media-umat-emansipasi

Emansipasi Wanita Dalam Bibel

Kembali lagi kita berjumpa di bulan April, bulan yang yang dijadikan kaum Feminis untuk mengampanyekan opini-opini emansipasi wanita. Apa itu emansipasi? Emansipasi adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sejumlah usaha untuk mendapatkan hak politik maupun persamaan derajat di bidang sosial. Dan umumnya istilah ini dipakai dalam konteks antara wanita dan laki-laki.

Lalu bagaimana sejarah munculnya emansipasi wanita? Gerakan emansipasi wanita muncul dari Barat. Dalam sebuah Ensiklopedia, kutipan sebuah hasil rapat dua konferensi kegerejaan mengenai wanita yang dilaksanakan di Roma tahun 582 M mengeluarkan komunike:

”Wanita adalah mahluk yang tidak mempunyai jiwa dan oleh sebab itu selamanya tidak akan menikmati taman Firdaus dan tidak masuk kerajaan langit. Wanita adalah kekejian perbuatan setan, tidak ada hak bicara dan tertawa dan tidak boleh memakan daging, bahkan setinggi-tingginya hak dia adalah menghabiskan semua kesempatan untuk melayani laki-laki tuannya, atau menyembah Tuhan Allah”. (Encyclopedie La Rousse, kata Femme).

Demikian buruknya pandangan gereja terhadap wanita, sehingga kondisi wanita di Barat terus berjalan dari yang buruk kepada yang lebih buruk hingga abad ke-17 M. Ketika itu wanita di Barat berada pada level perbudakan dan kehinaan yang paling rendah.

Di Inggris ada undang-undang yang memperbolehkan laki-laki menjual istri-istrinya seharga 6 pounsterling. Sekitar tahun 1790, harganya menjadi 2 sen. (Abbas Akkad : Al-mar’ah fil al-Qur’an, hal.192.)

Sehingga kemudian muncullah feminisme.  Gerakan ini muncul pada 1785 berawal dari perkumpulan terpelajar kalangan bangsawan di Middleburg-Belanda. Dari Belanda gerakan ini menyebar ke seluruh Eropa dan Amerika, dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu & Marquis de Condorcet. Sejatinya, gerakan feminisme muncul sebagai akibat ketidakpuasan wanita terhadap hukum-hukum Bibel, sebagai bentuk protes terhadap norma-norma sosial saat itu, norma-norma yang didominasi oleh gereja pada abad 18,  yang menindas wanita.

Bagaimana norma-norma gereja yang menindas kaum wanita di Barat? Berikut beberapa ayat dari Bibel:

Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari wanita ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah. (1 Korintus 11:3)

Aku tidak mengizinkan wanita mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri.  Karena Adam yang pertama dijadikan, kemudian barulah Hawa. Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan wanita itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa. (1 Timotius 2:12-14)

Apabila ada seorang menjual anaknya yang wanita sebagai budak, maka wanita itu tidak boleh keluar seperti cara budak-budak lelaki keluar.  (Keluaran 21:7)

Ajaran Bibel mengatakan bahwa laki-laki lebih tinggi dari wanita secara mutlak dalam hal apapun. Bahkan tidak ada kesamaan derajat antara wanita dan laki-laki dalam ketakwaan kepada Allah. Wanita berada di level yang paling rendah.

Wanita juga dilarang membagikan ilmunya kepada siapapun. Ini yang masih diikuti gereja Katholik, sehingga dalam biara, walaupun di komunitas biarawati yang kesemuanya adalah wanita, tapi pengajar tetaplah Pastor (pendeta laki-laki).

Apalagi memberikan perintah, suruhan atau kata-kata yang menyuruh apapun kepada laki-laki, berapapun umur mereka. Karena wanita mempunyai derajat yang lebih rendah dari laki-laki.

Tak hanya sampai di situ, Bibel pun menuduh wanita lah sebagai penyebab dosa yang dilakukan Nabi Adam as. Dan yang lebih mengejutkan lagi, dalam Bibel pun ada ayat-ayat tentang pro-perbudakan. Bukannya melarang perbudakan, tapi bahkan memperbolehkan seorang ayah menjual anak wanitanya untuk dijadikan budak.

Sungguh, ini berbeda jauh dengan ajaran-ajaran Islam. Dalam surah an Nisa (4):34, wanita pun mendapat kesempatan untuk menjadi mulia di mata Allah SWT. Dalam hal ketakwaan kepada Allah SWT, tidak dibedakan wanita dan laki-laki.

Islam justru datang membebaskan wanita. Islam hadir sebagai ideologi pembaharuan terhadap budaya-budaya, terhadap doktrin-doktrin gereja yang menindas wanita, mengubah status wanita secara drastis. Tidak lagi sebagaisecond creation (mahluk kedua setelah laki-laki) atau penyebab dosa. Justru Islam mengangkat derajat wanita sebagai sesama hamba Allah seperti halnya laki-laki.

Jika ada umat Islam yang ikut-ikutan latah mengkampanyekan ide-ide feminisme dalam rangka emansipasi wanita, maka sungguh, dia adalah Muslim yang buta dengan ajaran-ajaran Islam!