Presiden Indonesia (Juga) Boneka? PDF Print E-mail
Saturday, 24 May 2014 22:30

Tidak hanya di Indonesia, Amerika bermain hampir di semua kawasan negeri Islam.

Istilah presiden boneka sebenarnya bukan hal baru dalam politik di Indonesia. Hanya saja, penampakannya berbeda-beda dalam setiap rezim. Ada yang langsung menjadi boneka asing. Ada pula yang secara tidak langsung.

Di awal kemerdekaan, Presiden I Indonesia Soekarno sangat tegas menolak neokolonialisme (nekolim) dengan semboyannya: Inggris kita linggis, Amerika kita setrika. Sayangnya, Soekarno tidak independen. Soekarno justru berporos ke Blok Timur—Peking (Cina) dan Moskow. Proklamator Indonesia itu seolah menjadi represensi Blok Timur di Asia Tenggara.

Fakta inilah yang menyebabkan Amerika tidak suka terhadapnya. Berbagai upaya penggulingan hingga pembunuhan diarahkan kepada Soekarno. Upaya itu tidak berhasil hingga akhirnya Amerika berhasil mendudukkan Soeharto sebagai penguasa pasca tragedi G30S/PKI.

“Kalau kita bicara tentang penggulingan  Soekarno dan naiknya Soeharto itu pun sebenarnya rekayasa dari kepentingan modal intenasional. Saya kira buktinya lebih dari cukup,” kata pengamat ekonomi dari UGM Revrisond Baswir.

Sebagai boneka Amerika, katanya, Soeharto bertugas melakukan proses legalisasi berbagai kepentingan Amerika. Maka muncullah sejumlah UU, termasuk terbitnya UU Penanaman Modal Asing tahun 1967. Kemudian disusul terbitnya UU Pertambangan, UU Kehutanan, UU Perdagangan, dll.

Begitu melihat Soeharto tidak loyal lagi, Amerika kemudian menjatuhkan Soeharto yang telah berkuasa lebih dari 30 tahun. Namun rezim berikutnya pun tak lepas dari cengkeraman Amerika. BJ Habibie tak berkutik ketika harus melepaskan Timor Timur dari Indonesia.

Berikutnya Abdurrahman Wahid pun diarahkan untuk memberikan kebebasan seluas-luasnya bagi semua pihak di Indonesia. Termasuk mencabut Tap MPR tentang larangan terhadap partai komunis. Juga membebaskan semua agama termasuk Konghucu dan Bahai.

Hanya bertahan setahun, Gus Dur digantikan oleh Megawati Soekarnoputri. Anak proklamator ini sangat berbeda dengan bapaknya. Ia tidak anti terhadap Amerika. Justru pada masa pemerintahannya, berbagai kebijakan pro neoliberalisme bermunculan. Ia pun begitu dekat dengan para konglomerat hitam. Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) pun diberi potongan sampai dibebaskan. Berbagai perundang-undangan pro asing juga muncul pada masa rezimnya.

Rezim Megawati kemudian digantikan oleh rezim Susilo Bambang Yudhoyono. Ia bahkan berani menyebut Amerika adalah negara kedua baginya. Pada masa ini, kata Revrisond, Amerika panen. Soalnya, kadernya itu tersebar luas baik di birokrasi, parlemen maupun di tengah masyarakat. Liberalisasi besar-besaran terjadi. Perusahaan-perusahaan asing di masa Soeharto seperti Freeport dan Chevron serta Exxon mendapat angin lagi di masa rezim ini. Demikian juga perusahaan multinasional lainnya di bidang pertambangan dan energi.

Menurut Revrison, saat ini Indonesia sebenarnya sudah terbenam. “Satu, penguasanya penguasa boneka. Dua, kita terjerat ke dalam utang yang semakin dalam. Tiga, semakin banyak UU yang disusun sesuai dengan keinginan Amerika,” katanya.

Boneka Lain

Tidak hanya di Indonesia, Amerika bermain hampir di semua kawasan negeri Islam. Negara tersebut mendudukkan bonekanya atau menancapkan pengaruhnya dengan kuat sehingga kepala negara itu tak berkutik dengan kemauan Amerika.

Di Mesir, Amerika memelihara Husni Mubarak hingga lebih dari 30 tahun. Loyalitas Mubarak bahkan tak perlu diragukan lagi. Anda saja Arab Spring tidak melanda kawasan Timur Tengah, Mubarak mungkin tak akan tumbang. Dan Amerika tak ingin Mesir diluar genggamannya. Amerika hanya memberi kesempatan sebentar kepada Presiden Mursi dan menggulingkannya dengan boneka yang baru Jenderal al-Sisi.

Di Irak, Amerika menempatkan Nuri Al Maliki sebagai presiden setelah berhasil menjatuhkan Saddam Hussein pada 2003. Padahal Saddam dulunya adalah boneka Amerika juga.

Di Yordania, Amerika memelihara Raja Abdullah. Di Palestina, Amerika menempatkan Mahmud Abbas. Di Saudi, Amerika memelihara keluarga Saud. Di Turki, Amerika berhasil merebut pengaruh Inggris dengan menjauhkan Kemalis dan menggantikannya dengan partai keadilan dan persatuan. Di Yaman, Amerika berhasil mendudukkan Abed Rabbo Mansour Hadi sebagai presiden.

Di Suriah, Amerika memelihara boneka Bashar Assad hingga kini. Amerika menginginkan Suriah tetap ada di bawah hegemoninya. Amerika maunya menginginkan boneka baru yang sama dengan Bashar.

Yang terbaru, Amerika berusaha menanamkan bonekanya di Ukraina. Upayanya itu sedang menghadapi kendala dari  Rusia.

Amerika pun terus menjaga cengkeramannya atas Pakistan dan Afghanistan. Rezim pemerintahan negara tersebut adalah loyalis Amerika. Ada Perdana Menteri Nawaz Sharif di Pakistan dan Hamid Karzai Afghanistan.

Tidak hanya Amerika, di belahan dunia Islam yang lain Barat juga berebut menempatkan bonekanya. Meski secara ideologi, Amerika, Inggris, dan Prancis sama, tapi mereka berbeda jika sudah berhubungan dengan kekuasaan dan penguasaan. Munculnya konflik di Sudan, Republik Afrika Tengah, Libya tak lepas dari persaingan mereka. [] emje

BOKS

Hegemoni Menyasar Dunia Islam

Bukan Amerika jika tidak melakukan kolonialisasi. Hanya saja, mereka tak menggunakan model lama dengan penjajahan fisik. Amerika cukup mengkooptasi orang-orang yang ada di negara jajahannya dan kemudian secara otomatis antek-antek tersebutlah yang mengalirkan upetinya ke Amerika dalam berbagai bentuk.

Kolonialisasi Amerika bermula saat Presiden Harry Truman pada 1947. Ia mencanangkan kebijakan bernama containment policy (strategi pembendungan). Kebijakan ini diterapkan Truman guna mencegah meluasnya pengaruh komunisme di dunia yang kala itu didominasi oleh Uni Soviet dan Cina. Amerika memberikan pilihan kepada dunia ketiga:  “Bergabung dengan Kami” atau “Anda Adalah Musuh Kami”.

Ungkapan serupa muncul lagi saat Amerika dipimpin oleh George W Bush pada awal 2000-an. “Anda bersama kami” atau “Anda bersama teroris”. Pilihan ini memaksa semua negara mengikuti arahan Amerika dalam memberantas apa yang mereka sebut sebagai teroris. Tak terkecuali Indonesia. Strategi ini berhasil.

Hegemoni Amerika pun pernah dinyatakan secara tegas oleh Obama. Menurutnya, AS dapat menjadi sebuah "panutan" bagi negara Islam. "Hal yang dapat kita lakukan, yang terpenting adalah, untuk menjadi panutan yang baik," katanya.

Pidato itu disampaikan di Al Azhar, Kairo, Mesir. Menurut Denis McDonough, wakil penasihat keamanan nasional AS, pemilihan Mesir sebagai tempat pidato kepada dunia Islam adalah untuk komunikasi strategis. "Mesir adalah sekutu lama  Amerika Serikat," ujarnya. "Ini adalah negara kunci bagi negara Arab dan Muslim ... dengan populasi yang lebih muda, Presiden merasa akan lebih mudah baginya untuk melibatkan diri."

Wikileaks pernah mengungkap bagaimana  militer AS terlibat dalam konflik bersenjata di dunia Muslim daripada yang diakui secara terbuka pemerintah AS. Pemerintah AS memiliki hubungan dengan rezim-rezim yang umumnya tidak dianggap sebagai sekutu dalam perang melawan terorisme. Sementara bocoran kabel menunjukkan bahwa diplomat AS memperingatkan rezim-rezim itu untuk menghormati hukum perang. Mereka juga menggarisbawahi bahaya menggunakan teknologi militer canggih di medan perang terpencil dan rumit.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved