[135] Gara-gara Kitab Nizham Al Islam PDF Print E-mail
Tuesday, 23 September 2014 14:21

Anda kenal Syeikh Yusuf Ahmad Mahmud As Sabatiin atau yang akrab disapa Abu Izz? Sangat mungkin tidak kenal, bahkan aktivis Hizbut Tahrir Indonesia pun sangat mungkin banyak yang tidak mengenalnya. Namun demikian, prestasi dakwah salah satu generasi awal Hizbut Tahrir ini tidak diragukan lagi.

Sejak kenal Hizbut Tahrir hingga wafatnya, Abu Izz tak kenal lelah berdakwah. Selain aktif menulis syair/qasidah di majalah Alwaie edisi Arab, ia pun setidaknya menulis sembilan kitab untuk membangkitkan umat.

Bahkan di usianya yang ke-73, ia diamanahi untuk mengamati isi khutbah di beberapa masjid. Kemudian, ia membuat naskah-naskah khutbah untuk para khatib atau untuk pengajian-pengajian di berbagai masjid dengan materi yang bersifat menyadarkan dan meningkatkan taraf pemikiran umat.

Dalam menjalankan aktivitas dakwahnya tentu saja tidak mulus, berkali-kali dirinya ditangkap dan dipenjarakan para penguasa zalim. Di masa mudanya pun setidaknya ia terlibat perang mengangkat senjata melawan Yahudi. Kesulitan sandang, pangan dan papan ketika harus mengungsi ke kamp pengungsian pun dijalaninya. Namun, itu semua tidak membuat Abu Izz meninggalkan dakwah hingga akhir hayatnya di usia 77 tahun.

Awalnya Tidak Peduli

Lelaki kelahiran Palestina pada 1928 pernah berjihad angkat senjata melawan Yahudi pada 1948.  Saat itu, pasukan dari Mesir dan Sudan datang untuk melatih para pemuda Palestina menggunakan senjata. Tim-tim kecil pasukan tersebut mendatangi desa-desa untuk merekrut dan melatih pemuda untuk berperang. Walau pun sempat dilarang ikut, namun Abu Izz tetap bersikeras untuk ikut kelas pelatihan.

Di tahun itu juga, ia bertempur bersama para mujahidin lainnya menyerang gerombolan Yahudi  berserta mobil yang sarat dengan bawaan. Ia terlibat langsung berperang melawan pendudukan Yahudi di tiga desa yang berbeda pada tahun yang sama.

Perang terus berkecamuk, mengharuskan keluarganya dan ribuan kaum Muslim lain meninggalkan lahan pertanian dan tempat tinggal mereka.  Kemudian mengungsi untuk menghindari pembantaian terhadap warga desa sebagaimana terjadi di desa-desa lain. Ia dan keluarganya pun mengungsi ke kamp pengungsian.

Meski di pengungsian, kehidupan harus tetap jalan. Sesuai keahliannya di bidang matematika dan bahasa Arab, ia pun diterima menjadi guru di SMA ‘Ain Sultan. Semasa mengajar di sekolah tersebutlah ia pertama kali mengenal Hizbut Tahrir.

Awalnya Abu Izz diajak temannya—seorang guru—bertemu Ahmad Husain, seorang aktivis Hizbut Tahrir. Ia cuek saja karena merasa sudah berkomitmen dengan akidahnya. Pulangnya, Ahmad Husain pun menghadiahkan kitab Nizham Al Islam.

Dan ketika dibaca, Abu Izz sangat kagum terhadap isi pembahasan kitab tersebut. Merasa tercerahkan dan ingin menularkannya kepada yang lain, ia pun langsung mengumpulkan orang-orang di sekitarnya.

“Aku kumpulkan sebagian orang dan aku perdengarkan kepada mereka apa-apa yang terdapat dalam kitab tersebut tanpa seorang pun yang mengetahui bahwa kitab itu dari Hizbut Tahrir,” ungkapnya dalam kitab otobiografi memoar pengemban dakwah Mudzakarat Hamil ad Da’wah yang dipublikasikan keluarga setelah ia berpulang ke rahmatullah pada 3 Juli 2005.

Di sekolah, ia pun menjadikan kitab karya pendiri Hizbut Tahrir Al Allamah Syeikh Taqiyuddin An Nabhani tersebut sebagai bahan diskusi dengan guru yang berafiliasi ke partai komunis. “Seringkali ketika saya tidak dapat menjawab, saya kembali mengkaji kitab Nizham Al Islam dan kembali berdiskusi untuk memberikan jawaban kepada guru tersebut,” tulisnya.

Selang beberapa waktu, guru tersebut bersama keempat temannya datang ke tempat tinggal Abu Izz di Kamp Al Nuwai’amah untuk mengkaji Nizhamul Islam.

Tak ketinggalan pula, Abu Izz mentransfer pemikiran yang ada dalam kitab tersebut kepada siswa-siswa di beberapa kelas yang diajarnya. Dan didiskusikan juga dengan guru-guru di kelas-kelas tersebut. “Maka tersebar luaslah namaku di antara para siswa, guru-guru dan di masjid-masjid dan warung-warung kopi,” ujarnya.

Menyadari kewajiban berdakwah berjamaah, ia pun bersedia bergabung bersama Hizbut Tahrir. Maka dikenalkanlah Abu Izz kepada aktivis Hizbut Tahrir Syeikh Hasan Sulthanah yang mengajar di sekolah Hisyam bin Abdul Malik di Jericho. Dan Syeikh Hasanlah menjadi pembina pertama Abu Izz.

Dakwahnya semakin kencang. Karena itu pula, berkali-kali dirinya masuk penjara. Mulai dari penjara di Kota Salt, Mahathah, Turkarm sampai Al Khalil. Penangkapan terhadapnya pun dilakukan dengan berbagai cara, kapan pun dan di mana pun dirinya berada.

Pada penangkapan 1987 misalnya. Seseorang menelepon Abu Izz dan memintanya bertemu di Bayadir Wadi As Saiir untuk mengenal ide Hizbut Tahrir lebih lanjut. Tanpa curiga, ia memenuhi permintaan tersebut. Sesampainya di lokasi dan bertemu si penelepon, ia pun ditangkap. Barulah Abu Izz sadar bahwa dirinya sedang dijebak intelijen negara. Maka Abu Izz pun diseret ke mobil untuk dibawa ke tahanan di departemen intelijen.

Namun itu semua, tidak membuatnya jera untuk tetap mengemban dakwah. Sampai akhir hayatnya, ia tetap berdakwah dan membina kelompok-kelompok pembinaan.

Kitab Karyanya

Kitab Nizham Al Islam benar-benar membekas di benaknya dan menjadi inspirasi bagi dirinya untuk menulis kitab Al Aqidah Al Islamiyah wa Atsaruhaa fi Hayati al Islamiyyah (akidah Islam dan pengaruhnya terhadap kehidupan Islam) dan kitab Thariq Al Izzah (jalan kemuliaan).

Selain itu, ia pun menulis tujuh kitab lainnya. Termasuk buku yang berkaitan dengan bisnis Islami Buyu’ Al Qadimah wa Al Muashirah (Transaksi dulu dan kontemporer) dan buku yang menyanggah fitnah terhadap Hizbut Tahrir  Tabshirah (penjelasan).

Buku Tabshirah berisi bantahan terhadap tuduhan dan mengungkap kebohongan-kebohongan Dr Shadiq Amin yang memfitnah Hizbut Tahrir dalam bukunya Ad Da’wah al Islamiyyah Faridlatun Syar’iyyatun wa Dlaruratun Basyariyatun.

Dalam buku Thariq Al Izzah, Abu Izz mengatakan satu-satunya jalan untuk menuju kebangkitan adalah melalui peningkatan taraf  berpikir (al irtifa’u al fikriy) umat berkaitan dengan pandangan hidup (ideologi).

Yang dimaksud dengan peningkatan taraf berpikir, lanjut Abu Izz, adalah proses/perpindahan dari aspek hewaniyah kepada aspek insaniyah. Jadi, berpikir untuk sekadar mendapatkan makanan adalah suatu bentuk berpikir, akan tetapi pemikiran semacam itu adalah pemikiran yang rendah/primitif, karena semata-mata memenuhi kebutuhan jasmani. Adapun berpikir tentang bagaimana cara memperoleh makanan yang halal adalah pemikiran yang lebih tinggi daripada pemikiran sebelumnya.

Dan tentu saja kebangkitan yang benar tersebut hanya akan muncul, “apabila peningkatan taraf berpikir ini didasarkan pada suatu asas ruhy (rohani),” tegasnya. Yaitu atas dasar keyakinan bahwa alam semesta, manusia dan kehidupan adalah makhluk yang diciptakan dan diatur oleh Allah SWT. “Maka kebangkitan tersebut adalah kebangkitan yang benar,” pungkasnya.[] m ali dodiman/joy

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved