei-survei yang dilakukan lembaga survei. Hampir tidak ada hasil survei yang hasilnya mendekati hasil hitung cepat (quick count). Bahkan fenomena Jokowi yang dalam survei-survei dianggap membawa pertambahan suara yang signifikan bagi PDIP pun tak terjadi.

Parpol Islam

Nasib tragis menimpa partai-partai Islam dan berbasis massa Islam. Pemilu kali ini, lagi-lagi mereka gagal meraih suara rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim. Mereka kembali menjadi partai tengah. Suara terbesar diraih oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan raihan sembilan persen. Kemudian Partai Amanat Nasional (PAN) berada di posisi berikutnya, disusul Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Satu-satunya partai Islam yang gagal adalah Partai Bulang Bintang (PBB) yang hanya mampu meraih suara satu persen.

Raihan suara itu tidak banyak berubah dari pemilu sebelumnya. Komposisinya saja yang berubah. PKS yang 2009 sempat jaya, akhirnya turun. Sementara PKB naik setelah masuknya pengusaha besar Rudy Kirana, pemilik Lion Air.

Prof Asep Warlan, pengamat hukum dan tata negara dari Universtas Parahyangan Bandung menilai, hasil yang didapatkan parpol Islam itu wajar. “Saya bertanya, apa sih program partai Islam yang membuatnya berbeda, atau lebih unggul dibanding partai yang lain? Tidak ada kan? Program-programnya lemah. Cenderung hanya ikut ikutan yang sudah ada,” katanya.

Karena itu, lanjutnya, sebagian umat Islam akhirnya ada yang memilih golput didasarkan pada timbangan yang rasional. “Mereka berpikir bahwa tak ada yang layak, dan tak ada yang sesuai dengan kebutuhan serta keyakinannya,” tambahnya.

Ia menyatakan, berbagai program yang diusung oleh partai Islam tak ada bedanya bila dibandingkan dengan partai yang lain. Selain itu, partai politik Islam mengabaikan pendidikan politik bagi kaum Muslim.

Menurut pengamatannya, rakyat awam kurang diberi penjelasan mengenai konsep-konsep mengenai politik Islam. “Rakyat sebagai pemilih tidak disiapkan untuk memiliki kesadaran untuk memilih dan memutuskan Islam sebagai solusi. Tidak ada pendidikan politiknya”.

Dengan posisi raihan seperti ini, kembali lagi arah Indonesia tak ada di pihak parpol Islam. Parpol Islam akan kembali menjadi pelengkap dan penggembira bagi partai politik sekuler. Banyak kalangan memprediksi, politik dagang sapi akan kembali terjadi.

Dalam proses tersebut, partai-partai politik akan kehilangan identitasnya termasuk parpol Islam. Mereka akan mengorbankan diri demi meraih kue kekuasaan. Tanda-tanda itu sudah tampak ketika partai-partai Islam mulai mendekati partai-partai pemenang pemilu.

Ada yang ingin meraih posisi sebagai wakil presiden dengan menyodorkan diri secara terus terang, atau ada pula yang minimal menjadi bagian dari koalisi. Harapannya, jika presiden dari partai pemenang pemilu menang, mereka kecantol sebagai anggota kabinet. Lobi-lobi masih terjadi.

Meleset

Di balik pemilu legislatif ini, muncul fenomena menarik.  Ternyata prediksi perolehan suara parpol oleh lembaga-lembaga survei meleset jauh dibandingkan hasil quick count.

Sebagai contoh, Roy Morgan Research (RMR) yang memprediksi PDIP meraih 37 persen, Jaringan Suara Indonesia (JSI) yang merilis PDIP meraih 24,7 persen, Pol-Tracking yang menyatakan elektabilitas PDIP sebesar 28,7 persen, Indikator Politik Indonesia (IPI) menyebut PDIP dapat 24,5 persen, dan Lingkaran Survei Indonesia (LSI Denny JA) yang menyebutkan Partai Golkar memperoleh elektabilitas sebesar 21,9 persen, semua meleset.

Beberapa kalangan menduga, lembaga-lembaga survei ini tidak melakukan surveinya secara jujur tapi sengaja menggiring opini masyarakat demi kepentingan tertentu. Soalnya marjin error mereka jauh dibandingkan dengan hasil terakhir. Benarkah mereka sengaja menggiring suara rakyat atas dasar pesanan? Hanya mereka yang tahu. [] fatih/joy/mujiyanto

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved