[126] Mencegah Gizi Buruk Anak PDF Print E-mail
Monday, 19 May 2014 23:51

Desantus Seran (7 bulan) terbaring lemas di Panti Rawat Gizi Kota Betun, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bayi yang seharusnya sudah mulai merangkak atau duduk sendiri itu tampak tirus karena beratnya hanya 3 kg akibat gizi buruk.

Hal serupa dialami Juan (1 tahun) yang beratnya hanya 5 kg. Bocah ini hanya mengonsumsi bubur jika orang tuanya mampu beli beras. Susu tak dinikmatinya lantaran orang tuanya miskin. Orang tuanya, Vincent Seran yang buruh kasar mengatakan, penghasilannya pas-pasan. "Kalau ada beras, kami akan berikan bubur," katanya. Biasanya mereka hanya memakan jagung bulat yang dimasak. Tak ada tambahan lain. "Setelah pulang menjadi TKI, saya hanya bekerja di kebun," kata Risti, ibu Juan.

Kepala Panti Rawat Gizi Kota Betun Maria Imakulata mengatakan, saat ini pihaknya masih merawat 13 balita gizi buruk dan marasmus. "Ini merupakan grafik tertinggi," katanya. Sejak Januari 2014, panti ini telah merawat 48 balita kurang gizi, gizi buruk, dan busung lapar (tempo.co, 25/3/14).

Kasus ini agaknya tenggelam di antara hingar bingar berita politik menjelang dan pasca pemilihan anggota legislatif. Terlebih temuan ini ada di wilayah Indonesia timur yang memang kurang mendapat perhatian masyarakat. Ini tentu memprihatinkan. Di tengah pesta demokrasi yang menghambur-hamburkan trilyunan rupiah, anak-anak masa depan bangsa ini, justru tak bisa sekadar memenuhi kebutuhan asasinya: makan.

Nah, dalam skala keluarga, jangan sampai kondisi ini menimpa anak-anak kita. Sebab, gizi buruk bukan sekadar faktor sistemik berupa kemiskinan. Terkadang, hal ini juga disebabkan kurangnya kesadaran orang tua untuk memberikan asupan makanan yang baik pada buah hatinya.

Berikut ini ada beberapa kiat untuk mencegah gizi buruk pada anak:

1.          Pantau perkembangan fisik, berupa berat badan, kemampuan panca indera dan motoriknya.

Bisa dengan pengawasan pribadi atau bantuan tim medis, seperti posyandu, puskesmas atau bidan. Bila enggan ke posyandu dengan alasan khawatir diberikan vitamin atau imunisasi macam-macam yang belum jelas kehalalannya, oke, tidak masalah kritis terhadap hal tersebut. Kalau begitu, sediakan timbangan badan di rumah dan pastikan anak tidak kurang berat badannya dari pertumbuhan normal sesuai usia. Cermati, apakah anak aktif bergerak, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan sangat responsif. Itu tanda-tanda anak sehat.

2.         Sisihkan uang belanja untuk memenuhi kebutuhan makan dengan tidak pelit.

Jangan sampai mengutamakan menabung dibanding memenuhi rengekan anak akan jajan misalnya. Selama jajan itu memang diminta anak karena kebutuhan ngemilnya, jangan serta merta memarahinya. Tapi, pilihkan jajan yang sekiranya tidak menyebabkan mudharat pada anak. Bila perlu yang bergizi. Toh, jajan yang bergizi tidak harus mahal bukan? Di kalangan masyarakat miskin, kadang orang tua mengutamakan beli rokok untuk dirinya dibanding membelikan susu untuk anaknya. Atau mengutamakan kredit barang ini-itu, sementara untuk membeli makanan diirit-irit.

3.         Sediakan makanan yang halal, bergizi dan higienis.

Bisa dengan mengolah sendiri atau membeli jadi, yang penting memenuhi kriteria kecukupan kalori, termasuk karbohidrat, protein, mineral, vitamin dan zat bermanfaat lainnya. Bukan sekadar lezat dan memikat dari sisi penampilan, tapi pilih yang bermanfaat bagi tubuh.

4.         Utamakan daftar menu seimbang

Agar anak bergizi baik, bukan sekadar banyak makan, tapi makan makanan yang bervariasi dan mengandung semua gizi yang diperlukan. Slogan empat sehat lima sempurna masih relevan dalam hal ini. Namun jangan ngoyo jika tidak selalu sempurna. Misalnya, jangan terlalu menyalahkan diri jika tak mampu membelikan atau membuat anak doyan susu, toh zat-zat dalam susu itu bisa diperoleh dari makanan lain. Lauk, sayur atau buah misalnya.

5.         Jangan memaksakan anak dengan jenis makanan tertentu tanpa variasi atau alternatif.

Kebosanan bisa menyebabkan anak kehilangan selera makan. Misalnya, memaksa anak makan nasi padahal dia lebih doyan roti. Memaksa anak makan buah, padahal anak lebih enjoy dengan jus. Memaksa anak minum susu, padahal lebih rakus jika melahap es krim atau puding. Memaksa anak makan sayur, padahal bisa disembunyikan dalam lauknya.

6.         Sabar dan telaten membuat anak gemar makan.

Untuk balita, sangat mungkin masih perlu disuapi karena jika makan sendiri tidak akan habis atau pilih-pilih lauk. Lakukanlah, sambil sesering mungkin diajari makan sendiri.

7.         Sajikan makanan selagi hangat dengan penampilan yang memikat.

Percayalah, anak akan lebih lahab makannya. Apalagi jika anak pernah diajak makan di luar (restoran, warung atau kaki lima), pasti senang jika ia merasakan nuansa restoran itu di piring saji ibunya.

8.         Beri contoh.

Anak biasanya meniru orang tuanya. Jika ayah atau ibunya tipe pilih-pilih menu, jangan kaget jika anak juga begitu. Sebaliknya, jika “gemar” makan, anak terdorong mengikuti. Meski begitu, tetap saja anak-anak memiliki kriteria sendiri makanan yang dia suka dan tidak serta merta mengikuti orangtuanya.

9.         Jangan lupa tanamkan tentang pentingnya makan, khususnya kepada anak yang sudah bisa diajak bicara.

Bahwa memenuhi makan adalah wajib sebagai bentuk memenuhi hak tubuh agar terhindar dari sakit dan bisa melakukan kegiatan yang digemarinya. Ingatkan bahwa mengabaikan makan sama dengan menzalimi diri sendiri dan tidak dicontohkan Allah SWT. Beri pemahaman bahwa anak-anak masih dalam masa pertumbuhan yang membutuhkan gizi tinggi agar bisa tumbuh sempurna. Selamat mencoba.(kholda)

 

 

 

 

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved