[128] Dulu Korban, Kini Predator PDF Print E-mail
Tuesday, 26 August 2014 10:34

"Saya hanya melakukannya jika sudah tidak bisa menahan hawa nafsu, dan dengan cara apa pun saya harus mendapatkan seorang anak," kata Emon.

Tak ada yang menduga, perilaku Andri Sobari alias Emon (24 tahun) sampai sebejat itu. Warga RW 01 Kelurahan Sudajaya Hilir, Kec Baros, Kota Sukabumi, Jawa Barat pun kaget dibuatnya.

Tanpa rasa berdosa, pria yang bercita-cita jadi ‘superstar’ melakukan aksi kekerasan terhadap 114 bocah ingusan. Angka ini menjadi angka tertinggi kasus kekerasan seksual pada anak dari seorang pelaku. Sebelumnya rekor dipegang oleh Sartono terhadap 96 anak di bawah umur.

Kepada polisi, ia membantah dirinya menganut ilmu hitam sehingga melakukan kejahatan seksual kepada anak. Emon mengaku melakukan tindakan tersebut karena hasrat seksualnya yang menyimpang. Dulunya ia mengaku pernah mendapat perlakuan yang sama ketika duduk di bangku SMP dari teman lelakinya bernama Enday.

Dalam melakukan aksinya, Emon mengiming-imingi korbannya dengan uang atau ancaman. Uang yang diberikan tersangka bervariasi ada yang Rp 5.000, dan Rp 10.000. Bahkan hingga Emon masuk tahanan, ada seorang bocah yang mengaku bahwa Emon masih punya utang. “Heueuh ka urang ge maneh can mayar, nganjuk.” (Iya, ke saya juga kamu belum bayar, ngutang) kata El di kantor polisi. Mendengar itu Emon dengan spontan menjawab: “Heueuh ke (iya nanti) dibayar.”

Bentuk ancamam yang dilakukan Emon, menurut Ry—korban lainnya, adalah dengan menakut-nakuti anak-anak tersebut.” Tong bebeja, mun bebeja bakal diteunggeulan, bakal diteluh (jangan mengadu, kalau mengadu bakal dipukuli, bakal disantet),” kata korban yang mengaku mengalami kekerasan seksual empat kali ini.

Aksi Emon ini banyak dilakukan di Taman Santa, sebuah tempat rekreasi yang sudah terbengkalai. Penjaga taman itu, Adang Sukaedi, menceritakan Emon suka bermain di tempat itu berjam-jam. Ia bermain bersama anak-anak yang usianya jauh dari umurnya.

Emon tidak sembarangan memilih korban. Kepada polisi ia mengaku hanya tertarik dengan anak-anak yang usianya belum lebih dari 13 tahun. Alasannya, selain mendapatkan kenikmatan yang lebih, anak-anak itu mudah dibujuk.

Ia pun mengaku tidak mempunyai target dalam melakukan aksi kekerasan seksual itu. "Saya hanya melakukannya jika sudah tidak bisa menahan hawa nafsu, dan dengan cara apa pun saya harus mendapatkan seorang anak," kata Emon seperti dikutip kompas.com.

Pria gemulai ini menyatakan tidak suka berhubungan badan baik dengan laki-laki maupun wanita seusia atau lebih tua darinya.

Maksum, Ketua RW 01 Kel Sudajaya, mengungkapkan, Emon pikirannya kurang waras, kayak bencong. “Pernah di tahun 2011, jam 12 malam ke rumah saya minta surat NA (surat pengantar nikah). Saya tolak, karena itu harusnya minta ke Pak RT,” kata Maksum.

Ia menduga, bocah warganya mau menerima bujuk raya Emon dengan iming-iming duit, karena mereka tak memiliki uang jajan. “Warga umumnya penghasilannya hanya cukup untuk makan saja,” terangnya.

Kepala Satuan Reskrim Polres Sukabumi Kota, AKP Sulaeman, telah menyita barang bukti dua buku harian Emon yang berisi nama-nama anak yang diduga menjadi korbannya dan coretan curhat dan puisi tentang isi hatinya. Menurutnya, dari hasil tes psikologi yang dilakukan psikolog, ternyata kejiwaan Emon normal, namun memiliki kelainan seksual akut yakni pedofilia.

Kepada wartawan yang mewawancarainya, Emon mengaku bahwa ia pantas dihukum atas perbuatannya. "(Pantas) dipenjara, 15 tahun," ujarnya Senin (12/5/2014). Ia juga mengutarakan keinginannya untuk masuk pesantren seusai menjalani masa hukuman.

Kini polisi terus menginventaris jumlah korban Emon. Jumlah korban yang melapor ke aparat kepolisian terus bertambah.

Sebelum kasus Emon muncul, peristiwa kekerasan seksual terjadi di Jakarta. Seorang bocah yang duduk di Taman Kanak-kanak Jakarta International School menjadi korban enam orang predator—sebutan bagi pelaku pedofilia. Akibat perbuatan bejat para petugas kebersihan (cleaning service) di toilet sekolah tersebut, anak ini mengalami trauma dan mengidap penyakit herpes.

Th, ibu korban, menceritakan, anaknya selain mengalami kekerasan seksual juga mengalami penyiksaan. “Dari pernyataan anak saya pun, saya mengetahui kalau yang menyodomi anak saya lebih dari satu orang,” kata Th kepada Media Umat.

Bocah ingusan itu awalnya tak mengakui apa yang dialaminya meski ibunya melihat keanehan padanya. “Keganjilan mulai saya dapatkan ketika dia mencet kelaminnya karena takut untuk kencing di sekolah. Kalau tidur pun sering mengigau, mengigaunya itu dia bilang: ‘please go, ampun Mbak”. Itu sering terjadi, teriak ketakutan dan masuk ke kamar saya. Nggak mau makan, tidak mau tidur,” kata Th.

Anehnya, sekolah yang dikelola oleh orang-orang Amerika itu tak menanggapi laporannya ketika ia tahu anaknya seperti itu. Th malah diminta menunggu satu bulan. Ibu muda itu juga dilarang melapor ke kepolisian. “Tanggapan sekolah hanya prihatin dan tawaran investigasi pribadi. Membujuk tidak melapor ke polisi. JIS tidak mau membantu saya,” jelasnya.

Untungnya kasus ini pun tercium aparat. Kepolisian bertindak cepat meski JIS terkesan menutup-nutupi. Polisi berhasil menangkap lima orang pelaku, satu di antaranya wanita.

ZA, salah satu tersangka, mengakui perbuatannya. Ia pun membuat pernyataan bahwa ia juga korban kekerasan seksual seorang guru JIS berkebangsaan Amerika yang bernama William James Vahey ketika berusia 28 tahun. Vahey adalah guru di JIS periode 1992-2002 yang bunuh diri pada 21 Maret 2014 di Minnesota, AS.

Hingga kini kepolisian belum berhasil membongkar kasus JIS secara tuntas. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menduga, ada seks bebas dan homoseks di sekolah bertarif mahal itu. [] Joy/MJ

 

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved