[126] Kartini Tak Butuh Emansipasi PDF Print E-mail
Monday, 19 May 2014 23:47

Ada dugaan, kepopuleran Kartini sebagai penggerak emansipasi wanita Indonesia di-setting oleh kolonial Belanda.

Bocah-bocah kecil bersanggul dan berkebaya, melanggak-lenggok di panggung atau berkarnaval di jalan raya. Polesan make up plus gincu merah tak mampu menutupi keluguan dan kepolosannya. Lucu dan menggemaskan.

Itulah pemandangan yang kerap kita saksikan setiap 21 April yang diperingati sebagai Hari Kartini. Pada momentum ini selalu didengung-dengungkan kembali akan jasa-jasa perjuangan Kartini yang dinobatkan sebagai pahlawan wanita nasional, pejuang emansipasi alias kesetaraan perempuan sebanding dengan laki-laki.

Entahlah, apakah penanaman nilai-nilai emansipasi itu melekat di benak anak-anak TK atau SD itu. Semoga saja tidak. Pasalnya, apa yang ditanamkan sejak dini itu adalah nilai-nilai yang salah. Nilai-nilai yang bertentangan dengan Islam. Yakni, bahwa perempuan itu harus setara, sejajar dan bahkan bisa lebih dari laki-laki. Sudah terlalu sering kita mendengar ungkapan bahwa “perempuan saat ini tidak kalah loh dengan laki-laki, bahkan bisa lebih hebat.”

Lihat saja, sekarang perempuan juga bisa jadi doktor, profesor, direktur, menteri,  hingga presiden.  Perempuan juga bisa jadi pilot, petinju, pembalap, pemain bola, rocker dll yang biasanya digeluti laki-laki. Itu dianggap sebagai bukti keberhasilan perjuangan Kartini. Benarkah?

Bukan Kesetaraan

Selama ini, Kartini diidentikkan dengan pejuang emansipasi, persamaan hak perempuan setara dengan laki-laki. Padahal bukan itu yang diperjuangkan. Sebagaimana diketahui, Kartini yang selalu identik dengan kebaya dan sanggulnya adalah priyayi (bangsawan) Jawa yang hidup dalam lingkungan keluarga pejabat yang ketat adat istiadat dan etika.

Meski priyayi, karena perempuan, ia tidak mendapat akses pendidikan terbaik. Sekolahnya hanya setingkat Sekolah Rendah (SR) di zaman penjajahan Belanda. Tetapi potensi dasar Kartini yang cerdas dan kritis tak terbendung. Ia pun protes mengapa perempuan tidak boleh sekolah lebih tinggi.

Hal itu dicurahkannya dalam surat yang ditulis Kartini kepada Prof Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902: ”Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibanya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya, menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Ya, akses pendidikan inilah yang dituntut Kartini. Ia ingin perempuan memiliki bekal ilmu untuk mendukung tugas kodrati sebagai ibu rumah tangga dan pendidik anak-anak. Itu saja. Tidak lebih.

Jika perempuan sekolah tinggi, sekali-kali bukan untuk merebut kiprah dunia laki-laki.

Pemikiran Kartini itu terpengaruh oleh ajaran Alquran yang sempat dipelajarinya meski dalam tempo singkat. Ini dari penuturannya yang terus menerus mengulang kalimat minazh zhulumaati ilan nuur

dalam surat-suratnya. Kalimat berbahasa Arab itu diperolehnya dari bacaan surat Al-Baqarah: 257 yang artinya: Allah SWT menegaskan: Allah pemimpin orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir pemimpinnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya ke kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”

Pemahaman Islam Kartini juga tampak dari perubahan sikapnya: dari semula memuja peradaban Barat menjadi mengecamnya teramat pedas. Dari membenci kitab suci Alquran karena dianggap terlalu suci dan tidak dimengerti maknanya, menjadi memuji Islam sebagai agama yang layak menjadi pedoman hidup. Dari penentang keras poligami, menjadi menerima dan bahkan mengamalkannya (Kartini menikah sebagai istri ketiga bagi suaminya).

Dari sini muncullah klaim bahwa Kartini sejatinya memperjuangkan nilai-nilai Islam yang diyakininya. Tapi, oleh perempuan masa kini, pemahaman Kartini justru dijungkirbalikkan. Lihatlah, katanya Kartini dijadikan teladan, tapi mengapa peradaban Barat yang dibenci Kartini justru dipuja setengah mati? Mengapa Islam yang dicintai Kartini, justru dicaci dan bahkan ditinggalkan perempuan masa kini? Mengapa peran ibu yang dicontohkan Kartini, diabaikan perempuan modern kini? Mengapa pula poligami yang dipraktikkan Kartini, ditentang mati-matian perempuan yang ngakunya penggiat emansipasi?

Kepentingan Politik

Kartini telanjur dijadikan titik tolak perjuangan kesetaraan perempuan Indonesia, sejak Abendanon membukukan surat-suratnya. Doktrin itu melekat sampai kini. Tidak ada satupun yang mengritik, apalagi meluruskan sejarah, mengapa Kartini yang dijadikan pahlawan pejuang hak-hak perempuan? Mengapa bukan tokoh lainnya?

Padahal–tanpa menafikan perjuangan Kartini—jika ukuran emansipasi adalah kiprah perempuan yang sukses di segala bidang, maka sebenarnya banyak perempuan-perempuan di masa lalu yang memiliki kiprah tak kalah dan bahkan lebih hebat dibanding Kartini. Perempuan yang hidup di zaman lebih dahulu darinya.

Misalnya, pada zaman Majapahit, ada dua perempuan yang memimpin kerajaan, yakni Tribhuwanatunggadewi (1328-1350 M) dan Kusuma Wardhani (1389-1429 M). Lalu di zaman Kerajaan Kalingga pada abad VII M, tersohorlah Ratu Sima yang sukses mewujudkan kemakmuran dan keadilan. Hal itu ditandai dengan pembangunan gapura penerang di setiap persimpangan jalan yang bertatahkan emas, tanpa ada yang mencuri. Bahkan ketika Raja Ta-Che mengirim mata-mata dengan meletakkan kantong emas di pinggir jalan dekat pasar, tiga tahun lamanya tak ada yang menyentuh atau mengambilnya.

Tokoh perempuan lain di nusantara yang sempat mengukir prestasi spektakuler sebagai the change of social agent adalah Martha Christina Tiahahu yang gigih berjuang bersama Pattimura di Maluku, Cut Nyak Dien dan Cut Muthia dua srikandi dari Nanggroe Aceh Darussalam yang tak kenal menyerah untuk mengusir pendudukan pasukan Kape (Belanda) di bumi persada. Tak ketinggalan Herlina Efendi yang membebaskan Irian Barat dari pendudukan kolonial Belanda.

Lalu ada sosok Colli Pujie yang mengumpulkan serpihan Kitab Lontara karangan legendaris Lagaligo yang sangat mashur dalam dunia kesusastraan kuno.  Karya sangat monumental di seantero dunia. Di Sulsel ada Emmy Saelan yang bersama RW Monginsidi melumpuhkan Belanda dengan taktik berpura-pura menyerah. Setelah itu, saat 8 atau 9 serdadu Belanda menghampiri untuk menangkapnya dan seketika itu pula, Emmy Saelan meledakkan granat tangan yang menewaskan para penangkap dan dirinya. Sosok lain yang tak kalah perjuangannya dan juga tersohor adalah Dewi Sartika di Jawa Barat dan Rohana Kudus sang pionir jurnalis perempuan dari Sumatera Barat.

Tapi, mengapa nama mereka tak pernah disebut-sebut dalam setiap episode gerakan emansipasi wanita di Indonesia? Ada dugaan, kepopuleran Kartini sebagai penggerak emansipasi wanita Indonesia di-setting oleh kolonial Belanda. Popularitas Kartini sangat menonjol akibat promosi Belanda. Dari sinilah kaum perempuan hendaknya sadar untuk tidak terlampau mengagung-agungkan sosok Kartini dengan doktrin emansipasinya. Doktrin yang Kartini pun bahkan tidak membutuhkannya.

 

Kembali ke Islam

Sebagai Muslimah, kita juga tidak perlu berlebihan menokohkan Kartini. Apalagi sampai berebut klaim, Kartini pejuang Muslimah atau justru pejuang emansipasi? Jadi, kita tidak perlu gamang untuk menjadikan Kartini panutan atau bukan.  Tak perlu pula bingung memilih, tokoh perempuan mana sebagai sumber inspirasi dan motivasi perjuangan kita.

Cukuplah sebagai Muslimah, kita kembali pada Islam, Alquran dan Sunah Rasulullah SAW sebagai sumber inspirasi. Kembali menelisik hak-hak dan kewajiban muslimah sesuai tatanan Islam. Hak dan kewajiban pada kodrat alami yang dititahkan Allah SWT.  Kodrat yang telah digariskan pada kaum perempuan, yakni menjadi ibu dan pendidik anak-anak. Toh dengan tugas mulia itu, perempuan sangat dihormati. Sejak zaman Rasulullah SAW kaum perempuan sangat dijunjung tinggi. Jadi sebenarnya Muslimah di Indonesia atau di manapun tidak memerlukan ikon-ikon emansipasi, siapapun dan bagaimanapun kiprahnya. [] Kholda

 

 

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved