[127] Semua Capres Berpotensi Jadi Boneka Asing PDF Print E-mail
Thursday, 22 May 2014 13:54

Ray Rangkuti, Direktur Eksekutif Lingkar Madani

Rakyat sengsara, karena selama ini presiden pilihannya menjadi boneka asing. Untuk meraup suara rakyat, maka menjelang Pileg 9 April lalu, calon presiden Prabowo pun melontarkan jargon yang menuding capres lainnya boneka. Benarkah yang lain boneka tapi Prabowo tidak? Temukan jawabannya dalam wawancara wartawan Media Umat Joko Prasetyo dengan Direktur Eksekutif Lingkar Madani Ray Rangkuti. Berikut petikannya.

Apakah Anda melihat Amerika berkepentingan pada pilpres 2014?

Tentu saja bukan hanya Amerika, menurut saya banyak negara, bahkan negara sekecil Singapura saja punya kepentingan.

Untuk apa?

Kepentingan nasional mereka di Indonesia tetap berlangsung.

Siapa capres yang paling mungkin mengakomodasi kepentingan asing?

Kita ini susahnya, antara jargon dengan fakta itu berbeda. Kalau dilihat jargon-jargonnya luar biasalah, seakan-akan mereka tidak mempunyai kepentingan dengan negara-negara tertentu.

Tetapi itu jargon, begitu susunan kabinetnya dibuka... wuah.. itu memperlihatkan kecenderungan mereka kepada negara-negara tertentu. Oleh karena itu, sulit mendeteksi dari awal, siapa kira-kira yang bakal menjadi agen dari negara-negara asing.

Tanggapan Anda dengan pernyataan capres Prabowo yang menyebut capres lainnya adalah boneka asing?

Itu adalah kampanye negatif (negative campaigne). Ia mencoba mengasosiasikan lawan politiknya secara negatif. Negatif ya, bukan kampanye hitam (black campaigne). Namun, kalau menyatakan segala serba impor sebenarnya itu pasnya konteksnya pada Pak SBY ya.

Dan itu kan kritik Pak Prabowo terhadap pengelolaan sistem ekonomi yang sebenarnya sudah diperkenalkan sejak zaman Orde Baru, zaman mertuanya berkuasa! Hanya saja, lebih meluap-luap lagi dalam 10 tahun terakhir ini.

Nah, persoalannya, justru Pak Prabowo yang lebih dekat dengan Pak SBY sekarang. Sudah beberapa kali Pak Prabowo diundang Pak SBY, bahkan menjelang pemilu legistlatif kemarin pun mereka berdua mengadakan pertemuan. Membahas apa? Saya tidak tahu.

Jadi memang kita melihatnya tidak boleh berhenti pada jargon serba impor, bahkan jengkol dan garam pun impor tapi pada saat yang bersamaan tidak jelas sikap Prabowo atau Gerindra terhadap penguasaan sumber daya alam kita oleh asing.

Maka kita juga harus melihat rekam jejak (track record) dirinya maupun partai yang dibuat dan dipimpinnya seperti apa.

Bagaimana rekam jejak Prabowo dan Partai Gerindranya?

Konteksnya dulu ya. Kalau konteksnya HAM kan kita semua sudah tahu, dia tersangkut masalah HAM pada Reformasi 1998. Saat menjadi Dansus, pasukan di bawah pimpinannya Tim Mawar melakukan penculikan para aktivis reformasi. Delapan orang dilepaskan dan 13 orang tidak diketahui nasibnya hingga sekarang.

Meski belakangan ia menyatakan tidak tahu menahu dengan yang 13 orang, tapi kan itu dinyatakan baru-baru ini dan bukan di persidangan.

Apakah betul ada kelompok selain Tim Mawar yang bergerak? Sampai sekarang juga kan tidak diungkap. Karena menurut saya, peradilan HAM dan peradilan militer atas kasus ini tidak tuntas karena tiba-tiba Pak Prabowo sudah dicopot jabatannya namun tidak pernah dimintai keterangan di persidangan sebagai terdakwa atau pun saksi.

Kalau masalah ekonomi, jujur, di luar jargon, saya tidak melihat action dia begitu juga dengan Gerindranya.

Contoh?

Sekarang saja, Prabowo atau Gerindra tidak sangat keras menolak penambahanan waktu  sampai tahun 2040 eksploitasi Freeprot di Papua itu. Apa reaksinya? Kita tidak lihat kan?

Tapi kan Gerindra saat ini bukan partai berkuasa?

Tidak boleh alasannya “kami kan partai kecil” atau tidak berkuasa. Tetapi yang dilihat adalah reaksi Anda seperti apa atau sikap Anda seperti apa. Sikap itu kan harus dikomunikasikan kepada publik.

Kan tidak ada sekarang, misalnya, dengan cara yang sangat keras Gerindra meminta rapat dengar pendapat dengan warga Papua khususnya. Atau minta menteri ESDM datang ke DPR untuk ditanyaain mengapa ada isu Freeport mau diperpanjang masa operasinya. Atau masalah Ceremai yang pengelolaan panas buminya mau diserahkan kepada Chevron. Lagi-lagi Gerindra diam.

Artinya, kalau betul bukan boneka juga dengan artian harus mandiri, Prabowo dan Gerindra-nya harus memprotes keras kebijakan-kebijakan yang tidak mandiri itu. Persoalan protesnya didengar atau tidak itu soal lain. Yang penting sikap Anda tegas. Tidak bisa hanya jargon saja.

Dan tentu, rekam jejak Prabowo bisa dilihat dari sikap Gerindra juga. Maka, nasionalisasi dan anti impor itu tidak boleh hanya dijadikan jargon. Tetapi harus ditunjukkan juga dengan sikap yang tegas.

Bagaimana dengan Jokowi apa berani mengatakan “tidak” kepada asing?

Bukankah Pak Prabowo besar dan mendapatkan simpati rakyat karena jargon tersebut? Prabowo ke mana-mana kan jualan isu itu. Dan dengan sendirinya dia mendapat simpati publik dengan isu itu sebetulnya. Dan Jokowi pun sedikit banyak begitu.

Ingat, Pak Jokowi kan hampir menolak bantuan dari ADB dan World Bank terhadap proyek JEDI, proyek pembuatan kanal atau apa, begitu ya. “Nah, kalau begitu tida usah bantu,” begitu kira-kira penolakan Jokowi ketika melihat banyak syarat dan bunganya terlalu tinggi. Namun World Bank dan ADB terus melobi akhirnya Jokowi setuju.

Mengapa terjadi pertemuan antara para dubes asing termasuk Amerika dan Vatikan dengan Jokowi di rumah seorang pengusaha Cina?

Ya, seperti yang saya sebut di awal. Tidak ada yang tidak berminat kepada republik kita. Kita ini menurut mata asing adalah bintang masa depan. Karena itu, semua orang berkepentingan, semua orang ingin bertemu. Itu sebenarnya. Nah, dibukalah kran itu oleh Jokowi.

Mengapa Jokowi?

Kita melihat ada indikasi betapa ketakutannya negara-negara asing terhadap isu kita. Kita kan isunya secara umum adalah kemandirian. Sehinga mereka harus memastikan, bahwa calon presiden–yang  menurut mereka paling kuat keterpilihannya—tidak mengganggu aset-aset mereka di Indonesia.

Kalau ARB?

Pertama, kalau kita ikut politik kemandirian, masalahnya kan dia adalah konglomerat! Kedua, kalau saya sebut bahwa kita ingin merevisi kontrak-kontrak sumber daya alam kita dengan negara-negara asing, lha dia kan juga main di situ (ikut mengeksploitasi sumber daya alam, red). Repot saya kalau mengharap beliau.

Kalau capres lain?

Kita tidak usah bicara yang lain lagi, karena yang paling potensial hanya tiga.

Kalau Wiranto?

Sudahlah, kita bicara yang kongkretlah (yang peluang jadi capres pemilu 2014 nya lebih besar, red).

Jadi kesimpulannya, semua capres yang ada berpotensi jadi boneka asing?

Saya pikir semuanya berpotensi menjadi boneka. Sekarang kan capres yang menonjolkan hanya Pak Prabowo, Pak Jokowi, dan ARB. Secara umum kan hanya mereka bertiga, yang lainnya tipis sekali lah bisa ikut pilpres 2014. Nah, saya pikir ketiganya bisa jadi agen kepentingan asing.[]

 

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved