[127] Memupuk Rasa Empati PDF Print E-mail
Friday, 23 May 2014 23:20

Dunia maya tiba-tiba mencuatkan nama Dinda. Mahasiswi di ibukota ini tiap hari naik kereta api untuk sampai ke kampusnya. Dinda sengaja berangkat pagi-pagi agar dapat tempat duduk. Maklum, sudah rutinitas, kereta pagi selalu penuh. Nah, pagi itu, tiba-tiba ada ibu hamil naik dan “meminta” tempat duduknya. Dinda pun ngomel di jejaring sosial Path, yang intinya mengeluhkan sikap ibu hamil tadi yang menurut dia main enaknya aja, minta belas kasihan hanya karena hamil. Keluhannya itu pun menyebar di jejaring sosial. Dinda pun di-bully karena tidak dianggap empati pada ibu hamil.

Ya, tampaknya rasa empati atau kepedulian pada orang lain makin luntur. Manusia modern saat ini cenderung mempertahankan egosentris. Makin individualis, egois dan bahkan sadis sekaligus bengis. Tak lagi sensitif terhadap “derita” sesama.

Bahkan dalam lingkup keluarga pun, egoisme itu ada. Tak sedikit para suami yang kurang peka terhadap kerepotan istrinya. Banyak juga kaum istri yang mementingkan dirinya. Gila belanja atau mengejar eksistensi diri tanpa memikirkan kerja keras sang suami. Anak-anak pun, selalu menuntut dimengerti tanpa mau memahami kondisi kedua orang tuanya.

Menumbuhkan rasa empati dan kepedulian itu sangat penting. Para pakar menyebut bahwa kepedulian atau empati merupakan kata kunci dalam tahap akhir kecerdasan emosional. Nah, berikut ini beberapa tips yang dirangkum dari berbagai sumber tentang upaya menumbuhkan empati:

Mengelola Emosi Diri

Cobalah identifikasi sifat-sifat diri yang terkait dengan emosi, antara lain rasa sedih, gembira, kecewa, bangga, senang dan terharu. Cobalah kendalikan berbagai perasaan yang berkembang tadi dan selalu upayakan menempatkannya pada posisi yang proporsional. Setelah mengenali perasaan diri, biasanya seseorang lebih mampu mengendalikan emosinya.

Menempatkan Diri pada Keadaan Orang Lain

Bayangkan jika kita semacam ’tukar nasib’ dengan orang lain. Ini  akan membuat kita memiliki kesanggupan untuk peka terhadap kebutuhan orang lain. Membayangkan kita berada pada kondisi seseorang akan membuat kita memiliki  kesanggupan untuk turut merasakan apa yang sedang dialami orang tersebut.  

Melihat Masalah dari Sudut Pandang Orang Lain

Cobalah kita menyelami dan memasuki dunia  mereka. Cobalah memandang masalah dari sisi tersebut. Dengan demikian, pihak lain tidak saja hanya merasa dimengerti, tapi ia merasa lebih disukai.

Jadilah Pendengar yang Baik

Cobalah dengarkan dan resapi, apa sebenarnya yang dihadapi orang lain. Termasuk, ‘dengarkan’ isyarat-isyarat non verbal dari pihak lain tersebut. Sebab, seringkali bahasa tubuh dan tekanan suara lebih efektif menggambarkan perasaan sebenarnya dibanding sekadar ucapana.

Menghayati Fakta Sekitar dengan Hati

Seperti kasus Dinda, ketika melihat ibu hamil berdiri di KRL yang penuh sesak, cobalah berpikir dengan hati betapa beratnya apa yang dialami ibu tersebut. Dalam keadaan normal –tidak hamil—saja sungguh lelah dan tersiksa berdiri, terlebih hamil. Langkah ini biasanya berlanjut dengan kesanggupan menempatkan diri dalam keadaan orang lain.

Latihan Berkorban untuk Orang Lain

Tanamkan pada diri dan anak-anak sifat bersedia mementingkan orang lain. Empati sangat berhubungan dengan kesediaan berbuat baik, menolong, membantu atau berderma. Bersiaplah untuk pengorbanan waktu, tenaga atau harta guna membantu meringankan beban orang lain atau sebagai wujud kontribusi terhadap pengentasan nasib pihak lain.

Bergaul dengan Berbagai Lapisan

Jangan membatasi diri bergaul dengan satu kelompok atau segmen tertentu saja, perluaslah pergaulan dengan berbagai lapisan masyarakat. Pemikiran akan semakin terbuka bahwa banyak realitas yang membutuhkan perhatian. Dengan bergaul dan mengetahui kehidupan berbagai lapisan masyarakat, kita bisa bercermin untuk tidak banyak mengeluh, tidak banyak menuntut, dan tidak egois karena ternyata masih banyak orang lain yang tidak menemukan kondisi ideal, bahkan jauh dari apa yang sudah kita lampaui. Dari sini pun akan muncul rasa syukur dan empati pun akan tumbuh.

Demikianlah, sifat empati sebenarnya juga merupakan salah satu keutamaan sebagaimana sabda Rasulullah SAW untuk saling berkasih sayang dengan sesame. Sabda beliau, "Jalinan kasih sayang antara kaum Muslimin ibarat satu tubuh. Bila ada satu anggota tubuh sakit maka anggota tubuh lainnya akan merasakan hal yang sama." (HR. Bukhari dan Muslim). Wallahu’alam.(kholda)

 

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved