Sebut Khilafah Bisa Menghapus Indonesia di Peta, Jaksa Agung Dinilai Memonsterisasi Dakwah Islam PDF Print E-mail
Tuesday, 06 June 2017 15:45

Mediaumat.com - Pernyataan Jaksa Agung HM Prasetyo di DPR pagi tadi yang menyebut ‘paham HTI dengan visi khilafahnya secara tak langsung dapat membuat Indonesia terhapus dari peta dunia’ dinilai sebagai upaya rezim represif untuk memonsterisasi dakwah Islam.

“Tentu saja orang akan merasa takut, padahal tidak ada HTI itu berfikir seperti itu,” sanggah  Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Muhammad Ismail Yusanto kepada mediaumat.com, Senin (5/6/2017) di Kantor DPP HTI, Jakarta Selatan.

Menurutnya, sekarang ini memang tengah berjalan politik labelisasi, orang atau kelompok tertentu dilabeli anti Pancasila setelah itu kemudian dilakukan monsterisasi. Yakni upaya untuk menggambarkan seolah-olah orang atau kelompok yang telah dilabelisasi tersebut sangat menakutkan.

“Setelah itu kemudian orang atau kelompok yang sudah dimonsterisasi itu seolah-olah sebagai musuh,  musuh masyarakat, sebagai musuh negara. Sehingga nantinya kalau negara melakukan tindakan keras di luar jalur hukum pun dianggap absah,” beber Ismail.

Selain itu, dalam pertemuan dengan DPR pagi tadi juga Jaksa Agung HM Prasetyo menyatakan gerakan HTI yang membawa-bawa simbol agama untuk menjadi ideologi negara dapat menimbulkan gejolak dari penganut agama lain.

“Kalau memang yang didakwahkan HTI itu benar-benar menimbulkan gejolak harusnya kan sudah muncul dari dulu. Tapi kan tidak. Karena apa? Karena yang didakwahkan HTI itu adalah bagian dari ajaran Islam, baik terkait syariah maupun khilafah itu ajaran Islam yang memang rahmatan lil alamin,” ujarnya.

Ajaran Islam tersebut, lanjut Ismail, disampaikan baik-baik, orang akan mengerti. Kalaupun tidak setuju, orang membantahnya juga baik-baik. Akhirnya, tumbuh di tengah-tengah masyarakat suasana dialogis, suasana yang saling menenggang. Justru itu yang sehat, yang selama ini dilakukan HTI.

“Nah, baru sekarang ini saja kita berhadapan dengan rezim yang tanpa sebab, tiba-tiba melabeli dengan aneka tudingan dan penilain-penilain yang menimbulkan rasa takut di tengah masyarakat,” tegasnya.

Menurutnya, publik harus mengetahui politik jahat yang dikembangkan rezim yang menggunakan cara-cara politik kotor seperti itu. Sementara di saat yang sama ada banyak sekali perkara-perkara yang semestinya dilabeli dengan label yang buruk lalu dimonsterisasi. Seperti misalnya, narkoba. Kurang bahaya apa sindikat narkoba? Bukan harus dimonsterisasi tetapi memang sudah menjadi monster.

“Begitu juga para koruptor yang sejatinya memang monster karena merusak negara ini. Kemudian gerakan sparatis, lalu gerakan liberalis, LGBT, semua itu adalah kerusakan-kerusakan di tengah masyarakat yang nyata yang lebih tepat disematkan dengan label-label buruk dan dicitrakan sebagai sesuatu yang menakutkan di tengah-tengah masyarakat,” pungkasnya.[] Joko Prasetyo

 

Untuk menambah keberkahan, disarankan untuk menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya.

Developed by SmileBizMedia. All rights reserved